YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam petualangan di belantara kehidupan, niscaya ditemukan riak cobaan yang tidak bisa dihindari. Demikian Agus Taufiqurrahman mengemukakan dengan tegas.
Agus menegaskan hal itu menukil Qs Al-Baqarah ayat 155. Secara redaksional, manifestasi cobaan itu berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
"Semua akan diberikan cobaan itu. Di antara orang yang mendapatkan cobaan itu, ada orang yang beruntung ketika mendapatkan cobaan itu," katanya.
Karena itu, dengan terpaan cobaan yang diberondongkan Tuhan kepada manusia, jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi.
"Kita pasti pernah mendapat cobaan yang berat," tuturnya saat ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (22/2).
Sebab hal itu, Allah sesungguhnya memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan setiap personal hamba-Nya. Tidak pernah keluar dari kemampuan tersebut.
"Maka yang harus kita lakukan ketika menghadapi cobaan itu yakin betul bahwa cobaan ini diberikan Allah tidak akan melebihi kemampuan kita menghadapi cobaan itu," jelas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Pada saat yang sama, harus yakin Allah akan membimbing para hamba-Nya dalam melewati dan menghadapi cobaan yang diberikan.
"Menjadi penting bagi kita untuk selalu mengenali kekuatan, kelemahan, mengoptimalkan potensi dan mengeliminasi kelemahan yang kita miliki," tuturnya, yang hal ini sebagai langkah resiliensi terhadap permasalahan yang akan dihadapi dalam kehidupan.
Kuncinya terletak pada syukur. Hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, sebut Agus, tetap harus disyukuri. "Kesyukuran itu menjadikan kebaikan," ujarnya.
Demikian pula dengan realitas jauh panggang dari api, harus dihadapi dengan kesabaran. "Dan karena sabarnya menjadikan semua baginya menjadi baik," tegasnya.
Dua variabel itu menjadi bantalan vital dalam menghadapi kungkungan permasalahan di tengah rimba kehidupan. (Cris)

