Bahaya Pemimpin yang Mudah Dibohongi

Suara Muhammadiyah

1 October 2026

198
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Bahaya Pemimpin yang Mudah Dibohongi

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso

Dwight David Eisenhower adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat ke-34 (1953–1961). Dalam Perang Dunia II, ia menjabat sebagai Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa. Ia memimpin persiapan operasi militer besar-besaran untuk mendaratkan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, yang kemudian dikenal sebagai D-Day.

Tanggal dan rencana pendaratan tersebut merupakan rahasia militer yang sangat penting. Jika sampai bocor kepada pihak Jerman, operasi itu bisa terancam gagal karena mereka dapat mempersiapkan pertahanan dengan lebih baik dan membahayakan keselamatan puluhan ribu pasukan Sekutu.

Menjelang D-Day, terjadi sebuah insiden serius. Mayor Jenderal Henry J. F. Miller, seorang perwira tinggi Angkatan Darat Amerika Serikat dan teman Eisenhower sejak di West Point, berbicara mengenai informasi sensitif tentang rencana invasi dalam sebuah jamuan di Inggris.

Informasi yang seharusnya dijaga dengan sangat ketat itu terdengar oleh orang lain. Eisenhower kemudian mengambil tindakan. Miller dikirim kembali ke Amerika Serikat dan pangkatnya diturunkan menjadi kolonel.

Jabatan tinggi tidak menghapus tanggung jawab. Justru semakin besar wewenang seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Kepercayaan harus dijaga, terutama ketika seseorang memegang informasi yang menyangkut keselamatan dan kepentingan banyak orang.

Kisah Eisenhower dan Jenderal Miller ini dapat menjadi bahan refleksi bagi seorang pemimpin negara. Kesalahan yang menyangkut kepercayaan tidak semestinya dianggap sepele, terlebih jika kelalaian tersebut dapat membahayakan atau merugikan banyak orang.

Stalin dan Lingkaran Kebohongan

Hal yang kontras terjadi pada Joseph Stalin, pemimpin Uni Soviet. Di bawah kepemimpinannya, sistem politik dibangun dengan kontrol yang sangat kuat, termasuk terhadap informasi. Teror, sensor, dan kontrol terhadap komunikasi menjadi bagian penting dari sistem kekuasaannya.

Dalam sistem seperti itu, bawahan menghadapi risiko besar ketika menyampaikan berita buruk atau informasi yang bertentangan dengan keinginan pemimpin.

Situasi semacam ini kemudian dikenal sebagai dilema sang diktator. Yaitu ketika bawahan takut terhadap pemimpin, mereka memiliki insentif untuk menyampaikan informasi yang menyenangkan dan menyembunyikan informasi yang tidak menyenangkan.

Akibatnya, pemimpin justru dapat semakin sulit memperoleh gambaran yang akurat mengenai keadaan yang sebenarnya.

Budaya ketakutan semacam itu dapat memengaruhi berbagai bidang pemerintahan. Dalam sektor pertanian, misalnya, target produksi dan pengumpulan gandum menjadi persoalan penting bagi pemerintah Soviet.

Pada masa kolektivisasi, target pengadaan gandum yang tinggi dan kebijakan pemerintah turut memperburuk krisis pangan 1932–1933.

Di atas kertas, target dan angka produksi bisa terlihat baik. Namun, kenyataan di lapangan dapat berbeda.

Ketika informasi dari bawah tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya, pemimpin berisiko mengambil keputusan berdasarkan gambaran yang keliru.

Pola persoalan informasi juga terlihat dalam sektor industri dan militer. Para pejabat memiliki tekanan besar untuk memenuhi target produksi. Angka produksi tank, pesawat, senjata, dan amunisi harus terlihat memenuhi kuota yang telah ditetapkan.

Di atas kertas, Uni Soviet memiliki kekuatan militer yang besar. Namun, ketika Jerman melancarkan Operation Barbarossa pada 22 Juni 1941, berbagai persoalan yang sebelumnya tidak terlihat dalam laporan mulai muncul ke permukaan.

Dalam menghadapi serangan tersebut, persoalan mengenai kesiapan pasukan, peralatan, logistik, dan struktur komando menjadi sangat penting.

Pada saat yang sama, pembersihan besar-besaran pada akhir 1930-an telah melemahkan sebagian kepemimpinan militer Soviet. Sejumlah perwira senior yang berpengalaman tersingkir dalam proses tersebut.

Keputusan Stalin tidak didasarkan pada informasi akurat sehingga memperlemah kesiapan Uni Soviet menghadapi perang.

Selama bertahun-tahun, sistem kekuasaan Stalin menciptakan kondisi yang membuat orang takut menyampaikan berita buruk.

Akibatnya, bawahan memiliki alasan untuk menyembunyikan kegagalan, memperindah angka, dan mengatakan apa yang ingin didengar oleh pemimpin.

Stalin menciptakan sistem yang membuat orang takut berbohong kepadanya, tetapi pada saat yang sama sistem itu justru membuat orang takut mengatakan kebenaran kepadanya.

