SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Saad Ibrahim mengatakan, Al-Qur’an telah membentangkan secara komprehensif kemajuan teknologi, yang pada saat ini menyeruak di seluruh kehidupan. Jauh dari sebelum dunia mengenal era digital.
Urai Saad, tersebut di Qs an-Naml [27] ayat 15-41, di mana menceritakan episode Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Dalam episode ini, menjadi bukti autentik kecepatan informasi dan teknologi sudah diperlihatkan oleh Allah sejak masa kenabian.
“Inilah salah satu dari isi Al-Qur’an. Al-Qur’an telah memberi kita gambaran bahwa teknologi yang lebih dahsyat pernah Allah tunjukkan di masa Nabi Sulaiman,” katanya saat memberikan amanah di Akademi Dai Digital Muhammadiyah Batch 2 Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah, Sabtu (30/8) di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Surabaya, Jawa Timur.
Berjalannya waktu, pada saat ini, perkembangan teknologi tidak bisa dihindari oleh umat manusia. Teknologi terus berkembang dengan aneka produk-produk yang baru dan lebih canggih. Di sinilah relevansinya dai memanfaatkan teknologi dengan cerdas dan bijak dalam menyemai ajaran dakwah di tengah kehidupan masyarakat.
“Dakwah bukan hanya menyentuh mimbar-mimbar masjid, tetapi harus hadir di ruang-ruang digital yang kini menjadi pusat interaksi umat,” tekannya.
Saad mengingatkan, ketidakbijakan di dalam memanfaatkan teknologi, hanya akan menggelindingkan substansi dakwah menjadi tidak tepat pada garis orbitnya. Yakni dakwah tidak menjadi mencerahkan dan menggembirakan, tetapi justru menyesatkan.
“Karena itu, para dai Muhammadiyah harus menguasai teknologi digital, tidak boleh hanya menjadi penonton,” tegasnya.
Saad juga memberikan apresiasi tinggi kepada LDK PP Muhammadiyah atas inisiatif menyelenggarakan Akademi Dai Digital (ADD) ini. Menurutnya, ADD adalah langkah strategis untuk mencetak generasi dai Muhammadiyah yang adaptif, kreatif, dan kompeten dalam memanfaatkan teknologi digital demi menyebarkan dakwah Islam berkemajuan.
“Kita harus melahirkan dai-dai Muhammadiyah yang mampu menggerakkan umat, mencerahkan masyarakat, dan menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui teknologi. Inilah jihad dakwah kita di era digital,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Saad mengingatkan, agar para dai dapat menjadi pemancar suluh pencerahan. Dai dinantikan kehadirannya, yang memiliki fungsionalisasi memberikan wejangan keagamaan yang teduh, mendamaikan, dan menenteramkan kehidupan, lebih-lebih di tengah kemajemukan sebagai ciri khas kehidupan Indonesia.
“Para dai harus menjadi pelopor. Bukan hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga menguasainya untuk memperluas jangkauan dakwah dan membangun peradaban Islam yang tercerahkan,” tandasnya. (Cris)