Dakwah Komunitas Muhammadiyah, Mengangkat Martabat Umat

Muchamad Arifin, SAg., MAg
Muchamad Arifin, SAg., MAg

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Dakwah tidak cukup hanya disampaikan dari mimbar ke mimbar. Ia harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, menyapa komunitas, memahami persoalan, dan menawarkan solusi.

"Dari sanalah dakwah menemukan maknanya sebagai gerakan yang bukan hanya mencerahkan, tetapi juga memberdayakan dan mengangkat martabat umat," ujar Muchamad Arifin ldalam Pengajian Matahari Terbit yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng, Ahad (1/11), di Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya. 

Ketua Lembaga Dakwah dan Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menegaskan, dakwah komunitas bukanlah model dakwah yang baru. Sejak awal, perjalanan dakwah Islam telah tumbuh melalui pendekatan komunitas.

"Rasulullah SAW mengawali pembinaan umat melalui kelompok kecil yang dipusatkan di rumah Arqam bin Abi Arqam. Dari ruang sederhana tersebut lahir generasi yang kemudian menjadi fondasi perubahan peradaban," terangnya.

Semangat serupa juga tercermin dalam perjuangan KH Ahmad Dahlan ketika merintis Muhammadiyah. Dakwah dibangun melalui kedekatan dengan masyarakat, pendidikan, pelayanan sosial, dan kepedulian terhadap persoalan umat.

Menurut Arifin, tantangan dakwah saat ini semakin kompleks. Di tengah kemajuan kota-kota metropolitan, masih banyak masyarakat marginal, komunitas pedalaman, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang membutuhkan pendampingan.

Ditambahkannya, kalau dakwah juga perlu menjangkau komunitas hobi dan berbagai kelompok masyarakat perkotaan yang memiliki karakter serta kebutuhan berbeda.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk berdakwah di tempat yang sudah ramai, sementara masih banyak masyarakat di pelosok negeri yang membutuhkan kehadiran dai. Dakwah harus berani keluar dari zona nyaman, mendatangi, mendampingi, dan memberdayakan masyarakat,” menggarisbawahi lebih lanjut.

Melalui LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ikhtiar memperluas jangkauan dakwah dilakukan dengan mengirimkan dai ke berbagai daerah tertinggal dan terpencil, sekaligus mengembangkan pendekatan dakwah berbasis komunitas hobi.

"Para dai tidak cukup hanya hadir untuk berceramah, tetapi juga harus membangun kedekatan, memahami kebutuhan masyarakat, dan terlibat dalam proses pemberdayaan," tegasnya.

Arifin mengingatkan, perkembangan teknologi informasi harus ditangkap sebagai peluang strategis. Ruang digital merupakan medan dakwah baru yang memungkinkan pesan Islam berkemajuan menjangkau masyarakat tanpa dibatasi jarak dan waktu.

"Dakwah harus hadir di ruang nyata maupun maya, melalui perjumpaan langsung maupun komunikasi digital," tandasnya.