Buka Rakornas LDK, Haedar Nashir Tegaskan Dakwah Muhammadiyah Harus Menyasar Seluruh Lapisan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
54
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan amanatnya dalam pembukaan Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (29/1).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan amanatnya dalam pembukaan Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (29/1).

SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi kader dan aktivis Muhammadiyah untuk takut berkompetisi dalam menjalankan amanah organisasi. Menurutnya, kompetisi yang sehat justru menjadi bagian dari dinamika dakwah dan pembaruan Muhammadiyah. Hal itu disampaikan Haedar saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

“Tidak perlu takut berkompetisi di Muhammadiyah, karena Ketua Umumnya tidak terlibat,” ujar Haedar disambut tepuk tangan peserta Rakornas. Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa Muhammadiyah dibangun di atas sistem kolektif-kolegial, bukan dominasi personal atau kepentingan kelompok tertentu.

Rakornas LDK PP Muhammadiyah yang kedua ini memiliki makna tersendiri. Selain menjadi forum konsolidasi dakwah komunitas secara nasional, kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh nasional lintas latar belakang. Kehadiran mereka menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah terus menarik perhatian dan relevan di tengah dinamika sosial kebangsaan.

Dalam pidatonya, Haedar mengajak peserta Rakornas untuk menengok kembali akar ideologis dan historis Muhammadiyah. Sejak awal berdirinya pada 1912, Muhammadiyah telah meletakkan pondasi yang sangat kokoh sebagai gerakan dakwah dan tajdid (pembaruan). Seluruh orientasi dan karakter gerakan Muhammadiyah hari ini, menurutnya, sejatinya telah dirintis dan dirumuskan oleh para pendiri.

“Semua dasar gerakan Muhammadiyah hari ini, fondasinya sudah diletakkan oleh para pendiri. Kita ini sesungguhnya melanjutkan, meneruskan, dan mengembangkan apa yang telah mereka rintis,” jelas Haedar.

Salah satu fondasi terpenting Muhammadiyah, lanjut Haedar, adalah praktik dan pemikiran Al-Ma’un yang digagas langsung oleh pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan. Al-Ma’un tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi diterjemahkan sebagai praksis sosial yang nyata dalam kehidupan umat.

Menurut Haedar, Kiai Dahlan menempatkan Al-Ma’un sebagai teologi welas asih yang melintas batas. Dakwah tidak boleh eksklusif, apalagi membangun sekat sosial. Al-Ma’un bukan hanya milik orang miskin, tetapi juga orang kaya. Semua memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama dalam membangun kehidupan yang berkeadilan.

“Al-Ma’un itu inklusif. Bukan teologi untuk satu golongan. Orang miskin membutuhkannya, orang kaya pun memerlukannya. Bahkan mereka yang berada di lapisan atas juga ingin masuk surga,” tegas Haedar.

Spirit Al-Ma’un inilah yang kemudian melahirkan wajah khas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membumi. Dari semangat welas asih dan pembaruan itu muncul berbagai amal usaha seperti rumah sakit, sekolah, panti asuhan, serta berbagai layanan sosial lainnya. Semua itu bukan sekadar institusi, melainkan ekspresi konkret dakwah yang menjawab kebutuhan zaman.

Namun, Haedar mengingatkan bahwa tantangan dakwah Muhammadiyah hari ini jauh lebih kompleks. Masyarakat semakin terfragmentasi, problem sosial semakin beragam, dan pendekatan dakwah tidak bisa lagi bersifat umum semata. Karena itu, ia menekankan pentingnya mempertajam orientasi dakwah, terutama yang menjadi wilayah garapan Lembaga Dakwah Komunitas.

“Dakwah Muhammadiyah ke depan perlu menyasar segmentasi yang lebih kecil, yang mikro, dengan pendekatan yang semakin khusus,” ujarnya.

Segmentasi mikro tersebut, menurut Haedar, mencakup komunitas-komunitas spesifik yang selama ini kerap luput dari sentuhan dakwah arus utama. Dakwah komunitas harus hadir dengan empati, pemahaman sosial yang mendalam, serta strategi yang kontekstual, bukan semata-mata ceramah formal.

Di sisi lain, Haedar juga menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak boleh melupakan kelompok masyarakat kelas atas. Selama ini, dakwah sering kali identik dengan kelompok marginal, padahal kalangan atas juga memiliki kegelisahan spiritual dan kebutuhan akan bimbingan keagamaan.

“Kita jangan lupa menyasar kalangan atas. Mereka juga ingin masuk surga,” katanya.

Pernyataan ini menjadi penutup reflektif dari pidato Haedar. Dakwah Muhammadiyah, dalam pandangannya, harus terus bergerak di dua kutub sekaligus: membela dan memberdayakan kelompok bawah, sekaligus menyapa dan membimbing kelompok atas. Semua dilakukan dalam kerangka dakwah yang inklusif, berkemajuan, dan berlandaskan spirit Al-Ma’un.

Rakornas LDK PP Muhammadiyah ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk merumuskan langkah-langkah dakwah komunitas yang lebih tajam, relevan, dan berdampak luas. Dengan berpijak pada fondasi kokoh para pendiri dan keberanian menghadapi tantangan baru, Muhammadiyah diyakini akan terus menjadi gerakan dakwah yang mencerahkan dan memajukan kehidupan umat serta bangsa. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Kolaborasi Mahasiswa KKN ITB Ahmad Dahlan dan Swara Peduli Indonesia   JAKARTA, Suara Muh....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Berita

LAMTIM, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMK Muhammadiyah 1 Labuhan....

Suara Muhammadiyah

4 April 2024

Berita

Rumuskan Lima Langkah Strategis Majukan Kampus SINJAI, Suara Muhammadiyah - Dr. Suriati, M.Sos.I me....

Suara Muhammadiyah

3 January 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Atip Latip....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Berita

KULONPROGO, Suara Muhammadiyah - Sebuah pelatihan bertajuk “Pelatihan Konten Media Sosial&rdqu....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025