Belajar Kaya, Bukan Sekadar Ingin Kaya; Menumbuhkan Kesadaran Ekonomi Keluarga Muhammadiyah
Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II, Jakarta Timur, pemerhati Kebijakan Publik
Kita sering bertanya, mengapa sebagian orang bisa menjadi sangat kaya? Tetapi kita jarang bertanya lebih jauh: apa yang mereka lakukan sehingga kekayaan itu bisa tumbuh, bertahan, bahkan diwariskan lintas generasi?
Pertanyaan itu menjadi menarik ketika Buya Anwar Abbas menyampaikannya dalam ceramah pada Pengajian Hari Bermuhammadiyah PDM Jakarta Timur di Masjid Al Khairat, PRM Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Buya mengungkap sejumlah prinsip yang selama ini sering dikaitkan dengan etos sebagian pengusaha Tionghoa: hidup hemat, berhati-hati dalam berutang, menjaga perputaran modal, serta tidak selalu mengejar keuntungan setinggi-tingginya.
Pernyataan itu tentu tidak boleh dipahami sebagai generalisasi bahwa semua orang Tionghoa memiliki karakter yang sama. Tetapi justru di sinilah pertanyaan yang lebih produktif muncul: kalau ada etos yang terbukti membantu sebagian orang membangun keberhasilan ekonomi, mengapa kita tidak mempelajarinya? Bukan untuk meniru etnisnya. Tetapi untuk mengambil hikmahnya.
Daftar orang terkaya Indonesia memberikan fenomena yang menarik. Dalam daftar Forbes 2025, sembilan dari sepuluh entri teratas memiliki latar belakang Tionghoa-Indonesia, sementara satu lainnya, Sri Prakash Lohia, berlatar India. Posisi teratas ditempati keluarga Hartono, Prajogo Pangestu, keluarga Widjaja, Low Tuck Kwong, Anthoni Salim, Otto Toto Sugiri, Tahir, Marina Budiman, dan keluarga Tanoko.
Tentu ada catatan metodologis. Forbes mencantumkan sebagian sebagai individu dan sebagian sebagai keluarga. Karena itu, lebih tepat mengatakan sembilan dari sepuluh entri teratas, bukan sembilan dari sepuluh orang Indonesia terkaya.
Data tersebut juga tidak membuktikan bahwa etnis adalah penyebab kekayaan. Tetapi fenomenanya terlalu menarik untuk diabaikan.
Apalagi jika dibandingkan dengan proporsi penduduk Indonesia. Berbagai penelitian demografi memperkirakan jumlah penduduk Tionghoa-Indonesia hanya sebagian kecil dari total penduduk Indonesia. Karena itu, kehadiran mereka yang sangat menonjol dalam kelompok konglomerat dan orang terkaya layak menjadi objek kajian.
Pertanyaannya bukan lagi: “Mengapa mereka kaya?” Pertanyaan yang lebih penting bagi kita adalah: “Apa yang dapat kita pelajari dari proses mereka membangun kekayaan?” Bukan sekadar soal etnis
Penelitian mengenai bisnis Tionghoa-Indonesia menunjukkan bahwa keberhasilan tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor budaya atau etnis.
Ada sejumlah faktor yang saling berkelindan: kerja keras, disiplin, hidup hemat, kepercayaan, jaringan keluarga, hubungan bisnis, kemampuan mengakumulasi modal, pendidikan kewirausahaan, serta kesinambungan usaha lintas generasi.
Konsep kepercayaan dan jaringan—yang dalam sejumlah literatur bisnis Tionghoa dikaitkan dengan guanxi dan xinren—menjadi salah satu modal penting dalam membangun hubungan dengan pemasok, pelanggan dan mitra usaha.
Dengan demikian, modal bisnis tidak hanya berupa uang. Kepercayaan juga modal. Jaringan juga modal. Reputasi juga modal. Pengetahuan juga modal.Inilah yang sering tidak terlihat ketika kita hanya melihat hasil akhirnya: sebuah perusahaan besar dan kekayaan yang fantastis. Di belakangnya bisa terdapat proses puluhan tahun, bahkan beberapa generasi.
Salah satu pelajaran yang menarik adalah soal hidup hemat. Hemat sering disalahpahami sebagai hidup serba kekurangan. Padahal dalam ekonomi keluarga, hemat berarti kemampuan mengendalikan konsumsi agar sebagian pendapatan dapat menjadi modal masa depan.
Ada perbedaan besar antara: pendapatan → konsumsi → habis
dengan: pendapatan → kebutuhan → tabungan → modal produktif → berkembang.
Keluarga yang seluruh penghasilannya habis untuk konsumsi akan sulit membangun aset. Sebaliknya, keluarga yang mampu menyisihkan sebagian pendapatan dan mengubahnya menjadi aset produktif memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki kesejahteraannya.
Karena itu, pesan “hemat” sebenarnya bukan milik satu etnis. Ia adalah prinsip ekonomi yang universal. Dalam Islam bahkan terdapat pesan yang sangat jelas tentang larangan berlebih-lebihan dan pentingnya keseimbangan dalam membelanjakan harta.
Keluarga harus menjadi sekolah ekonomi
Di sinilah persoalan kita menjadi lebih serius. Banyak keluarga Muslim sangat serius mempersiapkan anak untuk memperoleh pendidikan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
Itu penting. Tetapi apakah kita juga mengajarkan anak bagaimana mengelola uang, membangun usaha, menciptakan aset, dan menciptakan lapangan pekerjaan?
Sebagian penelitian mengenai keluarga pengusaha Tionghoa-Indonesia menunjukkan bahwa anak sering diperkenalkan kepada dunia usaha sejak dini. Mereka belajar tanggung jawab, disiplin, komunikasi, pelayanan, dan pengelolaan usaha melalui keterlibatan langsung. Artinya, keluarga tidak hanya menjadi tempat mewariskan harta. Keluarga menjadi sekolah kewirausahaan.
Ini pelajaran penting bagi keluarga Muhammadiyah. Jangan hanya mewariskan rumah kepada anak. Wariskan pula kemampuan mengelola rumah itu.
Jangan hanya memberikan modal. Wariskan kemampuan mengembangkan modal.
Jangan hanya mewariskan pekerjaan. Wariskan mentalitas menciptakan pekerjaan.
Jangan alergi terhadap perdagangan Islam tidak pernah memandang perdagangan sebagai pekerjaan kelas dua.
Rasulullah SAW dikenal sebagai seorang pedagang. Dalam tradisi Islam, perdagangan justru ditempatkan dalam kerangka kejujuran, amanah dan keadilan. Karena itu, prinsip “kalau bisa menjual dengan harga yang wajar, mengapa harus mengambil keuntungan berlebihan?” dapat dibaca sebagai etika bisnis.
Tentu pedagang tetap berhak mendapatkan keuntungan. Tetapi keuntungan tidak boleh dibangun di atas penipuan, manipulasi dan eksploitasi. Keuntungan yang sehat adalah keuntungan yang membuat pedagang hidup, pelanggan merasa adil, dan hubungan bisnis dapat berlangsung panjang.
Di sinilah kepercayaan menjadi sangat penting. Pelanggan yang percaya akan kembali. Pemasok yang percaya akan memberikan kesempatan. Mitra yang percaya akan membuka jaringan. Dan reputasi yang baik dapat menjadi modal yang nilainya bahkan lebih besar daripada uang.
Pernyataan bahwa pengusaha Tionghoa secara umum “tidak mau berutang dengan bunga” perlu ditempatkan secara hati-hati. Belum ada bukti penelitian yang cukup untuk menjadikannya karakter umum seluruh pengusaha Tionghoa-Indonesia. Namun prinsip kehati-hatian terhadap utang tetap relevan.
