109 Tahun Kiprah ‘Aisyiyah: Kesalehan Ekologis Perempuan Penjaga Bumi dan Ketahanan Pangan Keluarga
Oleh: Amalia Nur Milla, Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PW Aisyiyah Jawa Barat
Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga bumi. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun ini bertema World Environment Day 2026: A Global Call for Climate Action, #NowForClimate, mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang kita hadapi hari ini: perubahan iklim global, pencemaran, banjir, kekeringan, kerusakan hutan, dan persoalan sampah yang semakin kompleks. Di tengah tantangan tersebut, gerakan perempuan memiliki peran penting dalam membangun budaya hidup yang ramah lingkungan. Aisyiyah menjadi salah satu contoh organisasi perempuan yang konsisten mengintegrasikan dakwah, pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan & ekonomi keluarga serta pelestarian lingkungan hidup melalui aksi nyata.
Amanah Kemanusiaan dan Keshalehan Ekologis
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan hidup bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi bagian dari amanah keagamaan. Manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, pemakmur dan penjaga bumi. Al-Qur’an melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi dan mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan) dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi."
(QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan pengelola yang diberi amanah. Karena itu, eksploitasi sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut.
Allah SWT juga mengingatkan:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini ketika dunia menghadapi perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya frekuensi bencana ekologis.
Perilaku yang merusak alam, mencemari air, membuang sampah sembarangan, atau mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan bertentangan dengan nilai-nilai keimanan.
Kerusakan lingkungan juga berkaitan langsung dengan persoalan kemanusiaan. Ketika sungai tercemar, masyarakat kehilangan sumber air bersih. Ketika hutan rusak, banjir dan longsor meningkat. Ketika iklim berubah, petani dan nelayan menjadi kelompok yang paling terdampak. Oleh karena itu menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan manusia, kesehatan, ketahanan pangan, dan keadilan sosial.
Konsep kesalehan ekologis menekankan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan alam. Kesalehan ekologis berarti kesadaran spiritual yang diwujudkan dalam tindakan menjaga bumi, mengurangi kerusakan, dan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana.
Dalam QS. Al-A'raf ayat 56, Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya."
Ayat ini memberikan dasar teologis bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan manifestasi ketakwaan.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesalehan ekologis, karenanya, perempuan sering disebut sebagai penjaga kehidupan (guardian of life) Di banyak keluarga, perempuan berperan dalam pengelolaan rumah tangga, konsumsi pangan, penggunaan air dan energi, serta pendidikan anak. Kebiasaan memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, menanam tanaman pangan, menghemat air, dan mendidik anak mencintai lingkungan sering dimulai dari rumah. Perempuan dapat menjadi agen perubahan yang sangat efektif dalam membangun budaya ekologis.
Kesalehan ekologis perempuan bukan berarti membebankan seluruh tanggung jawab lingkungan kepada perempuan. Sebaliknya, konsep ini menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak, pendidik, dan teladan dalam menjaga keberlanjutan bumi bersama laki-laki dan seluruh masyarakat.
Refleksi Milad 109 Aisyiyah
Sejak berdiri 109 tahun yang lalu (19 Mei 1917), ‘Aisyiyah dikenal sebagai gerakan perempuan Islam yang aktif dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam perkembangan terbaru, isu lingkungan hidup semakin mendapat perhatian sebagai bagian dari dakwah berkemajuan dan pembangunan berkelanjutan. Tema milad 109 Aisyiyah,"Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian" sangat pas untuk terus mewujudkan organisasi ini berkiprah secara nyata dalam dakwah kemanusiaan dan perdamaian.
Beberapa kiprah nyata ‘Aisyiyah dalam menjaga lingkungan hidup antara lain:
1. Pendidikan Lingkungan di Sekolah dan Komunitas
Melalui jaringan sekolah dan komunitas, ‘Aisyiyah mendorong pendidikan lingkungan sejak usia dini. Anak-anak diajak mengenal pentingnya kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan konservasi air. Pendekatan ini penting karena perubahan perilaku ekologis harus dibangun sejak dini, di sekolah-sekolah Aisyiyah dari Tingkat PAUD, dasar dan menengah hingga Perguruan Tinggi.
