YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di ruang ber-AC yang cukup luas, lebih tepatnya di aula gedung Grha Suara Muhammadiyah, rombongan beranggotakan 15 orang dari Surabaya itu mengutarakan niatnya. Intinya mereka ingin belajar. Menggali beragam informasi tentang keredaksian majalah Islam tertua. Yang mana harapan dari kunjungan ini dapat diaplikasikan untuk pengembangan majalah sekolah yang dikelola SD Muhammadiyah 4 Pucang.
Berlatar belakang pendidik di salah satu lembaga pendidikan dasar terbaik di Jawa Timur, rombongan yang dipimpin Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, Aliyatuz Zakiyah, mereka menunjukkan antusias yang tinggi. Komunikasi yang berlangsung pun lebih banyak dialog daripada monolog.
Menurut Zakiyah, Suara Muhammadiyah bukan sekedar majalah biasa. Tapi media dakwah sekaligus syiar Islam berkemajuan yang telah berusia lebih dari satu abad. Usia yang menurutnya menjadi cermin dari sebuah konsistensi yang mengakar sejak lama.
“Tujuan kami datang ke Suara Muhammadiyah bahwa kita ingin belajar, tentang bagaimana mengelola media. Yang kedua, kita ingin tahu bagaimana tips memelihara konsistensi,” ujarnya.
Diterima langsung oleh Menejer Perbitan Suara Muhammadiyah, Ganjar Sri Husodo. Ia memaparkan tentang bagaimana dunia literasi hari ini bekerja. Di tengah dunia yang terus berubah. Segala hal telah bertransformasi ke digital untuk bertahan agar tetap eksis, tak tekecuali majalah Suara Muhammadiyah. Meski telah beralih ke bentuk digital tanpa meninggalkan bentuk fisik, tantangan yang dihadapi pun semakin beragam.
Menurutnya, penguatan literasi digital di Muhammadiyah menjadi sesuatu sekaligus modal yang amat penting. Di tengah ancaman isu last paper, skill dan budaya literasi dapat menjadi benteng penyelamat bagi keberadaan majalah, koran, maupun buku dalam wujud fisik.
“Meski kita sekarang dihantam dengan isu last paper, yang mana penggunaan kertas hari ini dianggap tidak ramah lingkungan, Suara Muhammadiyah masih tetap terbit,” ucap Ganjar.
Hal ini, menurut pria lulusan keguruan yang saat ini tersesat di dunia jurnalistik, sebagai media komunitas, Suara Muhammadiyah memiliki kekuatan dan keunikan tersendiri yang tak dimiliki oleh media mainstrem. Kekuatan itu di antaranya segmen pembaca Suara Muhammadiyah yang cenderung ideologis dan setia.
Namun, mengandalkan segmen pembaca saja menurutnya belum cukup untuk eksis. Perlu ada inovasi yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, yaitu pengatan di aspek digital dalam bentuk apapun.
“Kalau majalah pengen eksis, segmen digitalnya harus terus dikuatkan,” tegas Ganjar.
Apalagi trend perusahaan media besar hari ini adalah pengembangan di berbagai sektor melalui amal usaha di luar jurnalisme dan penerbitan. Mulai dari bisnis penginapan, ekspedisi, ritel, hingga penyedia bahan pokok bagi masyarakat. Pergeseran ini perlu dibaca sebagai penanda zaman bahwa dunia hari ini bertopang pada sistem besar bernama digitalisasi. (diko)

