Apa Untungnya Masuk IMM?

Suara Muhammadiyah

9 September 2026

379
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Apa Untungnya Masuk IMM?

Oleh: An-Najmi Fikri Ramadhan (Instruktur Nasional IMM)

Jika kamu ditanya, “Mengapa kamu memilih bergabung dengan IMM?”, kira-kira apa jawaban yang akan kamu berikan?

Mungkin karena ingin memiliki teman baru. Mungkin ingin belajar berorganisasi. Ada pula yang ingin belajar public speaking di depan umum, memimpin, atau terlibat dalam kegiatan sosial. Semua jawaban tersebut masuk akal. Namun, ada pertanyaan lain yang jarang dijawab secara tuntas, sebenarnya, apa yang membuat mereka harus masuk IMM?

Pertanyaan ini penting, karena mahasiswa saat ini memiliki banyak pilihan. Ada komunitas profesional, kegiatan sukarelawan, komunitas kewirausahaan, organisasi kampus, hingga ruang belajar di media digital. Masing-masing menawarkan pengalaman yang luar biasa bisa langsung dirasakan. Di tengah banyaknya pilihan itu, apa yang membuat IMM masih layak dipilih?

Ada kegelisahan yang jarang diungkapkan secara terbuka. Banyak mahasiswa baru berpikir dan bertanya dalam hati mereka, bergabung dengan IMM apa yang akan mereka dapatkan? Ini bukan sekadar soal untung-rugi pribadi, melainkan juga soal citra. 

Jangan sampai organisasi mahasiswa hanya sibuk dengan agenda internal, sementara kebutuhan mahasiswa terus berubah. Survei Deloitte Global 2025 terhadap lebih dari 14 ribu Gen Z di 44 negara menunjukkan bahwa 86 persen menganggap soft skills  seperti komunikasi, kepemimpinan, empati, dan networking penting, sementara 88 persen menilai pengalaman praktis penting untuk pengembangan diri. Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa perlu menjadi ruang yang memberi pengalaman nyata, memperluas jaringan, dan membantu mahasiswa mengembangkan kemampuannya.

Persoalan tentang perubahan karakter mahasiswa sebenarnya sudah lama menjadi perhatian di IMM. Muhammad Akmal Ahsan dalam tulisannya “Pengilmuan IMM: Membaca Generasi Z” mengingatkan bahwa IMM sedang berhadapan dengan generasi yang tumbuh bersama teknologi, terbiasa memperoleh informasi dengan cepat, serta memiliki cara belajar dan berinteraksi yang berbeda. Karena itu, IMM perlu memahami karakter generasi baru agar nilai-nilai perkaderannya tetap dapat diterjemahkan sesuai dengan perkembangan zaman

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang tetap relevan dengan zamannya, tanpa harus meninggalkan nilai fundamental yang dipegang sejak awal. IMM tidak wajib menjadi yang paling ramai anggotanya, tetapi wajib menjadi yang paling terasa manfaatnya.

Membaca Gen Z tentu bukan berarti IMM harus mengikuti semua keinginan mahasiswa hari ini. Justru yang perlu dipikirkan adalah bagaimana nilai dasar IMM tetap seirama dengan cara menyampaikan, mengemas perkaderan, dan menghadirkan manfaat nyata organisasi agar relevan dengan perubahan generasi.

Karena itu, IMM tidak selalu urgen menciptakan program baru yang bombastis. Yang lebih penting adalah memastikan bagaimana mahasiswa bisa melihat IMM sebagai rumah mereka untuk bertumbuh, belajar, berjejaring dan menyiapkan masa depan mereka setelah menyandang demisioner. Untuk menjawab tantangan itu, ada 3 hal yang bisa coba ditawarkan IMM untuk generasi mahasiswa hari ini.

Tiga Hal yang Bisa Ditawarkan

Pertama, komisariat perlu menjadi ruang untuk mempraktikkan ilmu, bukan sekadar tempat berkegiatan di luar kelas. Hal ini penting karena mampu menarik minat mahasiswa yang memang serius menekuni bidang studinya, kelompok yang selama ini justru ragu bergabung dengan organisasi karena khawatir waktu belajarnya tersita. 

Selama ini komisariat memang berbasis fakultas, tetapi kegiatannya sering disamakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan tiap disiplin ilmu dan potensi individu kader. Semestinya komisariat menjadi ruang untuk menerapkan ilmu, bukan sekadar kegiatan tambahan di luar perkuliahan.