Utang produktif yang terukur dapat membantu ekspansi usaha. Sebaliknya, utang konsumtif dapat mempersempit ruang gerak keluarga.
Bagi keluarga Muslim, persoalannya bahkan lebih mendasar: bagaimana membangun usaha dengan pembiayaan yang sehat dan sesuai prinsip syariah, sambil memperkuat modal sendiri.
Karena itu, budaya yang perlu kita bangun adalah: jangan konsumtif, jangan mudah berutang, perkuat tabungan, bangun modal, dan putar keuntungan untuk kegiatan produktif.
Muhammadiyah punya modal yang jauh lebih besar Di sinilah refleksi ini seharusnya bermuara.
Muhammadiyah sebenarnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Ada masjid. Ada sekolah. Ada perguruan tinggi. Ada rumah sakit. Ada Lazismu. Ada organisasi otonom. Ada ribuan ranting. Ada jutaan keluarga dan warga Muhammadiyah.
Pertanyaannya: Sudahkah modal sosial itu kita ubah menjadi kekuatan ekonomi keluarga dan umat?
Kita tidak kekurangan pengajian. Tetapi jangan sampai pengajian hanya menghasilkan kesalehan individual tanpa memperkuat kemandirian ekonomi jamaah. Kesadaran ekonomi harus menjadi bagian dari dakwah.
Dari ranting membangun ekonomi keluarga
Karena itu, pelajaran dari pengajian seharusnya tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Ranting dapat menjadi tempat memulai Gerakan Kesadaran Ekonomi Keluarga. Tidak harus dimulai dengan proyek besar. Mulailah dengan lima langkah sederhana:
Pertama, pendataan. Kenali siapa yang memiliki usaha, keterampilan, modal dan jaringan.
Kedua, edukasi. Ajarkan keluarga tentang pengelolaan keuangan, menabung, investasi halal, usaha dan risiko utang.
Ketiga, kolaborasi. Hubungkan usaha jamaah dengan jamaah lainnya sehingga tercipta pasar internal.
Keempat, penguatan modal. Kembangkan skema pembiayaan syariah, koperasi atau bentuk usaha bersama yang sehat dan transparan.
Kelima, kaderisasi. Libatkan anak muda agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi menjadi pelaku usaha dan pencipta lapangan kerja.
Dengan demikian, ranting bukan hanya tempat berkumpul dan mengaji. Ranting menjadi ekosistem dakwah, sosial dan ekonomi.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadikan orang Tionghoa sebagai lawan pembanding. Kita juga tidak perlu mengagungkan mereka. Yang diperlukan adalah kejujuran untuk belajar dari keberhasilan siapa pun.
Jika ada yang berhasil karena kerja keras, kita belajar kerja keras. Jika ada yang berhasil karena hemat, kita belajar hemat. Jika ada yang berhasil karena menjaga kepercayaan, kita belajar amanah. Jika ada yang berhasil karena membangun jaringan keluarga, kita belajar membangun ukhuwah dan jaringan ekonomi umat. Jika ada yang berhasil mewariskan usaha lintas generasi, kita belajar menyiapkan generasi penerus.
Kita tidak sedang belajar menjadi seperti mereka. Kita sedang belajar menjadi Muhammadiyah yang lebih mandiri. Sebab persoalan umat bukan hanya bagaimana mencetak orang pintar dan orang saleh.
Umat juga membutuhkan keluarga yang kuat secara ekonomi.
Dari rumah harus dimulai.
Dari keluarga harus tumbuh.
Dari ranting harus digerakkan.
Sebab Muhammadiyah yang berkemajuan bukan hanya Muhammadiyah yang banyak masjid, sekolah, dan rumah sakitnya. Tetapi Muhammadiyah yang keluarganya kuat secara iman, ilmu, dan ekonomi—sehingga mampu berdiri dengan martabat dan memberi manfaat lebih luas bagi bangsa.

