Agama yang Menenangkan, Bukan Memenangkan
Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhamamdiyah, Wakil Ketua LLH PB ‘Aisyiyah
Selepas tarawih, langgar kecil di desaku Manjung Kulon, Wonogiri penuh dengan jamaah sholat isya dan lanjut dengan tarawih. Usai tarawih, banyak meja – meja bulat dan meja keil secara berkelompok melakukan tadarus. Lampunya terang dan bacaan tidak semuanya cepat, ada banyak yang lambat dan pelan karena setiap kelompok beda – beda kemahirannya dalam membaca Al Qur;an. Mushaf-mushaf lama tersusun di rak kayu, beberapa sudah mulai lepas jilidnya. Angin malam membawa bau angin segar dan meja kayu yang menyimpan usia.
Orang-orang datang dengan sajadah, mukena. Meraka datang tanpa undangan.
Ada yang masih mengenakan baju koko, ada yang berbatik dan semua merayakan Ramadan dengan caranya. Ada yang membawa anaknya lalu tertidur di sebelahnya sholat. Ada yang duduk lama sebelum membaca, seolah menenangkan pikiran terlebih dahulu setelah seharian bekerja. Tidak semua fasih tajwid, tidak semua lancar. Satu per satu membaca, kadang berhenti, kadang dibetulkan pelan.
Tidak ada yang menertawakan.
Tidak ada yang merasa lebih alim.
Di tempat seperti itu, agama tidak terdengar keras.
Yang terdengar hanya halaman mushaf dibalik, suara serak menahan kantuk, dan sesekali gumaman pelan memperbaiki bacaan. Di sudut ruangan, the manis panas dan kental dengan kue – kue menjadi hidangan. Seseorang membawa gorengan dan kue yang di bagi dalam setiap meja.
Agama hadir sebagai kebiasaan baik: menemani, bukan memenangkan.
Malam itu mataku sampai pada sebuah ayat, QS. Al Baqarah 177, ayat yang sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan secara utuh:
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 177)
Ayat ini sesungguhnya menggeser cara kita memahami agama.
Seringkali agama dipersempit menjadi penanda identitas: arah yang benar, simbol yang tepat, atau posisi yang jelas. Padahal ayat ini justru dibuka dengan penegasan bahwa kebajikan bukan soal arah wajah. Bukan dimulai dari tampilan luar, melainkan dari arah batin.
Allah memulai dari iman—sesuatu yang tak terlihat—lalu segera menghubungkannya dengan berbagi—sesuatu yang sangat terasa oleh orang lain.
Menariknya, shalat dan zakat tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran, melainkan berada di tengah rangkaian kepedulian sosial dan integritas pribadi. Ibadah menjaga hati tetap hidup, sementara kepedulian menjaga iman tetap nyata.
Di langgar kecil itu, ayat ini tidak dijelaskan panjang. Ia dipraktikkan.
Ada yang selalu membawa teh panas karena tahu jamaah dimalam hari butuh kehangatan.
Ada yang menunggu yang paling tua selesai membaca duluan.
Ada yang tetap datang meski seharian di sawah dan badan capai.
Ada yang shadaqah untuk makan bersama di langar tanpa menyebut berapa sedekahnya agar harga diri tetap terjaga.
Tak ada pengumuman. Tak ada dokumentasi. Namun semua merasakan.
Di situlah makna “menepati janji” menjadi nyata: kehadiran yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Bukan janji besar, melainkan kesediaan untuk tetap dapat dipercaya.
Ayat ini kemudian menutup dengan sabar—bukan sabar yang pasif, melainkan sabar saat sempit, sakit, dan terguncang. Sabar yang sering tidak disaksikan siapa pun selain Allah.
Ramadan melatih jenis kesabaran ini. Menahan lapar hanyalah awal, menahan reaksi adalah pelajaran berikutnya, dan menahan ego adalah tujuan sebenarnya.
Perlahan kita belajar bahwa takwa bukan pengalaman spiritual yang melayang, melainkan karakter yang terasa oleh orang lain. Orang yang bertakwa tidak selalu paling banyak berbicara agama, tetapi menghadirkan ketenangan; tidak selalu tampak paling benar, tetapi dapat dipercaya; tidak selalu di depan, tetapi dicari saat keadaan sulit.
Kebaikan akhirnya bukan peristiwa besar, melainkan kebiasaan kecil yang terus diulang. Ia tumbuh pelan dalam kejujuran, kepedulian, dan kesetiaan menjalankan amanah sehari-hari.
Ramadan bukan terutama tentang terlihat lebih saleh, melainkan menjadi pribadi yang lebih dapat diandalkan — seseorang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman.

