Perkara Gaib Bernama Sakit dan Kematian

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
152
Foto oleh rawpixel.com di magnific

Foto oleh rawpixel.com di magnific

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso – Tangerang Selatan

Akhir-akhir ini saya dikagetkan oleh berita tentang wafatnya Yusef Rafiqi. Saya mengenalnya lebih dari 35 tahun lalu saat sama-sama aktif di komunitas kesenian kampus. Sebagai seniman, ia sangat tertib: tidak merokok, tidak ngopi berlebihan, dan makan sekadarnya. Jangankan mengonsumsi alkohol, minuman manis saja jarang.

Lepas dari dunia kampus, kesehariannya dihabiskan bersama santri pondok Muhammadiyah At-Tajdid Tasikmalaya, sekaligus menjadi dosen. Sekilas, tidak ada beban hidup akibat tekanan atasan ataupun tuntutan nasabah, apalagi investor. Urusan domestiknya berjalan baik. Anak-anak bersekolah, sementara sang istri sedang menggarap disertasi S3. Secara kasatmata, semua berjalan normal, sehat lahir dan batin. Namun, umur tetaplah bukan urusan manusia. Ia harus dipanggil “pulang” saat bersujud di atas sajadah pada akhir salat tahajudnya.

Keterkejutan saya belum berhenti. Saudara terdekat saya mengalami hal yang sama. Seusai bermain bulu tangkis, tubuhnya mendadak lemas, pingsan, dan kurang dari 30 menit kemudian sudah tiba di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dokter. Namun, bagian kanan tubuh dan mulutnya mengalami gangguan sehingga tidak dapat berfungsi normal seperti sebelumnya.

Secara kasatmata, tubuhnya sehat. Di usia 52 tahun, berat badannya hanya 55 kilogram. Nyaris tidak ada kelebihan lemak yang lazim dipersepsikan sebagai biang keladi berbagai penyakit. Belum lagi, ia sangat menyukai olahraga bulu tangkis. Dalam seminggu, Ia bisa bermain hingga empat kali. Bukankah olahraga juga dipersepsikan sebagai faktor penting dalam menyehatkan tubuh? Ia memang merokok sebagaimana lazimnya lelaki perokok di dalam komunitasnya.

Secara mental, sependek pengetahuan saya, profesinya sebagai musisi nyaris tidak memiliki target berlebihan yang dapat menyebabkan tekanan serius dalam hidupnya. Keluarga dekat pun sangat memahami bahwa pola kehidupan keluarganya tergolong santai dan harmonis bersama istri dan anak-anaknya. Karakter keluarganya hangat dan sederhana.

Saya merenung cukup lama, mengapa orang yang sepintas terlihat bugar dan sehat ternyata bisa mengalami sakit dengan penyebab yang sering kali tidak identik dengan persepsi umum yang kerap diajarkan dalam dunia kesehatan. Seorang teman lulusan ilmu kesehatan masyarakat mengingatkan saya bahwa Raja Charles III sebagai kepala negara Britania Raya pun pernah mengalami kanker prostat. Sementara itu, putri sulung Raja Thailand, Bajrakitiyabha Mahidol, juga mengalami gangguan aritmia jantung yang cukup serius.

Sebagai raja yang menjadi kepala negara di 15 negara Persemakmuran Britania dan sebagai putri sulung keluarga Kerajaan Thailand yang kaya raya, keduanya tentu berada dalam jaminan serta layanan kesehatan yang sangat eksklusif dari para dokter terbaik di Britania Raya maupun Thailand. Jika penyebab penyakit-penyakit itu semata-mata disebabkan oleh makanan seperti gorengan yang kerap dianggap sebagai biang masalah kesehatan, apakah keduanya juga gemar mengonsumsi gorengan berbahan minyak jelantah secara berulang-ulang? Tentu tidak. Nyatanya, keduanya tetap menderita sakit yang biasa diderita rakyat biasa.

Sebagai orang awam, saya berkesimpulan bahwa penyakit, bahkan kematian, adalah perkara gaib yang tidak sepenuhnya dapat diatasi manusia. Bukan berarti saya tidak percaya pada ilmu pengetahuan di bidang kedokteran yang dikembangkan para ilmuwan seperti Hippocrates (460–370 SM) dari Yunani Kuno. Ia dikenal sebagai pelopor kedokteran modern karena mulai memisahkan pengobatan dari takhayul serta menjelaskan bahwa penyakit memiliki sebab alami yang dapat dipelajari secara rasional. Sementara itu, Ibnu Sina (980–1037 M) dikenal melalui karya monumentalnya berjudul Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine).

Baik Hippocrates maupun Ibnu Sina menekankan bahwa perkara kesehatan bukan hanya soal mengobati penyakit, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup manusia secara menyeluruh. Meski hidup pada zaman dan peradaban yang berbeda, keduanya memiliki pandangan yang cukup mirip tentang pentingnya pola hidup sehat serta hubungan antara tubuh dan lingkungan. Salah satu pesan yang sangat masyhur adalah, “Lebih baik mencegah daripada mengobati.”

Hippocrates mengajarkan bahwa penyakit memiliki sebab alamiah, bukan semata-mata kutukan atau takhayul. Karena itu, pengobatan harus didasarkan pada pengamatan, pengalaman, dan pengetahuan. Sementara Ibnu Sina, melalui karya besarnya Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine), menyampaikan pesan penting bahwa kesehatan dapat dijaga melalui keseimbangan makan, tidur, gerak tubuh, udara, dan kondisi jiwa. Penyakit tidak hanya berasal dari tubuh, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh emosi, lingkungan, dan gaya hidup. Tugas kedokteran bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menjaga martabat manusia.

Menghadapi rasa sakit seperti yang sering saya alami, serta melihat kenyataan tentang kematian yang telah dialami banyak orang, saya semakin yakin bahwa pengetahuan saya tentang diri sendiri saja ternyata masih sangat terbatas. Apalagi terhadap orang lain yang sekilas hanya tampak di depan mata. Segala keterbatasan itu menyadarkan saya bahwa di dunia ini selalu ada hal-hal gaib yang tidak tampak oleh mata, tetapi memiliki kekuatan dahsyat melebihi segala bentuk kekuatan dan pengetahuan tertinggi manusia sekalipun.

Puncak pengetahuan manusia hanya terbatas pada upaya sungguh-sungguh untuk meraba, mempelajari, melihat pola, memahami, lalu menyimpulkannya dalam bentuk ilmu pengetahuan. Namun demikian, saya harus selalu menyediakan ruang bagi hal-hal yang tidak pernah mampu saya baca, apalagi pastikan. Melalui proses itulah, saya terus berdoa semoga kesadaran saya sebagai hamba untuk senantiasa bergantung kepada Yang Mahakuasa dapat semakin mendekati kesempurnaan.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menghadirkan Meja Diplomasi di Ruang Kuliah Oleh: Prof. Dr. Khoirul Anwar, M.Pd, Rektor Universitas....

Suara Muhammadiyah

23 April 2026

Wawasan

Sepeda adalah Vitamin Ekonomi Berkelanjutan Oleh: Miqdam A Hashri, M.Si, C.LQ, Anggota LDK PP ....

Suara Muhammadiyah

30 August 2024

Wawasan

SARASEHAN PEMIKIR: Memikirkan Pemikiran Pendidikan Muhammadiyah  Ringroad Barat-Jogja, Kamis, ....

Suara Muhammadiyah

20 January 2024

Wawasan

Oleh: Ayu Nadya, Mahasiswa S1 Akuntansi Tahun 2021 ITB Ahmad Dahlan Program KKN Plus Institut Tekno....

Suara Muhammadiyah

6 September 2024

Wawasan

Oleh: Sobirin Malian (Dosen Fakultas Hukum, Universitas Ahmad Dahlan) Di era yang mengagungkan isti....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah