JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tahun baru bukan sesuatu yang spesial. Demikian tegas Amirsyah Tambunan, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia. “Yang spesial itu bukan di jam 00:00 malamnya, tapi bangun 1/3 malam,” katanya.
Terlebih spesial yang lainnya lagi, bukan menunggu detik-detik pergantian tahun, tapi menunggu azan subuh. “Jadi bukan shalat yang menunggu kita, tapi kita yang menunggu waktu shalat,” jelasnya.
Termasuk, upaya untuk bangun lebih awal. “Untuk bisa shalat subuh berjamaah,” tuturnya. Pun juga bukan yang menghambur-hamburkan harta dengan pesta pora, tapi dengan bersedekah. “Untuk orang yang membutuhkan,” sambungnya.
Dan, yang lebih utama, bersimpuh kepada Allah. “Memanjatkan doa pada-Nya,” tambahnya saat dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah secara daring, Jumat (2/1).
Di situlah berlaku muhasabah diri. “Ini menjadi habit (kebiasaan) kita,” kata Amirsyah. Yang diperkuat oleh Umar bin Khattab RA bahwa muhasabah ini berimplikasi pada ringannya hiasab di hari kiamat bagi orang-orang yang gemar mengoreksi diri di dunia.
“Kalau jarang mengintrospeksi diri, akan terasa berat. Karena tidak terbiasa mengoreksi diri,” ulas Amirsyah.
Karena itu, tepatlah pada momentum pergantian tahun dijadikan kesempatan bermuhasabah. “Waktu terbaik untuk bercermin, menilai langkah yang telah dilalui,” jelasnya, menekankan titik awal keberangkatan memperbaiki arah ke depan.
“Tahun 2026 datang sebagai pengingat bahwa usia terus berkurang, maka sudah seharusnya iman dan amal terus bertambah,” imbuhnya lagi.
Soal ini memiliki keterpautan dengan waktu. Bahwa setiap pergantian tahun, sebut Amirsyah, mengajarkan waktu adalah amanah. “Yang kelak dipertanggungjawabkan,” katanya. Maka, ia mendorong untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan memperbaiki akhlak.
“Muhasabah di awal tahun mengingatkan bahwa Allah selalu memberi kesempatan untuk berubah,” tegasnya, yang juga Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut. (Cris)