2. Gerakan Pengelolaan Sampah
Banyak cabang dan daerah ‘Aisyiyah mengembangkan kegiatan bank sampah, pelatihan daur ulang, serta pengurangan penggunaan plastik. Sampah dipandang bukan sekadar limbah, tetapi juga sumber daya yang dapat dikelola secara produktif dan bernilai ekonomi. Pengelolaan dan pemanfaatan sampai dimulai dari hulu, dari sumbernya yitu di rumah.
3. Ketahanan Pangan Keluarga
‘Aisyiyah juga mendorong pemanfaatan pekarangan untuk menanam sayuran, tanaman obat, dan pangan lokal. Gerakan ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mengurangi jejak karbon dari distribusi pangan jarak jauh. Gerakan lumbung hidup Aisyiyah (GLHA) yang menjadi program Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan juga bersinergi dengan program Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah. Kegiatan ini memperkokoh ketahanan pangan keluarga, menghemat pengeluaran ekonomi rumah tangga dan menjaga lingkungan.
4. Islamic Green School
Konsep Islamic Green School yang mulai dikembangkan di berbagai sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan praktik ramah lingkungan dan mengintegrasikan dalam kurikulum di sekolah. Sekolah didorong menjadi ruang belajar yang bersih, hijau, hemat energi, dan peduli terhadap pengelolaan sampah serta tindakan green lainnya.
5. Dakwah Lingkungan dan Kesadaran Publik
Melalui pengajian, pelatihan, dan kegiatan sosial, ‘Aisyiyah menyampaikan pesan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Dakwah semacam ini penting untuk mengubah cara pandang masyarakat dari “lingkungan sebagai urusan teknis” menjadi “lingkungan sebagai tanggung jawab moral dan spiritual”.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengingatkan bahwa solusi ekologis tidak hanya lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dari perubahan perilaku sehari-hari. Perempuan dapat memulai dari rumah: mengurangi sampah makanan, membawa wadah pakai ulang, menghemat listrik dan air, serta menanam tanaman di pekarangan. Ketika praktik-praktik kecil dilakukan secara kolektif, dampaknya menjadi sangat besar.
Di tingkat komunitas, perempuan dapat memimpin gerakan kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi air, dan edukasi masyarakat. Organisasi seperti ‘Aisyiyah, kekuatan jaringan perempuan menjadi modal sosial yang sangat penting untuk membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
Tantangan dan Harapan
Tantangan lingkungan di Indonesia masih besar. Urbanisasi, konsumsi berlebihan, penggunaan plastik sekali pakai, kerusakan ekosistem, dan perubahan iklim membutuhkan kerja bersama. Gerakan perempuan menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, akses informasi, dan dukungan kebijakan. Namun di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat.
Harapannya, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum memperkuat aksi nyata. Organisasi perempuan, termasuk ‘Aisyiyah, dapat menjadi pelopor transformasi ekologis yang berbasis nilai keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menegaskan bahwa Aksi Iklim #NowForClimate* bukan sekadar mengurangi emisi karbon, tetapi juga memperbaiki hubungan manusia dengan bumi dan membangun sistem kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Pesan global ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang keseimbangan (mizan) sebagaimana firman Allah:
"Dan Dia telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan). Maka janganlah kamu merusak keseimbangan itu." (QS. Ar-Rahman: 7–8)
Aksi iklim dalam perspektif Islam bukan hanya urusan teknologi atau kebijakan, tetapi juga perubahan perilaku dan kesadaran spiritual. Setiap pohon yang ditanam, setiap sampah yang dipilah, setiap tetes air yang dihemat, merupakan kontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan bumi.
Pesan penting yang relevan untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia: bumi yang lestari membutuhkan manusia yang beriman, berilmu, dan beraksi, serta perempuan yang berdaya sebagai penjaga keberlanjutan kehidupan.

