YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Cabang Nominasi Cabang Unggul ‘Aisyiyah DIY Tahun 2026, Sabtu–Ahad, 22–23 Agustus 2026, di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachruddin A Lantai 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Mengusung tema “Menguatkan Fondasi, Memperluas Dampak: Menuju Cabang ‘Aisyiyah Unggul Berkemajuan”, kegiatan ini menjadi bagian dari Program Cabang dan Ranting ‘Aisyiyah Unggul DIY Tahun 2026 sekaligus upaya PWA DIY memperkuat kapasitas Cabang agar semakin berdaya, bergerak, dan berdampak.
Dalam sambutannya, Ketua PWA DIY Widiastuti menegaskan, program Cabang Unggul merupakan salah satu program unggulan ‘Aisyiyah DIY. Menurutnya, predikat Cabang Unggul tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan administrasi, tetapi harus ditunjukkan melalui inovasi, kebermanfaatan, dampak, dan keberlanjutan program.
“Cabang unggul bukan kegiatan administratif. Di dalamnya harus ada inovasi, berdampak, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Bimtek menjadi penting untuk menyamakan persepsi mengenai standar Cabang Unggul yang selaras dengan visi perempuan berkemajuan. Juga, menjadi ruang untuk memperkuat administrasi organisasi, memunculkan stimulan dan ide-ide inovatif, serta mendorong lahirnya program pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Jangan dijadikan beban, tetapi menjadi bagian dari fastabiqul khairat. Mari kita memotret diri, melakukan evaluasi, kemudian melakukan perbaikan,” ujarnya.
Sementara, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah menekankan, Bimtek merupakan bagian dari proses evaluasi untuk melihat sejauh mana Cabang mampu mengembangkan gerakannya.
Menurutnya, Cabang yang unggul tidak hanya ditandai oleh tertib administrasi. Keunggulan juga tercermin dari kemampuan menyiapkan kader yang berkualitas, membangun jejaring, memiliki tata kelola organisasi yang baik, menguatkan ideologi, serta mampu memanfaatkan media untuk memperluas pengaruh gerakan.
“Cabang yang unggul bukan hanya administratif. Harus mampu menyiapkan kader unggul, memiliki jaringan, tata kelola organisasi yang baik, ideologi yang kuat, termasuk kemampuan memanfaatkan media,” jelasnya.
Salmah mendorong setiap Cabang untuk berani mengevaluasi program yang selama ini dijalankan. Program yang belum ada perlu mulai dirancang, sedangkan program yang sudah berjalan tetapi belum memberikan dampak perlu diperbaiki atau diganti dengan program yang lebih memberikan manfaat.
Ia juga mengajak Cabang untuk melihat potensi Amal Usaha Muhammadiyah/‘Aisyiyah (AUM/ AUA) yang dapat dikembangkan dan diunggulkan sebagai bagian dari kekuatan gerakan.
“Program apa yang belum ada harus dimulai. Yang tidak berdampak, diganti dengan yang lebih berdampak,” pesannya.
Lebih lanjut, Salmah menegaskan bahwa menjadi Cabang Unggul bukanlah beban sekaligus bukan pula tujuan akhir. Keunggulan harus menjadi proses untuk membangun ‘Aisyiyah yang semakin berkualitas kadernya, semakin luas manfaatnya, dan semakin besar kontribusinya bagi kemanusiaan dan bangsa.
“Unggul harus bisa dirasakan keberadaannya. Unggul dalam amal dan pelayanan, serta unggul dalam dakwah kemasyarakatan,” tandasnya.

