Dahlan Rais: Karakter Egaliter Jadi Ciri Kuat Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

29 September 2026

155
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Karakter egalitarian merupakan salah satu ciri kuat dalam kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah. Dahlan Rais mengungkapkan bahwa tradisi tersebut perlu terus dirawat sebagai bagian dari karakter Muhammadiyah yang menempatkan manusia dalam kedudukan yang setara.

“Egalitarian itu merupakan salah satu ciri yang kuat di Muhammadiyah. Jadi dalam Islam banyak kelompok, banyak golongan, juga banyak organisasi. Kalau bicara egalitarian, Muhammadiyah berada di depan,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahlan Rais dalam Gerakan Subuh Mengaji Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat, Senin (28/9).

Selain egalitarian, Dahlan menyebut sejumlah karakter yang menurutnya melekat dalam kehidupan Muhammadiyah, di antaranya guyub dan rukun, tertib dan teratur, memiliki semangat memberi, serta bekerja keras. Ia menilai karakter tersebut menjadi kekuatan yang membuat Persyarikatan mampu mengelola berbagai amal usaha dalam jumlah besar.

Dalam agenda rutin secara daring itu, Dahlan Rais menyampaikan materi bertema “Merawat Tradisi Egaliter dan Meneladani Guru Bangsa di Persyarikatan”. “Menurut saya Muhammadiyah itu yang pertama sebuah organisasi yang guyub rukun. Muhammadiyah itu guyub rukun, Muhammadiyah itu akur satu dengan yang lain,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya tradisi tertib dan teratur dalam kehidupan organisasi. Menurutnya, keteraturan tersebut tercermin dalam jenjang permusyawaratan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, mulai dari tingkat pusat hingga ranting.

Karakter berikutnya, kata Dahlan, adalah semangat memberi. Menurutnya, warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bergabung dalam Persyarikatan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan dengan niat memberikan kontribusi. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan ajaran Islam mengenai amal saleh dan ihsan yang pada akhirnya kembali kepada pelakunya.

Dahlan juga menyebut warga Muhammadiyah sebagai pekerja keras. Ia mengaitkan karakter tersebut dengan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang memiliki dimensi dakwah, ilmu, amal, dan tajdid. Menurutnya, semangat bekerja dan mengelola amal usaha menjadi bagian penting dari perjalanan Persyarikatan.

Memasuki pembahasan egalitarian, Dahlan menegaskan bahwa Islam telah mengajarkan kesetaraan manusia jauh sebelum gagasan kesetaraan berkembang dalam pemikiran modern. Ia mengutip prinsip Al-Qur’an bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh pangkat, jabatan, jenis kelamin, atau status sosial, melainkan oleh ketakwaannya.

Menurut Dahlan, prinsip tersebut juga tercermin dalam relasi laki-laki dan perempuan. Ia menyebut keduanya memiliki kedudukan yang saling melengkapi dan tidak semestinya ditempatkan dalam hierarki yang merendahkan salah satu pihak.

Dalam konteks kehidupan Persyarikatan, Dahlan mencontohkan tradisi penghormatan yang relatif sederhana dan egaliter. Ia mengatakan Muhammadiyah tidak membudayakan praktik penghormatan yang berlebihan kepada tokoh atau pimpinan. Hubungan antarwarga lebih ditekankan pada persaudaraan dan kesetaraan.

“Di Muhammadiyah saya kira enggak ada semacam itu. Jadi sangat egaliter. Equal. Tapi juga sekaligus selain equality, itu juga equity,” jelasnya.

Dahlan kemudian membedakan antara kesetaraan dan keadilan. Menurutnya, prinsip egalitarian dalam Islam tidak selalu berarti setiap orang memperoleh sesuatu dalam bentuk yang sama, tetapi mempertimbangkan keadilan sesuai tanggung jawab dan kondisi masing-masing. Ia mencontohkan pembagian tanggung jawab ekonomi dalam keluarga sebagai salah satu ilustrasi.

Karena itu, ia mengingatkan warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah agar tidak sekadar mengejar penghormatan dari orang lain. Tradisi egaliter, menurutnya, justru perlu diwujudkan dalam sikap sederhana, saling menghargai, dan berorientasi pada pengabdian.

“Di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, jangan berharap untuk dihormati yang berlebihan,” pesannya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 454 siswa mengikuti Salat Asar yang dilaksanakan di halama....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah meningkatnya risiko bencana alam di Indonesia, seke....

Suara Muhammadiyah

7 October 2025

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - SD/MI Muhammadiyah dan Aisyiyah di Kabupaten Purworejo terdapat 9 se....

Suara Muhammadiyah

4 August 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Program Studi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung....

Suara Muhammadiyah

9 July 2024

Berita

LAMANDAU, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamandau, Kalimantan Tenga....

Suara Muhammadiyah

25 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah