Dakwah Tanpa Pensiun: Menjaga Keikhlasan dan Ukhuwah dalam Persyarikatan

Suara Muhammadiyah

10 January 2026

754
Istimewa

Istimewa

Dakwah Tanpa Pensiun: Menjaga Keikhlasan dan Ukhuwah dalam Persyarikatan

Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen International Islamic University Malaysia

Masih dari acara Pembekalan PCIM Malaysia di Rumah Hamka Malaysia, pada Sabtu (10/1/2026) kian menghangat pada sesi kedua. Dengan tema besar “Islam Berkemajuan sebagai Pilar Gerakan Global Muhammadiyah di Malaysia,” peserta diajak menyelami sisi lain kekuatan Muhammadiyah: keikhlasan dalam berdakwah dan keteguhan dalam berorganisasi. 

Pesan-pesan itu disampaikan oleh dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana.

Dengan gaya bertutur yang akrab ditambah canda segar, Pak Agus menegaskan bahwa dalam Muhammadiyah tidak dikenal istilah pensiun dari dakwah. 

Dakwah adalah tugas syar’i yang melekat sepanjang hayat, dilakukan tanpa pamrih dan tanpa henti. Karena itu, bila suatu saat seseorang harus mundur dari amanah, alasannya pun harus alasan yang syar’i. 

Pesan ini menjadi pengingat bahwa ber-Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan panggilan nurani dan ibadah yang berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan dinamika alamiah dalam organisasi: selalu ada yang lama dan yang baru. Yang lama harus siap melepas dengan lapang dada, sementara yang baru harus siap menerima dengan penuh amanah. Kepercayaan menjadi mata uang utama dalam kepemimpinan. “Yang lama mempercayai, yang baru jangan mengkhianati,” pesannya. Hubungan antar-pengurus harus bersifat resiprokal—ingin dihormati dan sekaligus mau menghormati—agar roda organisasi berjalan dengan sehat dan bermartabat.

Khusus bagi PCIM dan PCIA Malaysia, Pak Agus menyampaikan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan hendaknya selalu mengarah pada yang terbaik. Ia merumuskan empat kunci penting: berperilaku penuh hikmah, senantiasa berkumpul dengan orang-orang baik, menjadi teladan masyarakat karena manfaatnya, dan pada akhirnya menjadi pewaris "jannatunnaim". 

Ia menguatkan kembali pesan Ketua Umum Prof Haedar Nashir bahwa PCIM adalah forum ukhuwah, yang dihidupkan dengan ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaful: saling mengenal, memahami, berkolaborasi dan saling menjamin. Dari ukhuwah itulah, kebahagiaan dalam ber-Muhammadiyah akan tumbuh dan dirasakan bersama.

Dalam arah gerakan, PP Muhammadiyah mendorong PCIM Malaysia untuk memfokuskan diri pada gerakan sosial-keagamaan yang berdampak luas, tidak terbatas pada ibadah mahdhah semata. Belajar dari PCIM Australia, pendirian sekolah Muhammadiyah yang mayoritas muridnya bukan warga Indonesia justru menghadirkan banyak keberkahan. Harapan pun disematkan pada inisiatif serupa di Malaysia. Dengan mengutip QS. Al-‘Ankabut ayat 69, Pak Agus menutup pemaparannya dengan optimisme: jalan keluar dan pertolongan Allah pasti terbuka bagi mereka yang bersungguh-sungguh. 

Dan itulah, menurutnya, rahasia Muhammadiyah mampu bertahan dan memberi manfaat selama lebih dari 113 tahun—karena akidah yang lurus, organisasi yang rapi, kepemimpinan yang tepat, dan keikhlasan para pengawalnya yang bekerja tanpa pamrih.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

ParagonCorp Beri Dukungan Nyata bagi UMKM Halal melalui Sertifikasi dan Pelatihan JAKARTA, Suara Mu....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kapolresta Denpasar Kombes Pol., Dr., Bambang Yugo Pamungkas, ....

Suara Muhammadiyah

6 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Judi online (Judol) masih menjadi ancaman nyata bagi berbagai kalan....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah — Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menye....

Suara Muhammadiyah

12 July 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Studi Program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI)....

Suara Muhammadiyah

7 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah