YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dakwah kemanusiaan akan terus relevan sepanjang zaman. Mengapa begitu? Salmah Orbayinah menyingkap, dari tahun ke tahun, pelbagai masalah kemanusiaan selalu muncul di permukaan.
“Termasuk, masalah kemiskinan, konflik, krisis moral, kerusakan lingkungan yang sekarang juga sudah luar biasa, dan tentunya persoalan perempuan dan anak,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah itu.
Persoalan itu menyeruak di mana-mana, lebih-lebih kerusakan lingkungan, menunjukkan semakin kompleks. Demikian dikemukakan saat Resepsi Milad ‘Aisyiyah Sumatera Utara, Senin (6/7) secara daring dari Yogyakarta.
“Kita harus terus membawa persatuan, bukan memperuncing perbedaan, dan kita membawa harapan bukan justru keputusasaan,” jelas Salmah.
Untuk menuju ke arah itu, kata Salmah, dimulai dari peran keluarga. Menurutnya, keluarga mengambil peranan yang sangat substansial. “Keluarga yang sakinah,” sebutnya.
Bersambung dengan itu, yaitu masyarakat berbasis qaryah thayyibah. Juga, dari sisi ‘Aisyiyahnya sendiri, “mesti kuat di dalam berjamaah,” lanjut Salmah.
Karena itu, spirit milad ini mesti dijadikan kontemplasi kolektif warga ‘Aisyiyah. Menurutnya, ‘Aisyiyah sampai hari ini telah menggerakkan dakwah pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan sebagainya, sebagai bentuk membangun peradaban bangsa.
“Ini menjadi refleksi kita semua. Sejauh mana ‘Aisyiyah sudah melakukan hal itu, dan sejauh mana apa yang sudah kita lakukan,” ujarnya.
Salmah berharap, seluruh kader ‘Aisyiyah di mana pun berada, memiliki jiwa laksana burung garuda. Yakni sebuah representasi yang berani terbang tinggi dalam membawa cita-cita yang besar ‘Aisyiyah di masa depan.
“Juga memiliki pandangan yang luas untuk membaca perubahan zaman, tetapi tetap kokoh pada nilai-nilai Islam berkemajuan walaupun angin itu senantiasa menerpa,” tambahnya.
Demikian ‘Aisyiyah. Salmah mengatakan, ‘Aisyiyah hadir bukan dari kenyamanan, tetapi karena tumbuh dari rasa keikhlasan hadir memberikan pelayanan kepada umat lewat dakwah-dakwah yang meneguhkan dan mencerahkan.
“Burung garuda itu tidak akan mengepakkan sayapnya seandainya dia berhenti. Demikian juga ‘Aisyiyah, kita tidak akan berhenti bergerak. Angin boleh berhembus, tantangan boleh datang, tetapi sayap perjuangan ‘Aisyiyah harus tetap kuat,” tegasnya. (Cris)

