YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah diakui keberhasilannya dalam mengembangkan amal usaha. Terbukti, berderet amal usaha itu mencakup pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan keagamaan.
Kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, semua itu harus terus ditingkatkan lebih baik lagi. Begitu yang disampaikan saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Selasa (19/5) di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.
“Amal usaha kita sudah cukup banyak. Itu harus membawa ke tingkat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Dengan kata lain, amal usaha harus unggul dan berkemajuan. Menurut Haedar, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sudah mengarah pada titik orientasi itu.
“Tetapi masih perlu lagi ke sana (ditingkatkan, red),” pintanya.
Mengambil sebuah sampel, bidang pendidikan, misalnya. Dari jumlah kumulatif, terdapat lebih dari 22.000 TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) yang dikelola oleh ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia.
Berpokok pangkal dari jumlah tersebut, Haedar minta perlu ada perbaikan agar mengalami perkembangan makin baik dan berkualitas.
“Yang kecil-kecil itu harus dibenahi, agar kualitasnya juga unggul. Biarpun ada di tempat-tempat dan digang-gang sempit,” tegas Haedar lagi.
Untuk sampai ke titik unggul dan berkemajuan, perlu ada transformasi alam pikiran. “Kiai Dahlan, Nyai Walidah mendobrak itu, supaya kita berpikir unggul, berpikir maju,” tekannya.
Begitu gamblangnya, Haedar menyebut, banyak berserakan kalimat tafdhilah di dalam Al-Qur’an yang menyeru kepada segenap umat Islam menjadi unggul dan maju. Bukti konkretnya?
Terdapat di Qs ali-Imran ayat 110 (kuntum khaira ummat, kamu (umat Islam) adalah umat terbaik). Ayat ini yang menjadi api inspirasi lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah.
“Kuntum khaira ummat. Itu kalimat yang imperatif supaya kita unggul,” tekan Haedar.

Demikian pula, terdapat di Qs al-Baqarah ayat 249, Kam min fi'atin qalilatin ghalabat fi'atan katsiratan bi'idznillah. Yang secara redaksional, juga merupakan bagian dari kalimat tafdhilah.
“Yang kecil bisa menjadi kuat dan mengalahkan yang besar. Masa yang besar kalah saya yang kecil,” ujarnya.
Di situlah Haedar mendorong agar saling mengisi dengan daya tinggi berjuang dan bertungkus lumus membesarkan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menjadi unggul dan maju.
“Kita harus bisa menjadi kekuatan yang unggul sebagaimana perjalanan kita,” imbuhnya.
Selain itu, mesti memiliki need for achievement (semangat mencapai tujuan). Yakni dengan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Demikian halnya, orientasi perubahan.
“Perubahan yang progresif atau yang dinamis. Dan dalam konteks ini, saya yakin Muhammadiyah punya kerangkanya pandangan Islam Berkemajuan,” bebernya.
Di samping itu, harus fokus. Haedar menegaskan, apa yang dicita-citakan bisa terwujud manakala fokus dengan yang dikerjakan.
“Mengerjakan sesuatu juga harus fokus. Bahkan di saat kita berat. Jangan tengok kanan kiri dan tergiur dengan program-program yang sebenarnya tidak nyambung dengan apa yang kita lakukan,” tegas Haedar.
Bersamaan dengan itu, harus mampu memobilisasi potensi. Secara kualitas maupun kuantitas, Haedar mengemukakan kalau potensi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sungguh besar. “Jangan dibiarkan potensi itu,” celetuknya.
Serupa itu, Robert King Merton, Sosiolog Amerika Serikat menggarisbawahi potensi yang bersifat laten adalah bahaya jika dibiarkan terpendam, tetapi harus diubah menjadi potensi manifes, sesuatu yang teraktual.
“Lihat anak-anak muda ‘Aisyiyah, beri tantangan baru, benturkan pada realitas. Anak-anak Muhammadiyah juga begitu. Fokus mobilisasi potensi kita,” bebernya.
Yang tidak kalah substansialnya mampu melakukan manajemen perubahan yang baik, manajemen pengembangan, manajemen kemajuan. Menjadi berkemajuan itu perlu manajemen, kata Haedar, menambatkan hal-hal vital lainnya.
“Mana yang strategis, mana yang operasional, mana yang taqdimul aham minal muhim, yang terpenting dan yang penting supaya jangan terus mengawang-ngawang,” tandas Haedar. (Cris)

