BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Hari ini, bertepatan dengan kabar berkabungnya rakyat Iran karena kematian pemimpin tertinggi mereka Ayatollah Ali Khamenei setelah serangan AS dan Israel dilancarkan pada Ahad (1/3), Hening Parlan, Direktur Program 1000 Cahaya menyampaikan tentang pentingnya bagi sebuah institusi, khususnya institusi pendidikan berbasis pesantren untuk melakukan gerakan efisiensi dan transisi energi. Upaya ini perlu mengingat pasokan energi nasional kita masih sangat bergantung pada kekuatan dari luar. Dampaknya, ancaman krisis energi menjadi kian nyata akibat perang yang meletus antara Iran melawan Amerika Serikat dan aliansinya.
Sehari sebelumnya, Israel secara berani melancarkan serangannya ke Teheran setelah berkoordinasi dengan AS karena imbas dari perundingan antar Iras-AS di Jenewa yang tak menemukan titik temu. Memanasnya eskalasi antara keduanya, diperkirakan oleh para pengamat geopolitik dapat berimbas kepada meningkatnya harga energi dan kebutuhan pokok di seluruh negara.
Hening menegaskan bahwa sudah saatnya bagi siapapun untuk mulai melakukan efisiensi dan transisi energi listrik. Selain sebagai upaya untuk menghemat biaya pengeluaran setiap bulan, juga sebagai usaha membentuk kemandirian energi di masa depan. Berkaca kepada Turki, Hening mengisahkan bahwa negara yang 97 persen wilayahnya terletak di semenanjung Anatolia itu tengah membangun danau raksasa. Berdasarkan informasi, danau itu akan digunakan untuk menyimpan air hujan dan es yang mencair guna memenuhi kebutuhan air dalam jangka waktu 100 tahun mendatang. Sebuah langkah revolusioner bagi pemerintah Turki dalam mengantisipasi krisis energi dan perubahan iklim yang dampaknya mulai terasa.
“Mari kita mikir lebih panjang tentang keberlanjutan energi kita. Walaupun gak sejauh Turki yang membangun danau tadah hujan yang mereka gunakan untuk menyimpan air untuk kehidupan 100 tahun mendatang. Paling tidak kita mikir 10 tahun kedepan terkait bagaimana kemandirian energi kita,” ujarnya dalam Lokakarya yang mengangkat tema Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Lingkungan Pesantren.
Melalui Lokakarya yang terselenggara berkat kolaborasi antara 1000 Cahaya dengan LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah itu menegaskan bahwa siapa pun bisa membangun kemandirian energinya masing-masing. Tanpa harus bergantung kepada energi yang saat ini disediakan oleh pemerintah melalui perusahaan negara.
“Program ini menunjukkan bahwa yang diperjuangkan Muhammadiyah itu universal. Energi bukan hanya milik orang kaya, orang miskin juga harus bisa merasakannya,” paparnya.
Edukasi semacam ini menurutnya menjadi sangat relevan ketika semesta sejatinya sudah menyediakan energi itu secara gratis sejak miliaran tahun lalu. Dari panas sinar matahari, manusia dapat mengubahnya menjadi energi listrik melalui panel surya yang di pasang secara off grid. Sebuah sistem pembangkit listrik tenaga surya yang bekerja secara mandiri dan tidak terhubung ke jaringan listrik PLN. Sistem ini mengandalkan panel surya dan baterai untuk menyimpan energi agar listrik tetap tersedia siang dan malam. Sangat cocok untuk daerah terpencil atau lokasi yang membutuhkan kemandirian energi
“Untuk membangun panel surya, saya menyarankan menggunakan sistem off grid, jangan on grid,” ungkap Hening pada sesi tanya jawab dengan peserta.
“Jangan biarkan energi surga ini diurus oleh orang kaya, Muhammadiyah punya potensi untuk mengelola itu,” Hening menambahkan.
Melalui program yang diinisiasi sejak tahun 2023 itu, 1000 Cahaya ingin melakukan call action kepada seluruh masyarakat agar lebih aware terhadap pemanfaatan energi terbarukan yang belum banyak digarab, khususnya oleh lembaga pendidikan pesantren milik Muhammadiyah.
“Kita memanggil manusia untuk melakukan call action,” tegasnya. Karena ia yakin, pesantren memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh melalui efisiensi dan transisi energi terbarukan. (diko)

