AI Masuk Sekolah, Akhlak ke Mana?
Oleh: Dr. Edi Sugianto, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Aktivis Muhammadiyah Rawamangun
Fenomena Artificial Intelligence (AI) di sekolah semakin nyata di Indonesia. Banyak siswa mulai menggunakan AI untuk membantu belajar dan mengerjakan tugas, tetapi muncul kekhawatiran terhadap ketergantungan, kejujuran akademik, dan menurunnya proses berpikir kritis. Pemerintah menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti guru, sehingga pemanfaatannya perlu tetap diarahkan pada pembentukan karakter dan etika peserta didik (Kemendikdasmen, 5/2/2026).
Mengapa penggunaan AI di sekolah yang seharusnya mendukung pembelajaran justru dapat memunculkan ketergantungan, ketidakjujuran akademik, dan menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa, serta bagaimana nilai-nilai Islam seperti amanah, kejujuran, tanggung jawab, dan adab dapat menjadi solusi dalam mengarahkan penggunaan AI secara bijak?
AI adalah teknologi yang dapat membantu manusia mengolah informasi dan mendukung proses pembelajaran. Menurut UNESCO, penggunaan AI dalam pendidikan perlu dilakukan secara etis, aman, dan bertanggung jawab, sehingga AI menjadi alat bantu, bukan pengganti guru dan proses berpikir siswa.
Pendidikan bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Karena itu, penggunaan AI di sekolah tidak cukup hanya berorientasi pada kemudahan belajar, tetapi juga harus memperhatikan kejujuran, tanggung jawab, dan pembentukan karakter.
Islam menempatkan orang beriman dan berilmu pada kedudukan yang tinggi (QS. Al-Mujadilah, 58: 11). Hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus disertai iman dan akhlak. Dengan demikian, AI sebaiknya digunakan sebagai sarana memperoleh dan mengembangkan ilmu, bukan untuk menggantikan usaha, kejujuran, dan tanggung jawab siswa dalam belajar.
Dampak AI di Sekolah
AI di sekolah bukan masalah karena teknologinya, tetapi karena cara menggunakannya. AI membantu belajar jika digunakan untuk mencari informasi dan mengembangkan ide. Sebaliknya, AI menjadi masalah ketika siswa hanya mengambil jawaban tanpa memahami prosesnya. Menurut penulis, kemudahan AI tidak boleh dibayar dengan hilangnya proses berpikir.
Ketergantungan pada AI dapat membuat siswa terbiasa mencari jawaban instan. Akibatnya, siswa kurang terlatih untuk bertanya, menganalisis, dan memecahkan masalah sendiri. UNESCO menekankan bahwa AI dalam pendidikan harus tetap berpusat pada manusia dan tidak menggantikan kecerdasan manusia (UNESCO, 2023).
Masalah lainnya adalah kejujuran akademik. Menggunakan AI untuk membantu memahami materi berbeda dengan meminta AI mengerjakan seluruh tugas. Menurut penulis, batasnya sederhana: AI boleh membantu pekerjaan, tetapi siswa tetap harus menjadi pemilik pemikiran.
Karena itu, melarang AI bukan solusi utama. Yang lebih penting adalah mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara kritis. Penelitian menunjukkan bahwa AI dapat mendukung berpikir kritis apabila digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi dan mengembangkan gagasan, bukan sekadar menyelesaikan tugas (Rasul et al., 2024).
Dalam perspektif Islam, persoalan ini berkaitan dengan amanah dan kejujuran. Tugas dari guru bukan sekadar untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk melatih kemampuan dan tanggung jawab. Jika AI mengambil alih seluruh proses belajar, siswa mungkin mendapatkan jawaban, tetapi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu.
Menurut penulis, pendidikan AI seharusnya tidak berhenti pada “bisa menggunakan AI”, tetapi harus sampai pada “tahu kapan menggunakan dan kapan tidak menggunakan AI.” Inilah pentingnya menggabungkan literasi teknologi dengan literasi moral.
Dengan demikian, kebaruan pandangan yang dapat ditawarkan adalah AI sebagai mitra berpikir, bukan pengganti berpikir. Siswa boleh menggunakan AI, tetapi tetap harus mampu memeriksa, mengkritisi, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Jadi, ukuran keberhasilan pendidikan di era AI bukan seberapa banyak AI digunakan, melainkan seberapa kuat manusia tetap berpikir dan berakhlak ketika menggunakannya.
Etika Islam Penggunaan AI
Penggunaan AI dalam pendidikan harus dilandasi amanah. Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa [4]: 58). Dalam konteks pendidikan, tugas dan proses belajar merupakan amanah. Karena itu, AI seharusnya membantu siswa belajar, bukan mengambil alih seluruh tanggung jawab belajarnya.
Islam juga sangat menekankan kejujuran. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami” (HR. Muslim). Dalam penggunaan AI, prinsip ini berarti siswa tidak semestinya mengaku sebagai karya pribadi sesuatu yang sepenuhnya dibuat AI. Menurut penulis, masalahnya bukan menggunakan AI, tetapi tidak jujur dalam menggunakannya.
Selain jujur, penggunaan AI membutuhkan tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi. QS. Al-Hujurat [49]: 6 mengajarkan agar berita diperiksa terlebih dahulu sebelum diterima dan disebarkan. Prinsip ini sangat relevan karena AI dapat menghasilkan informasi yang keliru. Karena itu, siswa tidak boleh langsung percaya pada jawaban AI, tetapi harus memeriksa sumber dan kebenarannya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menempatkan adab dan niat sebagai bagian penting dalam menuntut ilmu. Ilmu tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang berakhlak. Jika dikaitkan dengan AI, teknologi seharusnya membantu seseorang memperoleh ilmu dan memperbaiki diri, bukan sekadar memperoleh nilai di atas kertas.
Menurut penulis, prinsip tersebut menunjukkan bahwa AI tidak boleh menjadi jalan pintas dalam mencari ilmu. Siswa tetap perlu membaca, memahami, berpikir, dan menyimpulkan. AI cukup menjadi alat bantu untuk memperluas pemahaman. Dengan demikian, penggunaan AI tetap menjaga tujuan pendidikan Islam, yaitu perpaduan antara ilmu dan akhlak.
Etika penggunaan AI dapat diringkas dalam empat prinsip Islam: amanah dalam menggunakan, jujur dalam mengakui, tabayyun dalam memeriksa, dan beradab dalam belajar. Empat prinsip ini dapat menjadi batas moral agar kecanggihan teknologi tidak mengalahkan tanggung jawab manusia.
Dengan demikian, “AI boleh membantu mencari ilmu, tetapi tidak boleh menggantikan adab dalam mencari ilmu.” Teknologi memberikan kemudahan, tetapi Islam memberikan arah. Karena itu, semakin canggih AI digunakan dalam pendidikan, semakin kuat pula nilai amanah, kejujuran, tabayyun, dan adab harus ditanamkan.
Akhirnya, kehadiran AI menuntut sekolah tidak hanya meningkatkan kecakapan digital, tetapi juga memperkuat kendali moral peserta didik. Teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas wawasan, sementara nilai Islam menjadi kompas dalam menentukan batas penggunaannya. Dengan demikian, kemajuan teknologi tetap berjalan searah dengan tujuan pendidikan: melahirkan manusia yang cerdas sekaligus berkarakter.

