ASM: Merajut Mimpi Ahmad Syafii Ma’arif
Oleh: Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi
Hari ini, Jumat (10/7), Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah membuka Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch 1 di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Selama lima hari, program ini mempertemukan 20 mahasiswa dan tiga dosen Program Studi Pendidikan Sejarah dari empat Perguruan Tinggi Muhammadiyah—Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Metro, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto—serta peserta dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Sanata Dharma. Fokus utamanya adalah mendampingi mahasiswa menyusun proposal skripsi bertema sejarah Muhammadiyah.
Sekilas, kegiatan ini mungkin tampak sebagai pelatihan metodologi penelitian biasa. Namun, jika ditarik dalam konteks yang lebih panjang, Akademi Sejarah Muhammadiyah sesungguhnya merupakan bagian dari ikhtiar membangun tradisi historiografi Muhammadiyah yang lebih kuat. Ia bukan sekadar ruang belajar, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi peneliti yang akan merawat memori kolektif persyarikatan.
Program ini merupakan pengembangan dari kerja-kerja Bidang Museum, Pustaka, dan Kearsipan MPI PP Muhammadiyah dalam mendorong penulisan sejarah lokal Muhammadiyah. Sejak 2023 hingga 2025, berbagai pelatihan penulisan sejarah lebih banyak dilaksanakan di tingkat wilayah dengan melibatkan unsur pimpinan wilayah, daerah, cabang, organisasi otonom, dan amal usaha Muhammadiyah. Pengalaman tersebut menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat sekaligus pentingnya membangun kader penulis sejarah yang lebih sistematis.
Karena itu, pada tahun ini pendekatan tersebut diperluas dengan menggandeng perguruan tinggi, khususnya program studi yang memiliki kompetensi di bidang sejarah. Langkah ini diharapkan lebih efektif karena mahasiswa dan dosen memiliki kesempatan untuk menjadikan sejarah Muhammadiyah sebagai objek penelitian akademik yang berkelanjutan melalui skripsi, artikel ilmiah, maupun publikasi lainnya.
Sesungguhnya, gerakan penulisan sejarah Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang baru. Momentum pentingnya kembali menguat melalui Kongres Sejarah Muhammadiyah tahun 2021 yang merekomendasikan pentingnya memperluas penulisan sejarah lokal Muhammadiyah di berbagai daerah. Rekomendasi tersebut sekaligus menghidupkan kembali semangat yang pernah dirintis PP Muhammadiyah pada dekade 1970-an hingga 1980-an melalui Bidang Dokumentasi dan Sejarah. Pada masa itu lahir sejumlah karya biografi pimpinan dan tokoh Muhammadiyah yang menjadi fondasi penting bagi historiografi persyarikatan.
Memasuki periode kepemimpinan hasil Muktamar Muhammadiyah 2022–2027, semangat tersebut semakin ditegaskan. Penulisan sejarah Muhammadiyah tidak lagi dipandang sebagai program pelengkap, melainkan menjadi salah satu arus utama kerja MPI PP Muhammadiyah. Sebab, organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad membutuhkan tradisi dokumentasi dan penelitian sejarah yang terus diperbarui agar pengalaman, gagasan, dan perjuangannya tidak hilang ditelan zaman.
Dalam konteks itulah, pesan Buya Ahmad Syafii Ma’arif pada Kongres Sejarah Muhammadiyah 2021 menjadi sangat relevan. Melalui rekaman video yang disampaikan karena berhalangan hadir secara langsung, Buya menyampaikan sebuah gagasan yang jauh melampaui penyelenggaraan sebuah kongres. Menurutnya, setelah sekian lama Muhammadiyah memiliki Program Studi Pendidikan Sejarah di berbagai perguruan tinggi, sudah saatnya Persyarikatan memiliki Program Studi Ilmu Sejarah di salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Buya menyadari bahwa Program Studi Ilmu Sejarah mungkin tidak sepopuler atau semenarik program-program studi lain dari sisi pasar. Namun, bagi organisasi yang telah berusia lebih dari 100 tahun, keberadaan program studi tersebut bukan semata persoalan jumlah peminat, melainkan kebutuhan strategis. Muhammadiyah memerlukan institusi akademik yang secara khusus mengembangkan riset sejarah, melahirkan sejarawan, menghasilkan karya-karya ilmiah, serta menjaga memori kolektif Persyarikatan secara berkesinambungan.
Dalam perspektif itu, Akademi Sejarah Muhammadiyah dapat dipandang sebagai salah satu ikhtiar kecil untuk merajut mimpi besar Buya Ahmad Syafii Ma’arif. Memang, program ini baru berlangsung selama lima hari. Namun, setiap tradisi akademik selalu berawal dari langkah-langkah sederhana yang dikerjakan secara konsisten.
Bukan tidak mungkin, di masa mendatang Akademi Sejarah Muhammadiyah berkembang menjadi akademi komunitas yang berjalan selama satu tahun, menjadi pusat kaderisasi peneliti sejarah Muhammadiyah, atau bahkan menjadi embrio lahirnya Program Studi Ilmu Sejarah di salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Apabila cita-cita itu terwujud, Muhammadiyah tidak hanya memiliki organisasi yang besar dan berumur panjang, tetapi juga tradisi intelektual yang mampu merekam, mengkritisi, dan mewariskan perjalanan sejarahnya kepada generasi-generasi berikutnya.
Barangkali, di situlah sesungguhnya mimpi Buya Ahmad Syafii Ma’arif sedang dirajut pelan, tetapi dengan arah yang jelas.
Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi, Master of Trainer Akademi Sejarah Muhammadiyah

