Dari Cahaya Wahyu Menuju Peradaban

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

38
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Dari Cahaya Wahyu Menuju Peradaban

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA., Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Muhammadiyah telah melampaui usia satu abad. Namun usia panjang sebuah gerakan tidak dengan sendirinya menjamin kedalaman makna. Yang membuat sebuah gerakan tetap hidup bukan sekadar lamanya sejarah, melainkan kemampuannya membaca zaman tanpa kehilangan arah pulang. Dalam konteks itulah manhaj Muhammadiyah menjadi penting: bukan sekadar metode memahami agama, tetapi jalan intelektual dan spiritual untuk menerjemahkan wahyu ke dalam kehidupan.

Secara sederhana, manhaj berarti jalan, metode, cara, atau rambu-rambu. Dalam Muhammadiyah, ia terutama dikenal melalui Manhaj Tarjih, sebuah kerangka metodologis dalam melakukan ijtihad dan menjawab persoalan keagamaan, sosial, kemanusiaan, dan kehidupan kontemporer. Tarjih tidak berhenti pada kegiatan memilih dalil yang lebih kuat. Ia telah berkembang menjadi aktivitas intelektual untuk menghadirkan perspektif Islam terhadap persoalan-persoalan baru yang terus muncul dalam sejarah manusia.

Di sinilah agama bertemu zaman. Wahyu datang dari Yang Mahaabadi, sementara manusia hidup dalam dunia yang senantiasa berubah. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kesetiaan kepada wahyu tanpa membekukan agama dalam bentuk-bentuk masa lalu. Muhammadiyah menjawab ketegangan itu melalui tajdid: pemurnian sekaligus pembaruan, kembali kepada sumber Islam sembari menggunakan kemampuan intelektual untuk membaca realitas.

Manhaj Tarjih bertumpu pada wawasan yang terbuka, toleran dan berkemajuan; sumber utama berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah al-maqbulah; pendekatan epistemologis; serta prosedur teknis dalam menetapkan hukum. Dengan demikian, manhaj bukan sekadar seperangkat aturan, melainkan cara berada di tengah dunia: bagaimana seorang Muslim berpikir, menilai, memilih dan kemudian bertindak.

Menariknya, Muhammadiyah mengembangkan tiga pendekatan epistemologis yang saling melengkapi: bayani, burhani, dan irfani. Bayani adalah jalan teks. Ia mendengarkan firman, membaca bahasa wahyu, memahami tafsir dan kaidah ushul fikih. Dalam wilayah ibadah mahdhah, bayani memberikan fondasi normatif agar manusia tidak menjadikan agama sekadar hasil spekulasi akal. Ada wilayah sakral yang harus didengar sebelum ditafsirkan.

Tetapi manusia juga diberi akal. Di situlah burhani bekerja. Ia adalah jalan argumentasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, pengalaman empiris dan hukum sebab-akibat. Melalui burhani, Muhammadiyah membuka jendela agama kepada perkembangan ilmu. Penentuan awal bulan kamariah, misalnya, dapat memanfaatkan ilmu falak dan astronomi modern. Dengan demikian, ilmu tidak diposisikan sebagai lawan iman. Akal justru menjadi salah satu instrumen manusia untuk membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta.

Namun teks dan akal saja belum seluruh perjalanan manusia. Ada ruang batin yang hanya dapat disentuh melalui irfani. Ia berbicara tentang kejernihan hati, penyucian jiwa, intuisi spiritual dan kepekaan nurani. Dalam perspektif Muhammadiyah, irfani tidak berarti melarikan diri dari dunia. Sebaliknya, dunia adalah medan amal, tempat manusia membuktikan bahwa kedalaman spiritual harus melahirkan kemaslahatan sosial. Iman yang tidak menjelma menjadi akhlak akan kehilangan denyut sosialnya; ilmu yang tidak melahirkan kebijaksanaan akan mudah berubah menjadi kesombongan.

Oleh karena itu, bayani, burhani dan irfani sebaiknya tidak dibaca sebagai tiga pulau yang terpisah. Ketiganya adalah tiga jalan yang menuju horizon kebenaran yang sama. Bayani menjaga agar akal tidak kehilangan wahyu. Burhani menjaga agar keberagamaan tidak kehilangan rasionalitas. Irfani menjaga agar keduanya tidak kehilangan jiwa.

Di titik ini, epistemologi berubah menjadi etika. Cara seseorang mengetahui akan menentukan cara ia bersikap. Cara berpikir melahirkan perilaku. Perilaku yang dilakukan terus-menerus membentuk kebudayaan. Dan kebudayaan yang unggul, bila dibangun secara kolektif, dapat menjelma menjadi peradaban. Gagasan ini sejalan dengan penekanan Abdul Mu’ti (HBM UMJ, 5/9/2026) bahwa perbedaan penting Muhammadiyah terletak pada mindset: pola pikir membentuk akhlak, akhlak membentuk kebudayaan, dan kebudayaan unggul membentuk peradaban.

Dengan demikian, sekolah, rumah sakit, universitas, lembaga sosial dan berbagai amal usaha Muhammadiyah bukan sekadar bangunan fisik. Di balik semuanya terdapat sebuah pandangan dunia. Yang hendak dibangun bukan hanya institusi, tetapi manusia. Bukan hanya kecerdasan, tetapi kebijaksanaan. Bukan hanya kemajuan material, tetapi kemajuan yang berakar pada akhlakul karimah.

Al-Qur'an memberikan hukum perubahan yang sangat mendasar: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al-Ra'd: 11). Perubahan peradaban, dengan demikian, tidak pertama-tama dimulai dari gedung pencakar langit, teknologi mutakhir atau kekuatan ekonomi. Ia bermula dari manusia yang berubah dari dalam.

Barangkali di sinilah Irfani dapat dipahami sebagai sayap berdimensi sufistik Muhammadiyah menemukan tempatnya: bukan tasawuf yang menjauh dari realitas, melainkan penyucian batin yang justru menguatkan pengabdian di tengah realitas. Hati dibersihkan agar ilmu tidak menjadi alat kesombongan. Akal dipertajam agar iman tidak menjadi dogma yang beku. Wahyu direnungkan agar amal tidak kehilangan arah.

Maka peradaban bukan hanya persoalan membangun dunia, tetapi juga membangun manusia yang layak menghuni dunia.

Ia juga merasuk ke dalam jiwa kepemimpinan dalam gerakan seperti Muhammadiyah. Kepemimpinan tidak semestinya bertumpu pada trah, privilese atau kultus personal. Ia bertumpu pada trust—kepercayaan. Amanah adalah akar kepemimpinan, konsistensi adalah batangnya, amal adalah buahnya, dan kemaslahatan adalah teduh yang diberikan kepada masyarakat. Dari sinilah peradaban memperoleh fondasi moralnya.

Muhammadiyah, karena itu, tidak cukup dipahami sebagai organisasi keagamaan. Ia adalah ikhtiar panjang membangun sebuah peradaban yang mempertemukan wahyu dan akal, ilmu dan iman, kemajuan dan spiritualitas.

Walhasil, bayani mengajarkan manusia untuk mendengar. Burhani mengajarkan manusia untuk berpikir. Irfani mengajarkan manusia untuk merasakan dengan hati yang jernih. Ketika ketiganya bertemu, lahirlah manusia yang bukan hanya tahu apa yang benar, tetapi juga mampu merasakan mengapa kebenaran itu harus diwujudkan dalam kehidupan.

Dari wahyu lahir ilmu. Dari ilmu lahir kesadaran. Dari kesadaran lahir akhlak. Dari akhlak tumbuh kebudayaan. Dan dari kebudayaan unggul, perlahan-lahan lahirlah peradaban.

Itulah jalan Muhammadiyah: bukan sekadar jalan untuk memahami Islam, tetapi jalan untuk menjadikan Islam sebagai rahmat, ilmu, akhlak dan peradaban. Allahu a'lam. (***)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (30)Oleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah Magelang "Anak saleh bukan barang instan....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Wawasan

Daulat Pangan Untuk Indonesia Berkemajuan Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troke....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Wawasan

Pelajaran bagi Generasi Z dari Kisah Ashabul Kahfi Oleh: Mohammad Fakhrudin Suka atau tidak pergan....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Wawasan

Mengapa Aku Berpuasa: Makna, Tujuan, dan Transformasi Diri dalam Ramadhan Penulis: Soleh Amini Yahm....

Suara Muhammadiyah

13 March 2026

Wawasan

Meneladani Semangat Pendidikan KH Ahmad Dahlan sebagai Guru Bangsa  Oleh: Hendra Apriyadi, M.P....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah