Ashabul Kahfi (1) Menelusuri Akar Sejarah

Publish

2 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
143
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ashabul Kahfi (1) Menelusuri Akar Sejarah

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kisah para pemuda yang tertidur di dalam gua selama ratusan tahun, atau yang dikenal sebagai Ashabul Kahfi, merupakan salah satu narasi paling memikat dalam Al-Quran. Namun, di balik popularitas kisahnya sebagai mukjizat yang dahsyat, terdapat sebuah ayat yang sering kali mengundang tanya karena nada bicaranya yang unik. Tulisan ini akan mengupas Surah Al-Kahfi (18) ayat 9, guna memahami mengapa Allah seolah-olah "meremehkan" keajaiban besar ini dan apa sebenarnya rahasia di balik istilah misterius Ar-Raqim.

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 9, Allah SWT berfirman,” اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا” (Apakah engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan yang mempunyai ar-raqim (prasasti) itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?)

Jika dibaca sekilas, ayat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW ini tampak seperti sebuah retorika yang menenangkan. Namun, bagi para mufasir, struktur kalimat ini menyimpan makna filosofis yang dalam. Mengapa Allah bertanya, "Apakah engkau mengira ini mengherankan?" Seolah-olah, Allah ingin memberikan jarak atau perspektif baru bahwa peristiwa tidurnya pemuda tersebut bukanlah puncak dari segala keajaiban-Nya.

Bagi umat Islam secara umum, kisah ini adalah mukjizat absolut. Bayangkan sekelompok pemuda yang melarikan diri demi mempertahankan iman, lalu tertidur selama lebih dari 300 tahun tanpa menua, tanpa kelaparan, dan terjaga dari kerusakan jasmani. Secara historis dan faktual, ini adalah intervensi ketuhanan yang luar biasa. Namun, Al-Quran justru memulai narasi ini dengan sedikit "meredam" rasa takjub yang berlebihan tersebut.

Perspektif Mufasir: Mengapa Ini "Bukan yang Terbesar"?

Para ahli tafsir (mufasir) menjelaskan bahwa nada ayat ini berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Sebelum masuk ke kisah gua, Al-Quran menekankan bahwa Allah telah menciptakan segala perhiasan di bumi hanya sebagai ujian, dan pada akhirnya, semua itu akan hancur menjadi tanah yang tandus.

Logika yang ingin dibangun adalah sebagai berikut: Jika Allah mampu menciptakan seluruh alam semesta, menghidupkan dan mematikan galaksi, serta mengatur siklus kehidupan yang tak terhingga luasnya, maka menidurkan segelintir manusia di dalam gua selama tiga abad hanyalah perkara kecil. Dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi, atau fenomena kebangkitan seluruh umat manusia di hari kiamat kelak, peristiwa Ashabul Kahfi barulah "sebagian kecil" dari tanda kekuasaan-Nya.

Hal ini juga berkaitan dengan tantangan kaum musyrik Quraisy yang sering meminta mukjizat fisik kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui ayat ini, Allah seolah mendidik manusia untuk tidak hanya terpaku pada keajaiban yang bersifat "magis" atau aneh. Allah seolah berkata, "Jangan hanya terpesona pada pemuda di gua; lihatlah matahari yang terbit, pergantian malam, dan luasnya lautan. Semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan yang jauh lebih besar jika kalian mau berpikir."

Selain istilah Al-Kahf (Gua), ayat ini menyebutkan Ar-Raqim. Istilah ini telah menjadi bahan diskusi panjang di kalangan cendekiawan Islam selama berabad-abad. Secara etimologis, akar kata Raqim berhubungan dengan tulisan atau goresan, mirip dengan istilah Kitabun Marqum (kitab yang tertulis) yang disebutkan dalam surah lain.

Beberapa mufasir klasik berpendapat bahwa Ar-Raqim adalah nama lembah atau gunung tempat gua tersebut berada. Namun, penelitian sejarah yang lebih modern dan komprehensif cenderung mengarah pada makna yang lebih literal: sebuah prasasti.

Dalam tradisi cerita rakyat dan dokumen sejarah kuno, dikisahkan bahwa ketika para pemuda itu terjebak di dalam gua, identitas mereka tidak hilang begitu saja. Ada seseorang yang menuliskan nama-nama mereka, asal-usul mereka, dan tanggal mereka menghilang di atas sebuah pelat atau prasasti tembaga/timah, yang kemudian diletakkan di mulut gua tersebut. Inilah yang disebut sebagai Ar-Raqim—sebuah catatan fisik yang menjadi saksi bisu bagi generasi mendatang.

