PULANG PISAU, Suara Muhammadiyah — Menjadi seorang kader tidak cukup hanya memahami urusan organisasi. Kader juga dituntut peka membaca perubahan, memahami persoalan di tengah masyarakat, serta mampu mewujudkan gagasan ke dalam aksi nyata.
Pesan itu mengemuka pada pembukaan Darul Arqam Dasar (DAD) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pulang Pisau di Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) Daerah Pulang Pisau, yang berlangsung 18–20 September 2026.
Mengangkat tema “Optimalisasi Peran Kader dalam Menjawab Tantangan Zaman”, DAD ini menjadi wadah perkaderan mahasiswa untuk memperkuat kapasitas diri dan bersiap mengambil peran di masyarakat.
Acara pembukaan dihadiri oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pulang Pisau Najmuddin, Ketua DPD IMM Kalimantan Tengah Aris Pratama Gunawan, Ketua DPRD Kabupaten Pulang Pisau Tandean Indra Bela, jajaran Polres dan Kejaksaan Negeri Pulang Pisau, pengelola Kampus 3 UMPR Daerah Pulang Pisau, PD 'Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Badan Pengurus Lazismu, serta unsur persyarikatan lainnya.
Ketua PC IMM Pulang Pisau, Muhammad Syahrial Adri, menyampaikan bahwa proses perkaderan di Pulang Pisau memiliki tantangan tersendiri, salah satunya karena belum adanya perguruan tinggi reguler. Oleh karena itu, pendekatan kaderisasi IMM perlu disesuaikan dengan realitas daerah.
Meski demikian, minat mahasiswa untuk berproses di IMM menjadi modal berharga bagi kelanjutan ikatan. Syahrial mengajak para kader untuk mengenali kondisi daerah terlebih dahulu sebelum menentukan langkah gerakan.
Mengutip pemikiran cendekiawan Islam kontemporer Ali Syariati, ia menekankan bahwa memikirkan dari mana gerakan bermula harus dibarengi kesadaran tentang tempat gerakan itu berpijak.
“Kita perlu merumuskan konsep-konsep kita mulai dari mana secara serius dan perlu dipikirkan strategi-strategi bertahap. Tidak hanya sebatas konseptual, tetapi perlu implementasi-implementasi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ujarnya.
IMM Diharapkan Menghadirkan solusi
Saat membuka kegiatan, Ketua PDM Pulang Pisau Najmuddin mengingatkan pentingnya pengalaman dalam proses pembentukan karakter.
“Pengalaman adalah sesuatu yang bisa membuat kita lebih baik. Jadi, persiapan itu sangat penting,” tuturnya.
Najmuddin meminta IMM terus menjalin kolaborasi dengan pihak luar dan tidak terpaku pada kegiatan internal saja. Mahasiswa diharapkan terbiasa memandang persoalan secara jernih dan turut mencari jalan keluar bersama.
“Sekarang kita perlu solusi. Kita mencari solusi dari persoalan-persoalan yang ada. Tidak perlu kita menyalahkan, kita cari solusi bersama,” kata Najmuddin.
Ia mencontohkan masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di Kalimantan Tengah. Menurutnya, mahasiswa bisa ikut andil sesuai peran sesuai kemampuan.
Najmuddin juga menambahkan, DAD bukan semata-mata mengharuskan peserta langsung menjadi warga Muhammadiyah, melainkan menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat nilai, cita-cita, dan arah gerakan Muhammadiyah.
Sementara itu Ketua DPD IMM Kalimantan Tengah, Aris Pratama Gunawan, berpesan agar para kader tidak gampang menyerah saat menemui dinamika di organisasi.
“Menjadi kader Muhammadiyah itu berat. Jika ragu dan bimbang, lebih baik lawan dan bertahan,” ucapnya.
Menurut Aris, IMM merupakan tempat belajar yang tepat sebelum mahasiswa melangkah ke masyarakat yang sesungguhnya.
Terkait karhutla, ia mengajak kader tidak cuma mengkritik, melainkan ikut beraksi nyata melalui kolaborasi.
DPD IMM Kalteng sendiri menyiapkan agenda penyaluran masker, multivitamin, air bersih, serta logistik untuk para relawan.
Ketua DPRD Kabupaten Pulang Pisau, Tandean Indra Bela, dalam sesi stadium general mengajak mahasiswa tetap kritis, berpikiran terbuka, dan berani menyuarakan aspirasi warga demi pembangunan daerah. Berorganisasi dinilainya sebagai wadah yang baik untuk mengasah kepemimpinan dan belajar memecahkan masalah. (Bon)

