YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Meski cuaca di luar mendung, suasana di dalam ruangan tetap hangat. Senyum dan percakapan ringan menyambut pertemuan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan sejumlah awak media dalam acara buka puasa bersama di Kantor PP Muhammadiyah Jl. Cik Ditiro Yogyakarta (16/3).
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sayuti, menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik antara Muhammadiyah dan media. Menurut dia, kerja dakwah dan penyebaran gagasan Persyarikatan tidak dapat berjalan maksimal tanpa dukungan media massa. “Terima kasih atas kerja sama ini. Kita memiliki banyak peristiwa dan kegiatan. Tanpa dukungan media, akan sangat berat bagi kita menyebarkan pendidikan dan dakwah kepada masyarakat,” ujar Sayuti.
Ia menambahkan, peran media menjadi semakin penting, terutama dalam upaya menyosialisasikan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Bagi Muhammadiyah, gagasan ini bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, melainkan bagian dari upaya membangun kesatuan umat Islam dalam menentukan kalender hijriah.
“Oleh karena itu, dukungan media menjadi sangat penting,” kata Sayuti menegaskan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah terus berikhtiar secara maksimal agar KHGT dapat diterapkan secara luas.
Menurut Haedar, upaya tersebut merupakan bagian dari ijtihad sekaligus langkah penting dalam sejarah umat Islam. Ia menilai bahwa KHGT merupakan “utang peradaban” umat Islam yang perlu diselesaikan bersama. Dengan adanya kalender yang seragam, umat Islam di berbagai belahan dunia dapat memiliki kepastian waktu dalam menjalankan ibadah.
Haedar juga menyinggung kondisi dunia yang saat ini dinilainya berada dalam situasi tidak menentu. Ia mengkritik berbagai praktik politik global yang kerap diwarnai kesewenang-wenangan kekuasaan. “Bagaimana mungkin ada negara yang dengan sekehendaknya dapat menggulingkan presiden negara lain yang berdaulat, atau terlibat dalam genosida dan pengeboman tanpa ada hukum internasional yang mampu menyelesaikannya secara otoritatif,” ujarnya.
Menurut Haedar, situasi tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang menghadapi “jalan buntu peradaban modern”. Di tengah kondisi global yang kacau, bangsa-bangsa termasuk Indonesiadituntut untuk terus melangkah maju. Merespon kondisi yang dipenuhi ketidakpastian tersebut, ia mendorong pemerintah mengedepankan konsolidasi nasional dalam berbagai bidang, mulai dari konsolidasi demokrasi hingga pemerintahan.
Bagi Haedar, kehidupan berbangsa ibarat perjalanan panjang yang terus bergerak, meski tidak selalu berjalan sempurna. Dalam konteks keumatan, meski perkembangan umat Islam di Indonesia menunjukkan tren yang positif. Mulai dari praktik toleransi dan beragama yang dinilai cukup menggembirakan. Masih ada pekerjaan rumah yang perlu dipercepat. Dua hal yang menurutnya paling mendesak adalah percepatan mencerdaskan kehidupan umat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah akan terus memposisikan diri sebagai ormas Islam yang secara aktif mengambil peran di level akar rumput. Sebagai organisasi keagamaan, Muhammadiyah memilih bergerak melalui penguatan akar rumput seperti membangun pendidikan, layanan sosial, serta berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat. (diko)