Menelusuri Akar Sejarah: Tradisi Siria dan Lore Kristen

Memahami konteks Al-Quran sering kali membutuhkan pemahaman tentang lingkungan budaya saat wahyu tersebut turun. Kisah ini tidak turun dalam ruang hampa; ia adalah respons atas pertanyaan orang-orang Yahudi dan kaum Quraisy yang ingin menguji kenabian Muhammad dengan kisah-kisah kuno yang legendaris.

Sidney Griffith, dalam studinya "Christian Lore and the Arabic Quran", menelusuri bahwa kisah ini sangat populer dalam tradisi Kristen Siria, yang dikenal sebagai The Seven Sleepers of Ephesus. Dalam versi ini, peristiwa terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Decius (sekitar 250 M), seorang penguasa Romawi yang terkenal kejam dalam menganiaya pemeluk Kristen monoteis.

Para pemuda ini menolak menyembah berhala sang Kaisar dan memilih bersembunyi di sebuah gua. Kaisar yang murka memerintahkan gua itu tembok mati agar mereka binasa di dalamnya. Namun, di sinilah letak kaitan dengan Ar-Raqim: dua orang pengikut rahasia kaisar menuliskan kisah para pemuda itu di atas pelat logam dan menyelipkannya di antara bebatuan tembok gua.

Ratusan tahun kemudian, pada masa kaisar yang saleh (kemungkinan Theodosius II), gua itu dibuka kembali. Para pemuda tersebut bangun dan mengira mereka hanya tidur semalam. Salah satu dari mereka pergi ke pasar untuk membeli makanan dengan koin perak kuno dari era Decius. Penemuan koin ini menghebohkan kota dan menjadi bukti tak terbantahkan tentang keajaiban Tuhan. Prasasti atau Ar-Raqim yang ditemukan kemudian mengonfirmasi siapa mereka sebenarnya, sekaligus menjadi argumen kuat bagi masyarakat saat itu tentang kebenaran adanya hari kebangkitan (resurrection).

Karakteristik Unik Narasi Al-Quran

Salah satu hal paling menarik dari cara Al-Quran menceritakan kisah Ashabul Kahfi adalah penolakannya untuk terjebak dalam detail-detail teknis yang tidak esensial. Al-Quran tidak menyebutkan nama kaisar, nama kota, atau bahkan jumlah pasti pemudanya.

"Nanti (ada orang yang) mengatakan jumlah mereka tiga, yang keempat adalah anjingnya; dan (yang lain) mengatakan jumlah mereka lima, yang keenam adalah anjingnya... Katakanlah (Muhammad), 'Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka'..." (QS. 18:22).

Al-Quran seolah-olah mengkritik kecenderungan manusia yang sering kali lebih sibuk meributkan detail angka dan nama daripada mengambil hikmah dari sebuah peristiwa. Fokus Al-Quran bukanlah pada "kapan" atau "siapa", melainkan pada pesan tauhid: bahwa Tuhan memiliki kuasa penuh atas waktu dan kematian, dan bahwa iman yang teguh akan selalu mendapatkan perlindungan-Nya, bahkan dengan cara yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Surah Al-Kahfi ayat 9 mengajak kita untuk menyeimbangkan antara rasa kagum pada mukjizat dengan kesadaran akan keagungan Tuhan yang jauh lebih luas. Mukjizat para pemuda gua dan misteri prasasti Ar-Raqim diturunkan bukan hanya untuk menjadi dongeng pengantar tidur, melainkan sebagai pengingat akan hari kebangkitan.

Jika Allah mampu menjaga segelintir pemuda dalam kondisi "mati suri" selama ratusan tahun dan membangkitkan mereka kembali dalam keadaan segar bugar, maka membangkitkan seluruh manusia dari liang kubur bukanlah hal yang mustahil. Al-Quran mengambil cerita yang sudah dikenal oleh masyarakat (tradisi Kristen dan Yahudi), membersihkannya dari elemen-elemen yang menyimpang, dan memfokuskannya kembali kepada keesaan Allah SWT.

Pada akhirnya, Ashabul Kahfi adalah simbol perlawanan iman terhadap tirani, dan Ar-Raqim adalah prasasti pengingat bahwa jejak kebenaran tidak akan pernah benar-benar terkubur, meskipun waktu telah berlalu berabad-abad lamanya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pola Pendidikan Orang Tua dalam Membimbing Anak-anak Menuju Masa Depan yang Gemilang Menurut Konsep ....

Suara Muhammadiyah

10 January 2024

Wawasan

Pondasi Pendidikan Karakter Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS Pertam....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (16)  Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra ....

Suara Muhammadiyah

21 December 2023

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah, Ketua PDA Purworejo   "Qoryah Thayyibah, Cahaya dari Perempuan Berkemajua....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Wawasan

Dari Desa Membaca Buya Syafii (Kisah Saya dan Kelas Reading Buya Syafii) Oleh: Rizkul Hamkani, kom....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025