Belajar dari Dua Kisah

Dua kisah tersebut membawa saya pada satu pertanyaan: bagaimana jika seorang pemimpin lebih banyak menerima informasi yang menyenangkan daripada informasi yang benar?

Pertanyaan itu relevan untuk setiap pemerintahan, termasuk Indonesia.

Berbagai program andalan yang dicanangkan oleh Presiden dapat mengalami kelemahan dalam pelaksanaannya. Salah satunya ketika program dijalankan oleh orang yang kurang memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

Orang-orang yang dipercaya memegang berbagai posisi strategis juga dituntut menunjukkan kredibilitas dan kemampuan dalam menjalankan tugasnya.

Posisi strategis yang menjadi ujung tombak pemerintah dan paling mudah dinilai publik seharusnya dapat menunjukkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Di tengah derasnya informasi yang beredar melalui media sosial maupun media massa, ada kesenjangan antara apa yang diketahui masyarakat dan apa yang sampai kepada pengambil keputusan.

Kesan saya, tidak semua informasi yang berkembang di masyarakat mudah masuk ke lingkaran kekuasaan.

Mungkin, lingkaran Presiden merasa lebih aman dan nyaman ketika menerima informasi yang menyenangkan daripada informasi yang jujur.

Jika hal itu terjadi, seorang pemimpin berisiko menerima gambaran yang terlalu indah dibandingkan kenyataan di lapangan.

Di situlah persoalannya.

Mengapa seorang pemimpin bisa sampai berada dalam situasi seperti itu?

Salah satunya karena masih suburnya budaya “Asal Bapak Senang”, dengan menyampaikan informasi yang telah dipoles oleh para pejabat pengampu kekuasaan.

Informasi yang seharusnya menjadi alat untuk membantu pemimpin mengambil keputusan justru dapat berubah menjadi alat untuk menjaga kenyamanan atasan.

Dalam dialog antara DPR dan pejabat pemerintah yang disaksikan publik akhir-akhir ini, kita juga dapat melihat bagaimana perbedaan antara pernyataan pejabat dan kenyataan yang diketahui masyarakat.

Persoalan itu dapat menimbulkan persoalan kepercayaan yang sangat serius kepada Pemerintah.

Hemat saya, seorang pejabat negara boleh saja keliru, boleh salah, tetapi seharusnya tidak boleh berbohong.

Apalagi jika pernyataan bohong disampaikan di depan Dewan Perwakilan Rakyat, lembaga yang menjalankan fungsi representasi rakyat.

Apakah para pejabat itu sadar bahwa ketika mereka menyampaikan informasi bohong di depan forum DPR, persoalannya bukan hanya menyangkut hubungan mereka dengan lembaga negara?

Mereka juga telah membohongi keluarga dekat mereka; bapak, ibu, istri, anak, cucu, dan orang-orang yang mereka cintai.

Apa sebenarnya yang mereka pertahankan dari semua itu?

Pangkat? Jabatan?

Seberapa lamakah semua itu akan mereka nikmati sehingga seseorang rela mengorbankan kejujuran?

Seberapa pun hebat, kaya, dan makmurnya negeri Indonesia ini, ketika pengelola negara tidak lagi menjadikan kejujuran sebagai dasar dalam menyampaikan informasi, negara akan semakin jauh dari cita-cita untuk menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan bagi rakyatnya.

Presiden Prabowo sebagai seorang pensiunan perwira tinggi, Anda tentu memahami bahwa kejujuran merupakan bagian penting dari kepemimpinan.

Karena itu, jangan sampai seorang Presiden justru dikelilingi oleh informasi yang telah dipoles, diperindah, atau bahkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan apa adanya, termasuk ketika kabar yang dibawa tidak menyenangkan.

Sebab, pemimpin yang hanya mendengar kabar baik mungkin akan merasa nyaman. Tetapi pemimpin yang mau mendengar kabar buruk memiliki kesempatan untuk mengetahui persoalan lebih awal dan memperbaikinya.

Semoga cukup Stalin di Uni Soviet saja yang menjadi pelajaran sejarah.

Ia mampu tampil seolah-olah garang, tegas, dan kejam. Namun, di balik itu semua, ternyata ia berada dalam lingkaran penuh kebohongan dari orang-orang terdekatnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Kita mengenal terdapat enam kum....

Suara Muhammadiyah

14 December 2023

Wawasan

Muhammadiyah Sebagai Jalan Tengah Yang Rahmatan Lil ‘Alamin Oleh: Khulanah, Thalibat Pendidik....

Suara Muhammadiyah

8 January 2024

Wawasan

Menara GKBI: Menyambut Hari Koperasi Nasional Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LP UMKM PWM Jateng Seb....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Wawasan

Belajar Kaya, Bukan Sekadar Ingin Kaya; Menumbuhkan Kesadaran Ekonomi Keluarga Muhammadiyah Oleh: A....

Suara Muhammadiyah

17 September 2026

Wawasan

Pendidikan Nonformal Muhammadiyah: Jalan Pencerahan, Pemberdayaan, dan Keberlanjutan Umat Oleh: M. ....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah