SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Barometer lembaga pendidikan dikatakan baik terletak pada kualitas guru atau tenaga pendidik. Demikian ditegaskan Muhammad Sirajuddin Syamsuddin. “Tidak hanya mengajar di dalam kelas, tapi ikut mendidik santri di luar kelas,” ucapnya.
Tampak substansialnya kehadiran pendidik. Karenanya, Din mendorong agar pendidik itu dipersiapkan sedemikian rupa secara sumber daya manusianya, agar siap mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Kalau pendidiknya ‘siap pakai’, akan melahirkan peserta didik yang ‘siap jadi’, ‘siap menjadi,’. Tapi kalau pendidiknya hanya ‘siap jadi’ belum ‘siap pakai’, maka akan melahirkan peserta didik yang ‘siap bingung’,” tegas Din.
Tantangan pendidik saat ini begitu kompleks. Lebih-lebih dicengkeram oleh materialisme, pragmatisme, meniscayakan kualitas pendidik menurun. “Tidak ada lagi semangat,” sebut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015.
Karena itu, yang perlu disiapkan adalah pendidik bermental pejuang tinggi. “Berjuang untuk lembaganya, untuk sekolahnya,” ujarnya, dengan dasar elementer berjuang dengan ikhlas karena Allah SwT juga tetap bersikap profesional.
“Jadilah anda semua sebagai pendidik dan juga pejuang. Kalau ada kurang tidak diam. Pendidik ikut bertanggung jawab dan pengabdi, betul-betul mengabdikan diri untuk kemajuan,” tekannya saat Tabligh Akbar Milad ke-18 Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta, Kamis (22/1) di Jamusan, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY.
Maka yang diperlukan saat ini, menurut Din, orientasi pendidik setiap saat. Maknanya kemudian, pendidik perlu melakukan pembaruan dan perubahan, setahap namun pasti.
“Untuk memahami visi lembaga pendidikan, untuk memahami misi, termasuk juga untuk bersepakat atas silabus dari kurikulum yang diterapkan. Sehingga antara satu pendidik saling memahami dan saling mendukung. Ini sangat mutlak perlu sekali itu,” pesannya. (Cris)

