TAKENGON - Suara Muhammadiyah – POSKORDA (Pos Koordinasi Daerah) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) bidang kesehatan berperan aktif memperkuat kesehatan ibu dan bayi korban penyintas. Fokus utamanya adalah pendampingan ibu hamil dan menyusui. Kegiatan ini berkolaborasi dengan LazisMu serta pemerintah untuk meningkatkan akses layanan di Kabupaten Aceh Tengah.
Ketua Bidang Kesehatan Huriah AB yang juga Ketua ‘Aisyiyah Kabupaten Aceh Tengah mengatakan, pemberian bantuan pasca melahirkan diberikan kepada enam ibu yang terdampak bencana tanah longsor dan banjir di Desa Serule, Kecamatan Bintang. Ahad (15/3/2026).
Masing-masing dari mereka dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) Datu Beru untuk mendapatkan penanganan. Keenam ibu tersebut sepenuhnya akan dibiayai oleh tim kesehatan Poskorda Kabupaten Aceh Tengah sejak proses persalinan hingga pasca melahirkan.
Ketua ‘Aisyiyah Aceh Tengah Huriah menyampaikan, “‘Aisyiyah serta Poskorda bidang kesehatan beberapa waktu lalu mengunjungi ibu hamil yang dievakuasi saat bencana longsor Desember 2025 di lokasi penginapan RK Kebayakan.”
“Alhamdulillah, empat ibu hamil yang dirujuk ke Takengon menggunakan helikopter sudah melahirkan. Pimpinan ‘Aisyiyah beserta tim Poskorda berkunjung dan memastikan keadaan pasca melahirkan.
Dalam waktu dekat mereka akan kembali ke Desa Serule dan kemungkinan kami dari semua unsur juga akan membantu mengantar kepulangan mereka.”
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada LazisMu Aceh yang telah membantu kegiatan ini sepenuhnya. Harapan kami ke depan tentunya LazisMu dapat mendukung kegiatan lain yang sudah dicanangkan,” ungkap Huriah.
“Kehadiran ibu-ibu ‘Aisyiyah adalah bukti nyata dedikasi dalam dakwah kesehatan. Ini harus menjadi ruang untuk merumuskan strategi yang lebih fokus dan terarah,” tegasnya.
Ke depan, pihaknya juga akan melakukan konsolidasi untuk memperkuat langkah dakwah kesehatan dengan target yang lebih progresif. ‘Aisyiyah menekankan bahwa program kesehatan berkeadilan perlu segera diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor.
Dengan semangat kolektif, konsolidasi Majelis Kesehatan ini diharapkan menjadi pemantik gerakan kesehatan ‘Aisyiyah yang semakin kuat, adaptif, dan kolaboratif. Seluruh kader dituntut untuk meneguhkan komitmen dakwah kesehatan yang berkeadilan, membumi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas, tutup Huriah. (Agusnaidi B/Riz/Ha)
