Dimensi-Dimensi  Mensyukuri  Nikmat Kemerdekaan

Suara Muhammadiyah

15 August 2026

125
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Dimensi-Dimensi  Mensyukuri  Nikmat Kemerdekaan

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Menurut Yunahar Ilyas, ada tiga dimensi bersyukur, yaitu (1) hati, (2) lisan, dan (3) anggota tubuh. Berdasarkan pendapat tersebut, setiap muslim ketika mensyukuri nikmat apa pun semestinya secara sadar meyakini di dalam hati bahwa nikmat tersebut diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran itu selanjutnya diwujudkan melalui lisan dengan berucap tahmid, “Alhamdulillahi rabbil'alamin”. Selanjutnya, ia menggunakan kenikmatan itu dengan berbuat atau bertindak dalam rangka beribadah kepada-Nya.  

Dengan merujuk kepada pendapat tersebut juga, kita mensyukuri nikmat kemerdekaan semestinya pertama dengan meyakini di dalam hati bahwa kemerdekaan adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekannya.” Wujud syukur kedua atas nikmat kemerdekaan itu adalah melisankan dengan penuh pemahaman kalimat,

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

“Segala puji bagi Allah,  Tuhan semesta alam”  

Dengan mengucapkannya, kita meyakini bahwa Allah-lah yang berhak mendapat segala pujian tersebut karena Dia yang menjadikan seluruh alam semesta ini untuk manusia; dan seluruh makhluk yang ada di dunia mendapat kenikmatan dan rezeki dari keberkahan rahmat-Nya siang dan malam.

Wujud syukur yang ketiga atas nikmat kemerdekaan adalah berbuat nyata untuk mencapai kehidupan sejahtera yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berarti bahwa kesejahteraan yang harus kita capai adalah kesejahteraan dunia akhirat! Seluruh bangsa Indonesia, terutama para elit bangsa dan generasi muda harus memahami hal itu. 

Modal Kemerdekaan

Sudahkah kita memanfaatkan nikmat kemerdekaan sebagai modal untuk mencapai hidup sejahtera dunia akhirat? Sebagai orang beriman, pantaskah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan yang diperoleh atas rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya dengan suka cita yang bersifat hura-hura?

Allah Subhanahu wa Taʻala berfirman di dalam Al-Qurʻan surat Ibrahim (14):34

وَاٰتٰٮكُمۡ مِّنۡ كُلِّ مَا سَاَلۡـتُمُوۡهُ‌ ؕ وَاِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ لَا تُحۡصُوۡهَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَـظَلُوۡمٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia tidak dapat dibeli dengan uang berapa pun banyaknya karena diperoleh melalui pengorbanan tidak hanya harta, tetapi juga darah, bahkan, nyawa. 

Perjuangan dengan pengorbanan harta, darah, dan nyawa yang demikian harus menjadi renungan mendalam agar ucapan dan perbuatan kita tidak lepas dari semangat perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Nikmat kemerdekaan merupakan modal untuk mencapai hidup sejahtera dengan rida Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nilai Kesejarahan dan Nilai Kesakralan

Setiap 17 Agustus bangsa Indonesia, baik yang tinggal di dalam negeri maupun yang tinggal di luar negeri, memperingati hari yang sangat bersejarah dan sakral, yakni proklamasi kemerdekaan. Namun, nilai kesejarahan dan kesakralan tampaknya makin memudar. Nilai kesejarahan yang heroik untuk bangsa dan negara terkikis oleh semangat “berjuang” untuk keluarga dan kelompoknya. Nilai kesakralan kini berubah menjadi sekadar formalitas berucap tahmid dan berdoa yang (seperti) tanpa makna. Lagu-lagu wajib yang liriknya "sakral" dan iramanya bernuansa keagungan yang mampu membuat "merinding" berubah menjadi lagu-lagu yang mengundang joget dan sama sekali tidak menyentuh hati.

Di sisi lain, dalam suasana menjelang Peringatan ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, banyak peristiswa yang sangat menyesakkan dada. Di antaranya adalah korupsi makin menggila. Hal ini jelas bertentangan dengan janji ketika berkampanye. Layanan kesehatan bagi orang-orang yang sangat memerlukan bantuan, justru tidak dapat dirasakan sebagaimana mestinya. Hal ini pun tidak sesuai dengan janji ketika berkampanye. 

Peristiwa yang sangat memprihatinkan adalah penistaan agama. Orang beragama (apa pun), yang sehat pikiran dan hidup hatinya, pasti marah ketika agamanya dinista. Hanya orang sakit jiwa yang mempunyai gagasan memberikan hadiah berupa minuman keras kepada orang yang dapat menghafal firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Berbagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dikakukan oleh elite bangsa
menimbulkan keraguan. Jangan-jangan ucapan syukur yang pasti ada di dalam pidato pejabat tidak lahir dari hati, tetapi sekadar formalitas karena ada di dalam teks atau karena biasanya memang begitu. Sepertinya ucapan syukur yang merupakan dimensi hati tidak dilanjutkan dengan dimensi tindakan berupa pemanfaatan kemerdekaan untuk mencapai tujuan negara sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Sekadar Contoh

Ada elite bangsa yang mengklaim hanya dirinyalah yang secara sah berhak mengatasnamakan rakyat karena dipilih oleh rakyat melalui pemilihan. Selain anggota DPR, tidak boleh! Namun, jika kita cermati sepak terjangnya, kita ragu akan kebenaran klaim tersebut karena cukup banyak di antara mereka yang korupsi. Di sisi lain, undang-undang yang dihasilkannya, banyak yang tidak berpihak kepada rakyat. Sebutlah sebagai contoh,  Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (IKN). Kritik dari berbagai kalangan dan dari berbagai sudut pandangan tidak diperhatikan sama sekali. Ternyata sampai sekarang IKN memang bermasalah! 

Contoh kedua adalah Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional (Landasan Program Makan Bergizi Gratis) yang dikritisi oleh berbagai kalangan dari segi tata kelola dan anggaran. Kritik itu justru ditanggapi dengan keangkuhan dan kekuasaan. Ternyata benar bahwa dari segi tata kelola dan anggaran “program” Makan Bergizi Gratis menimbulkan masalah besar.

Lemahnya tata kelola merupakan pintu masuk bagi koruptor. Di sisi lain, anggaran yang digunakannya diambil dari berbagai sumber dari sektor lain. Hal ini jelas berakibat kurang optimalnya pelaksanaan program kerja sektor lain. 

Pertanyaan besarnya adalah berapa anggota DPR yang mengkritisinya? Hal yang terjadi adalah ada di antara mereka bukannya mewakili rakyat dengan mengawasi kebijakan pemerintah tersebut, melainkan malah menjadi juru bicaranya.

Timbul pertanyaan: Mungkinkah Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan agar anggaran MBG dipisahkan dari anggaran pendidikan jika tidak ada gugatan dari berbagai pihak?

Merdeka menurut Taufiq Ismail

Ketika berpidato dalam rangka Peringatan  Proklamasi Kemerdekaan, pekik "merdeka" diucapkan tidak hanya oleh presiden, menteri, gubernur, bupati/wali kota, camat, lurah/kepala desa, tetapi juga oleh ketua RT.  Namun, bagaimana halnya Taufiq Ismail?

Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita

Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram
Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu
Silakan teriak merdeka !
Jika belum mampu, lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang
Mereka seringkali disiksa dan dianiaya
Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka
Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola oleh orang lain
Rakyat hampir tak menikmatinya
Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas
Terasa berat untuk bisa hidup layak
Bahkan harga-harga terus merangkak naik
Ditambah pajak yang kian mencekik
Jika masih meluas kemiskinan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Anak negeri tengah terjerembab watak amoral
Narkoba meraja lela
Seks bebas liar menyasar siapa saja
Pornoaksi dan pornografi makin menggila
Jika anak bangsa masih amoral
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Demokrasi korporasi mencengkram negeri ini
Keuangan yang maha kuasa
Korupsi menjadi budaya
Kolusi makin menganga
Nepotisme makin menggila
Kerugian uang rakyat tak terkira
Jika pengkhianatan ini masih terus terjadi 
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya
Namun garam masih impor
Namun, beras masih impor
Namun singkong masih impor
Bahkan rektor pun mau impor
Jika negeri ini belum bisa mandiri
Memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri
Jangan teriak merdeka!
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Luas negara ini jutaan hektar
Namun, lebih dari setengah dikuasai asing
Hingga rakyat tak lagi punya lahan luas
Berdesak-desakan di tanah yang sempit
Jika tanah negara belum mampu direbut kembali
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita!

Malu kita!
Malu kita!
Tak berdaya
Tak Kuasa
Lumpuh di ketiak penjajah
Malu Kita!

Balasan bagi Orang yang Bersyukur

Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam al-Qurʻan surat al-Baqarah (14):172 berfirman,

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

"Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." 

Jika kita bersyukur, Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah nikmat sebagaimana dijelaskan di dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim (14):7,

  لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Agar menjadi bangsa yang mensyukuri nikmat “kemerdekaan”, tidak ada jalan lain, kecuali berdoa, mohon didoakan, dan bergaul dengan orang berilmu yang saleh. 

Bismillaahirrahmaanirrahiim!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Prof Dr Drs A Hilal Madjdi, MPd, Wakil Ketua PDM Kudus   Gegap gempita selamat dan syuk....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Wawasan

Inkuisisi Ibnu Hanbali (Bagian ke-2) Oleh: Donny Syofyan Konsekuensinya pada abad ke-9 pemberontak....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Apakah larangan Taliban terhada....

Suara Muhammadiyah

14 March 2025

Wawasan

Insan Rabbani Episentrum Perubahan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Oleh: Agusliadi Massere Saya,....

Suara Muhammadiyah

7 November 2023

Wawasan

Mengapa Aturan Islam Terasa Banyak? (Bagian 1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univ....

Suara Muhammadiyah

31 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah