YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Posisi iman dan akhlak saling berjalin-berkelindan, dan hal itu tidak bisa dipisahkan.
Demikian Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman mengemukakan dalam Kajian Tarawih di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Ahad (15/3).
Terkait hal itu, implikasinya kuat sekali dengan penegasan Nabi. “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmidzi).
Demikian riwayat lain menguatkan serupa, “mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud).
Penekanan itu, berakar tunjang dari pengambilan sampel narasumber di salah satu televisi nasional yang menampilkan perilaku kurang baik dan tidak laik dipertontonkan di hadapan publik.
“Seharusnya dijaga oleh anak bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang mengedepankan budi luhur,” tegas Agus.
Agus mengkhawatirkan, bilamana perilaku buruk terus bermunculan di ruang publik, yang dipermasalahkan kemudian, menjadi bagian yang justru di copy-paste oleh anak-anak hari ini.
“Bahkan yang repot kemudian menjadi cerminan apakah memang bangsa ini sudah kehilangan budi luhurnya? Tanya Agus.
Di sinilah pentingnya menjaga diri agar tidak sampai kebablasan berbuat di luar garis orbit kefitrahan seorang manusia.
Jelaslah sepantasnyalah manusia perlu mengikat diri dengan perilaku hayyin, layyin, qaribin, dan sahl (HR Imam Ahmad).
Pertama, hayyin. Yakni pantulan dari perilaku yang tenang, rendah hati, dan tidak mudah marah. “Menghadapi orang dengan memuliakannya,” ujar Agus.
Kedua, layyin, adalah orang yang berperilaku lembut dalam berbicara maupun perbuatan. “Sehingga perilaku layyin akan mengantarkan orang itu berkata-kata yang menyejukkan,” jelasnya.
Ketiga, qaribin. Dalam praktiknya, menampilkan perilaku yang akrab. “Bukan merendahkan orang lain,” tegas Agus.
Artinya, dalam kesehariannya itu, dekat dengan siapa pun, sehingga kehadirannya dapat memberikan rasa ketenangan dan kedamaian.
Keempat, sahl. Merupakan cerminan orang yang memudahkan urusan orang lain. “Orang yang berusaha agar urusan orang lain itu dipermudah,” jelasnya.
Termasuk juga, suka menolong tanpa diskriminatif. "Empat hal ini semoga menjadi hiasan akhlak kita,” tandasnya. (Cris)
