Viral Lembar Kitab, Benarkah Ini Rujukan Muhammadiyah?

Publish

19 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
904
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Viral Lembar Kitab, Benarkah Ini Rujukan Muhammadiyah?

M. Saifudin, Pondok Pesantren Muhammadiyah Sangen

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan foto satu halaman kitab klasik berjudul At-Taufīqāt al-Ilhāmiyyah. Lembar kitab itu justru menegaskan bahwa hisab bukan metode baru, ia sudah lama hadir dalam tradisi Islam

Beredarnya lembar kitab itu justru menegaskan bahwa hisab bukan metode baru. Ia sudah lama hadir dalam tradisi Islam. Hanya saja, pada masa Nabi, ia belum menjadi praktik sosial di Makkah dan Madinah karena kondisi masyarakat saat itu berbeda.

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan foto satu halaman kitab klasik berjudul At-Taufīqāt al-Ilhāmiyyah fī Muqāranat at-Tawārīkh al-Hijriyyah bi Ghairihā min at-Tawārīkh al-Qibthiyyah wal-Ifranjiyyah wa Ghairihā, karya Mukhtar Pasha pada akhir abad ke-19, era Utsmaniyah.

Kitab itu berisi tabel komparasi kalender: Hijriyah dibandingkan dengan kalender Qibthi dan Masehi. Sebuah karya teknis, penuh angka, yang disusun untuk memudahkan konversi tanggal dalam administrasi dan pencatatan sejarah, bukan kitab fikih, bukan pula kitab khusus penetapan awal Ramadhan. Kitab ini produk tradisi komputasi kalender dalam dunia Islam.

Ketika tabel itu dicocokkan dengan kalender sekarang, muncul angka 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, sama persis dengan keputusan Muhammadiyah. 

Sebagian orang berkesimpulan, “Oh, ini ya kitab rujukan Muhammadiyah?” Jawabnya tentu tidak. Hasil yang sama belum tentu dari cara dan rujukan yang sama.

Kitab karya Mukhtar Pasha berbasis aritmetika kalender klasik dengan pola siklus. Sementara Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki berbasis astronomi modern, yakni, menghitung ijtimak, posisi bulan, serta parameter visibilitas secara presisi. Metode dan perangkatnya berbeda. Yang sama hanyalah objek, yaitu peredaran bulan yang berjalan teratur.

Karena itu, kesamaan tanggal bukan sesuatu yang aneh. Jika dua pendekatan sama-sama membaca orbit bulan yang sama, sangat mungkin bertemu pada angka yang sama, karena hukum alam konsisten.

Viral lembar kitab itu menjadi bukti sejarah bahwa tradisi hisab telah lama berkembang dalam khazanah peradaban Islam. Tradisi menghitung posisi bulan tumbuh berabad-abad sebelum lahirnya organisasi modern mana pun. Ilmu falak berkembang di pusat-pusat keilmuan Islam. Tabel astronomi disusun, kalender dibandingkan, dan demikian pula perhitungan, menjadi bagian dari khazanah ilmiah umat.

Lalu mengapa pada masa Nabi digunakan rukyat? Karena konteks sosialnya berbeda. Hadits yang  berbunyi:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ

“Kita ini umat yang ummi, tidak menulis dan tidak berhitung.”

Itu adalah gambaran kondisi masyarakat Hijaz saat itu. Tradisi astronomi presisi belum menjadi praktik sosial di Makkah dan Madinah. Metode yang paling mudah, paling sederhana, dan paling dapat dilakukan adalah rukyat.

Namun Al-Qur’an juga menegaskan bahwa alam berjalan dalam sistem yang terukur:

وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ (QS. Yunus: 5)

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَا(QS. Ar-Rahman: 5)

Bulan memiliki fase agar manusia mengetahui hitungan. Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan. Artinya, sistem kosmik memang presisi dan dapat dihitung.

Seiring perkembangan ilmu, kemampuan menghitung menjadi bagian dari ikhtiar manusia membaca sunnatullah. Maka lahirlah metode hisab dengan berbagai pendekatan. Perbedaan metode pun muncul: rukyat, hisab wujudul hilal, imkan rukyat, dan seterusnya. Semua itu berada dalam wilayah ijtihad.

Muhammadiyah memilih hisab hakiki berbasis astronomi modern karena menilainya paling mendekati kepastian ilmiah sekaligus memiliki dasar syar’i. Pilihan itu bukan untuk berbeda, melainkan upaya menghadirkan kepastian yang dapat dihitung jauh hari.

Karena itu, lembaran kitab yang viral itu bukan insinuasi apa pun. Ia justru pengingat bahwa tradisi ilmu dalam Islam memiliki perjalanan panjang dan matang. Penghitungan bulan bukan inovasi modern, melainkan bagian dari warisan intelektual umat sejak masa lampau. Sebagaimana dalam berbagai urusan dunia lainnya, perkembangan ilmu adalah keniscayaan “kalian lebih tahu urusan dunia kalian” (Al Hadits).

Perbedaan metode adalah dinamika ijtihad. Dan yang lebih penting dari itu semua, mari jalani Ramadhan dengan hati yang bersih dan optimal dalam beribadah, hingga kita meraih jenjang takwa.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kesunyian Semesta dan Isyarat Al-Qur'an: Benarkah Kita Sendirian di Alam Semesta? Penulis: Donny Sy....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Wawasan

Titik Temu Alam Kebatinan Warga dan Khittah Politik Muhammadiyah Oleh: Agusliadi Massere Dinamika ....

Suara Muhammadiyah

19 November 2023

Wawasan

Brand “MU” Harus Disikapi dengan Cerdas dan Bijak  Oleh Amidi, Dosen FEB Universit....

Suara Muhammadiyah

20 December 2023

Wawasan

Refleksi Miladiah ke-116 Muhammadiyah: Bara yang Tak Boleh Padam Oleh: Agus setiyono, Aktivis Persy....

Suara Muhammadiyah

4 June 2025

Wawasan

Nilai-Nilai Kemanusiaan di Tengah Arus Modern Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troket....

Suara Muhammadiyah

28 September 2025