Ilmuwan pendidikan David Kolb menyatakan bahwa proses belajar paling efektif terjadi ketika teori langsung dipraktikkan, bukan hanya didengarkan. Pendekatan ini juga tidak menutup kemungkinan bagi kader untuk mengeksplorasi bidang di luar keilmuan aslinya sesuai minat, sehingga terbentuk ekosistem perkaderan berbasis kepakaran. Satu jaringan besar tempat kader dapat menimba ilmu dari komisariat lain sesuai minat tanpa harus keluar dari IMM.

Kedua, IMM punya modal besar persebaran kader dan alumni. Data sensus nasional kader dan alumni yang dirilis DPP IMM bersama FOKAL IMM pada tahun 2025 menunjukkan bahwa alumni IMM tersebar baik di sektor formal maupun nonformal, hingga birokrasi dan politik. Persebaran ini menjadi modal besar bagi gerakan IMM ke depan. 

Dalam teori gerakan sosial, terdapat konsep yang disebut resource mobilization theory, yang digagas oleh John McCarthy dan Mayer Zald. Intinya, sebuah gerakan akan semakin kuat apabila anggotanya mampu menjangkau sumber daya yang beragam, seperti akses ke institusi, legitimasi publik, dan jaringan tokoh penting yang dijadikan patron, bukan hanya bermodal semangat semata. 

Gerakan yang anggotanya hanya berkumpul di satu bidang cenderung stagnan pada bidang tersebut. Sebaliknya, gerakan yang diaspora anggotanya tersebar di dunia akademik, dakwah, birokrasi, media, hingga dunia usaha memiliki jalur masuk ke berbagai arena sekaligus.

Ketiga, dan ini yang paling sering disalahpahami. IMM kerap dianggap tidak punya fokus tujuan karena bidang kegiatannya terlalu banyak bak sebuah Kementerian, mulai dari kajian, organisasi, aksi sosial, peduli lingkungan, advokasi, hingga kewirausahaan. Padahal, di situlah justru letak peluang dan kekuatannya. 

Emile Durkheim pernah menjelaskan bahwa sebuah kelompok dapat solid bukan karena seluruh anggotanya sama, melainkan karena setiap anggota memiliki peran berbeda yang saling melengkapi menuju satu tujuan bersama. Begitulah logika yang terjadi di dalam IMM. Kader yang gemar meneliti mendapat ruang di kajian. Kader yang gemar berbicara mendapat ruang di organisasi. Kader yang gemar terjun langsung mendapat ruang di aksi sosial. 

Potensi yang beragam itu tetap berjalan di bawah satu payung yang sama, yaitu organisasi kader Muhammadiyah yang bergerak dalam eksponen Mahasiswa. Setiap gerakannya bertujuan dengan dampak dan wadah kaderisasi Muhammadiyah. Sebenarnya yang samar bukanlah tidak jelas fokus pada tujuannya, melainkan wadahnya yang memang dirancang untuk menampung berbagai jenis potensi sekaligus.

Masalahnya, rumah besar tetap membutuhkan alamat tujuan yang jelas. Mahasiswa hari ini tentu memiliki banyak pilihan dan pertimbangan dalam memutuskan ruang mereka bertumbuh dan berdampak pasca di IMM. 

Pada akhirnya, pertanyaan “apa untungnya masuk IMM?” tidak harus dijawab dengan embel-embel sertifikat, foto kegiatan, atau kalimat motivasi di poster kaderisasi. Sebab di zaman ketika mahasiswa bisa belajar hampir apa saja dari mana saja, organisasi tidak lagi cukup menawarkan identitas.

IMM harus mampu menawarkan pengalaman, kemampuan, jaringan, dan karya nyata kepada calon kader. Ketimbang hanya mengandalkan jargon idealisme yang semu. Dan kalau IMM mampu melakukan itu, pertanyaan “apa untungnya masuk IMM?” justru bisa berubah menjadi pertanyaan lain:

“Kenapa saya belum masuk IMM?”


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso – Tangerang Selatan Akhir-akhir ini saya dikagetka....

Suara Muhammadiyah

4 May 2026

Wawasan

Refleksi Miladiah ke-116 Muhammadiyah: Bara yang Tak Boleh Padam Oleh: Agus setiyono, Aktivis Persy....

Suara Muhammadiyah

4 June 2025

Wawasan

Memahami Al-Qur`an Lewat Generasi Awal Kaum Muslimin (1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu B....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Wawasan

Oleh: Abdul Rohman, Mahasiswa Institut Agama Islam Al Ghuraba Jakarta Media sosial saat ini sudah t....

Suara Muhammadiyah

7 December 2024

Wawasan

Membuka Lapisan Makna dengan Interpreter's One-Volume Commentary on the Bible Oleh: Donny Syofyan, ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah