DANA: Manifestasi Kaderisasi Nasyiah yang Ideologis dan Militan
Oleh: Revvina Agustianti Subroto, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Brebes, Jateng
Eksistensi sebuah organisasi gerakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar jumlah anggotanya, melainkan oleh sejauh mana ideologi tertanam kuat dalam setiap sanubari kadernya. Bagi Nasyiatul Aisyiyah (NA), penguatan basis ideologi dan militansi bukanlah sekadar agenda rutin, melainkan sebuah keharusan sejarah. Di sinilah Darul Arqom Nasyiatul Aisyiyah (DANA) hadir bukan sekadar sebagai formalitas organisasi, melainkan sebagai kawah candradimuka tempat penempaan intelektualitas dan spiritualitas perempuan muda berkemajuan.
Struktur DANA yang berjenjang—dimulai dari DANA I (Cabang), DANA II (Daerah), hingga DANA III (Wilayah)—merupakan manifestasi dari pengaderan yang sistematis dan berkelanjutan. Secara akademis, pola ini menunjukkan adanya scaffolding kepemimpinan; sebuah proses di mana setiap jenjang memberikan beban intelektual dan tanggung jawab yang semakin mendalam.
Manifestasi ini sejalan dengan pesan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang menegaskan: "Kasih sayang dan persaudaraan itu tidak akan dapat dilaksanakan kalau tidak dengan iman dan amal shaleh yang sungguh-sungguh."
Melalui DANA, kader tidak hanya diajarkan "apa" itu NA, tapi "mengapa" mereka harus berjuang di dalamnya. Ideologisasi ini penting agar kader memiliki imunitas terhadap tarikan arus pemikiran yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam berkemajuan.
Militansi di Tengah Tantangan Kontemporer
Militansi dalam Nasyiatul Aisyiyah hari ini tidak lagi hanya diuji dalam forum-forum diskusi, melainkan pada kemampuan kader menjawab problem kemanusiaan yang mendesak. Tokoh intelektual muslim dunia dan juga seorang guru besar di Universitas Chicago yang mendedikasikan pemikirannya untuk melakukan pembaruan metodologi penafsiran Al-Qur'an agar tetap relevan dengan zaman modern : Fazlur Rahman, menekankan pentingnya "Moral-Social Vision" dalam Al-Qur'an. Ia berpendapat bahwa iman harus memiliki konsekuensi sosial yang transformatif.
Dalam konteks kekinian, militansi kader Nasyiah adalah manifestasi dari solusi atas:
• Ketahanan Keluarga & Stunting: Kader Nasyiah harus menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan gizi. Menurunkan angka stunting adalah bentuk jihad kemanusiaan untuk menyelamatkan generasi masa depan.
• Literasi Digital: Di tengah banjir informasi, kader dituntut militan dalam menyebarkan konten yang autentikatif dan edukatif (dakwah bil-medsos) serta membentengi keluarga dari dampak negatif dunia siber.
Al-Qur'an telah memberikan peringatan keras agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara ekonomi, intelektual, maupun kesehatan fisik. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 9:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
Ayat ini merupakan mandat teologis bagi Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah untuk menjadikan DANA sebagai instrumen vital dalam memutus mata rantai kelemahan tersebut. Kita tidak ingin melahirkan kader yang hanya pandai berwacana, tetapi abai terhadap fakta bahwa kualitas generasi bangsa dimulai dari kualitas para ibu muda yang terdidik di Nasyiah.
Menuju Kader yang Berintegritas
Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, militansi kita berakar pada hadits Rasulullah SAW mengenai mukmin yang kuat:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan..." (HR. Muslim).
Kuat yang dimaksud bukan hanya fisik, melainkan kuat dalam memegang prinsip (ideologis) dan cakap dalam menghadapi tantangan zaman (militan). DANA yang diselenggarakan di setiap tingkatan adalah upaya kolektif untuk memastikan bahwa transisi kepemimpinan di tingkat Cabang hingga Wilayah diisi oleh perempuan-perempuan yang telah tuntas dengan jati dirinya dan siap mengabdi bagi umat.
DANA bukanlah akhir dari perjalanan seorang kader, melainkan titik berangkat pengabdian yang lebih luas. Dengan mengintegrasikan aspek ideologis dan militansi yang relevan dengan zaman, Nasyiatul Aisyiyah akan terus menjadi garda terdepan dalam memajukan perempuan dan peradaban Indonesia. Setiap jenjang DANA diharapkan menjadi momentum untuk kembali ke khittah perjuangan: Al-Birru Manittaqo.

