YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kelahiran media Suara Muhammadiyah (SM) yang dirintis Kiai Dahlan dan Haji Fachrodin sejak 1915 sampai saat ini masih bertahan dengan kokoh. “Satu-satunya media yang masih eksis di negeri ini yang melampaui usianya 1 abad,” ujar Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah itu.
Kebertahanan itu, katanya, media ini tidak hanya berdimensi base, tapi juga berdimensi yang sangat multiperspektif. Mengerucut di dalamnya at-ta’lim (edukasi) dan at-tanwir (pencerahan).
“Dalam dunia literasi kita mengenal istilah Enlightenment ataupun Enrichment. Inilah yang ada pada konten-konten media Suara Muhammadiyah,” tuturnya.
Di samping itu, media tertua di Republik ini, dapat bertahan karena tidak pernah tergiur untuk untuk mencari berita-berita yang viral. Tapi fokus utamanya menysiarkan dan mengedukasi dengan berpokok pangkal pada dua variabel tersebut.
“Hasil riset banyak orang salah satu faktor faktor kebertahanan melampaui satu abad, karena dia tidak mengajar clip, tidak mengajar viewer, tidak mengajar viralitas,” bebernya.
Bagi Deni, media ini banyak inspirasi-inspirasi yang dilahirkan. Dalam tautan Seminar Sosialisasi Deep Learning dan Tes Kemampuan Akademik (TKA), Senin (24/8) di SM Tower Malioboro kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menemukan titik temunya.
“Sosialisasi deep learning tentu sebagai sebuah pendekatan, ini bukanlah hal baru. Negara-negara Skandinavia, Australia dan bahkan kita lihat pola-pola pendidikan tradisional zaman dulu modelnya kami lihat ala-ala deep learning,” terangnya.

Dalam konteks Muhammadiyah, pendekatan ini sebetulnya telah dilakukan oleh Kiai Dahlan kepada santrinya ihwal pengajaran Qs al-Maun selama berbulan-bulan.
“Itu sudah hafal (santrinya), tetapi Kiai Dahlan tetap saja meminta untuk mengulang dan mengulang,” bebernya dihadapan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Irwan Akib, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Muhammad Yusro, dan Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen Yudhistira Nugraha.
Spirit itulah kemudian menjadi pijakan dari pengejawantahan deep learning saat ini. “Dan inilah identitas yang selama ini dilakukan dalam Muhammadiyah melakukan proses pengajaran atau pendidikan tadi,” ujar Deni, seraya menyebut, dalam tradisi Muhammadiyah, ilmu tidak hanya untuk dihafal, tetapi untuk dimanfaatkan sebagaimana semestinya.
“Kita sebagai pengajar, sebagai guru tentu tidak hanya ingin menjadi seorang good teacher, hanya sekedar bisa bercerita, tidak hanya ingin menjadi excellent teacher, yang hanya bisa explain tetapi kita juga ingin menjadi guru-guru yang menginspirasi ke depannya,” tandasnya. (Cris)

