SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Tak pelak, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mulai dari hutan, di lautnya, pegunungan, dan lain sebagainya.
Dalam konteks ini, kata Haedar Nashir, Muhammadiyah dengan pandangan Islam berkemajuan, seluruh kekayaan tersebut mesti dikelola sebagaimana semestinya.
"Seluruh kekayaan alam itu harus kita olah sebagai fungsi dari khalifatullah fil ardh, khalifah di muka bumi," tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Dalam pada itu, memang jelaslah diaksentuasikan di Qs al-Baqarah ayat 29, bahwa Allah menciptakan planet bumi dan seluruh komponennya semuanya dipersembahkan untuk hamba-Nya. Di situlah kemudian melahirkan pandangan kosmologi Islam ihwal alam semesta.
"Yakni, alam tidak untuk dikeramatkan, tetapi diolah," tekannya, Jumat (11/9) saat membuka Rapat Kerja Nasional Lembaga Resilensi Bencana (LRB)–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Ngaglik, Klidon, Sukoharjo, Sleman.
Di situlah titik distingsi Islam dengan kapitalisme. Kalau Islam, jelas orientasi upaya merawat dan mengelolanya dengan bijak-bestari.
"Kapitalisme itu merusak, mengeksploitasi. Tapi juga sebaliknya, kita tidak masuk pada fatalisme, membiarkan kekayaan alam itu dibiarkan (rusak), karena justru (kekayaan alam) dihadirkan Tuhan," terang Haedar.
Dari tesmak keislaman, secara komprehensif dan benderang, terdapat kaidah etik dan nilai yang menyasar pada upaya merawat lingkungan alam sekitar. "Mana yang boleh dan tidak boleh, dan sampai jangan kita merusak," tekannya.
Di sinilah relevansi peran sentral LRB membangun ekosistem yang tangguh dalam menghadapi kebencanaan. Pada titik ini, Haedar mendorong agar Muhammadiyah terus memperkuat pengetahuan, sistem, dan edukasi kebencanaan di tengah masyarakat.
"Saya yakin LRB dengan berbagai unsur pembantu pimpinan yang lain itu harus terus membangun ekosistem yang tangguh. Juga memanfaatkan seluruh sumber daya alam kita agar bisa maslahat untuk kehidupan dan tidak menjadi mudarat bagi kehidupan," bebernya.
Demikian penguatan Haedar pada sisi pengetahuan keislaman. Kedua, dari sisi pengetahuan kebencanaan. Negeri ini, singkapnya, sarat berondongan bencana secara sekonyong-konyong.
Namun sekalipun begitu, berjalannya waktu, pengetahuan tentang kebencanaan sudah semakin kokoh dan kuat, sehingga mengetahui secara komprehensif substansi, karakteristik, dan cara menghadapi kebencanaan itu.
"Karena pengetahuan kita tentang bencana makin dalam, makin detail, sehingga itu ter-cover oleh pengetahuan kita. Itulah yang melahirkan konsep frekuensi bencana, jenis bencana, dan sebagainya," ulasnya.
Di situlah pengetahuan kebencanaan menjadi bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang tangguh, mulai dari memahami risiko, meningkatkan kesiapsiagaan, hingga melakukan mitigasi dan penanganan bencana secara tepat.
"Maka, bagaimana pengetahuan tentang kebencanaan itu menjadi tadi, basic kita menghadapi bencana, melakukan resiliensi bencana sampai ke tingkat nanti melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dan seterusnya. Dan itu perlu ilmu, tidak sembarangan," tegasnya.
Namun, Haedar optimis Muhammadiyah mampu di situ. "LRB dan atau MDMC sudah punya pengetahuan itu," terangnya, kendati sampai sekarang tidak stagnan mengekplorasi pengetahuan kebencanaan, namun terus mencari dan menemukan.
"Nah, dalam konteks ini, jika kita ingin tangguh, ya kita harus melakukan edukasi terhadap masyarakat kita," ulasnya. (Cris)

