MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah, dari dapur ke tempat pembuangan, dari kota ke laut, dari kehidupan kita hari ini ke beban generasi esok. Persoalannya bukan seberapa banyak kita membuang, tetapi seberapa serius kita mengelolanya.
Mengubah perspektif dari “membuang” menjadi “mengelola” menjadi pesan utama dalam Seminar Nasional Online bertajuk ‘Sampah Tuntas: Kolaborasi ‘Aisyiyah, Pemerintah, dan Masyarakat untuk Solusi Sampah Berkelanjutan’ yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan pada Sabtu, 21 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan HPSN (Hari Peduli Sampah Nasional).
Ketua LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. Rahmawati Husein, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa situasi sampah di Indonesia telah mencapai tahap darurat. Ia menyampaikan bahwa Indonesia kini berada di posisi kelima penyumbang sampah plastik terbesar di dunia dan peringkat kedua penghasil sampah makanan.
Ia mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip 7R sebagai langkah sederhana namun berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari. “Kita perlu memulai dari Rethink dengan menimbang kembali kebutuhan sebelum membeli, Refuse dengan menolak barang sekali pakai, Reduce dengan mengurangi potensi sampah, Reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak, Repair dengan memperbaiki daripada membuang, Recycle dengan mendaur ulang, serta Rot atau Regift dengan mengomposkan sampah organik atau memberikan barang layak pakai kepada orang lain,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan berbagai inisiatif berbasis komunitas yang telah digerakkan LLHPB ‘Aisyiyah seperti Green Ramadan dan Idulfitri, Diet Kantong Plastik di Pasar Tradisional, dan Shodaqoh Sampah perlu diperluas agar amenjadi kebiasaan yang dilakukan bersama.
Perspektif nilai dan tanggung jawab ekologis turut disampaikan oleh Prof. Eymal Bahsar Demmallino dari Universitas Hasanuddin. Ia menekankan bahwa makna manusia sebagai khalifatul fil ard menuntut peran aktif dalam mengelola alam sebaik-baiknya melalui perantara sains, membangun peradaban, serta memelihara dan menjaga keseimbangan alam.
“Kita perlu mengubah cara pandang. Sampah bukan sesuatu yang menjijikkan, tetapi sumber daya yang dapat dikelola,” ujarnya. Menurutnya, gaya hidup konsumtif lahir dari pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya, sehingga perubahan cara berpikir menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan alam. Ia bahkan mendorong agar tempat pembuangan akhir tidak lagi dipandang sebagai lokasi penimbunan, melainkan sebagai ruang pengolahan yang memiliki nilai ekonomi.
Pandangan serupa disampaikan oleh Dr. Aditya Rahman KN dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang mengajak masyarakat melihat sampah sebagai potensi, bukan beban. “Sampah seharusnya dilihat sebagai profit center, bukan cost center,” ungkapnya. “Selama ini, sistem pengelolaan masih bertumpu di hilir, sementara solusi sejati harus dimulai dari rumah tangga,” imbuhnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah, akademisi, dan generasi muda untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dari perspektif pendidikan, Prof. Sulfasyah dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar menekankan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah perilaku. “Anak tidak cukup hanya diberi tahu, tetapi perlu diajak memahami makna pentingnya mengelola sampah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa refleksi akan membentuk makna yang kemudian diinternalisasi menjadi kebiasaan, sehingga jaringan pendidikan ‘Aisyiyah memiliki posisi strategis untuk menanamkan budaya minim sampah sejak dini.
Sementara itu, Dr. Faidah Azuz dari Universitas Bosowa Makassar menegaskan pentingnya keteladanan sosial dalam membangun budaya baru. Ia mencontohkan praktik sederhana seperti membawa tumbler saat rapat atau tidak berlebihan menggunakan air saat berwudhu sebagai langkah kecil yang berdampak besar jika dilakukan bersama. “Aisyiyah memiliki kekuatan solidaritas untuk menjadi teladan. Ketika satu kebiasaan baik dilakukan bersama, ia dapat menjadi norma sosial baru,” tuturnya.
Seminar ini ditutup dengan pembacaan Deklarasi Bersama Gerakan Peduli Sampah Berkelanjutan oleh Ketua LLHPB Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Erma Suryani Sahabuddin.
Deklarasi tersebut menegaskan komitmen lintas pihak — pemerintah, akademisi, dan gerakan perempuan ‘Aisyiyah — untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai agenda peradaban, bukan sekadar isu teknis lingkungan. Para pihak sepakat bahwa kepedulian harus ditransformasikan menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan melalui sinergi antara rumah tangga, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah.
Deklarasi ini juga menegaskan bahwa gerakan peduli sampah tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata, kebijakan yang mendukung, serta pembentukan budaya baru di masyarakat. Sebagai tindak lanjut, hasil pertemuan ini akan menjadi dasar pengembangan program yang terstruktur, terukur, dan berdampak luas demi menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Sebagai penutup, moderator Dr. Fatmawati A. Mappasere dari Universitas Muhammadiyah Makassar merangkum bahwa melalui seminar ini, ‘Aisyiyah menegaskan perannya sebagai penggerak perubahan budaya, bukan sekadar pelaksana program lingkungan.
Kegiatan yang diikuti oleh 474 peserta dari unsur ‘Aisyiyah dan masyarakat umum ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa melalui kekuatan jaringan komunitas, pendidikan, dan keteladanan sosial, ‘Aisyiyah mendorong gerakan pengelolaan sampah yang berawal dari rumah tangga, berkembang di komunitas, dan meluas menjadi kesadaran publik sebagai bagian dari upaya membangun peradaban yang lebih berkelanjutan. (diko)

