Dinamika Lansia Mengadopsi Budaya Digital

Publish

4 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
129
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Dinamika Lansia Mengadopsi Budaya Digital 

Penulis: Amalia Irfani, Kaprodi SAA FUSHA IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar  

Berselancar di ruang maya menjadi aktifitas keseharian yang tidak lagi terkategori tidak bermanfaat atau aneh seperti masa di awal internet dikenal. Hampir seluruh aktifitas manusia mulai dari belajar, bersosialisasi, mencari teman, hiburan, menebar ilmu dan informasi hingga mengais rezeki seperti berjualan dilakukan melalui media sosial. Selain murah, media sosial juga lebih mudah diakses tanpa perlu menunggu waktu tunggu, dengan syarat  memiliki perangkat dan paket data memadai. 

Fakta keseharian misalnya internet sebagai media belajar dan bersoalisasi, tidak hanya dilakukan oleh yang muda, tetapi juga para lansia yang ingin  hidup produktif. Keseharian mereka pun tidak lepas dari berselancar di dunia maya, untuk mencari teman, mendapatkan informasi atau hanya menyimak kajian religi untuk mengisi waktu menghilangkan kesepian agar hidup bermanfaat dan bahagia. 

Ada keinginan dihari tua tidak merepotkan anak, tidak terbebani urusan domestik seperti mengasuh cucu. Walaupun bahagia memiliki cucu, keinginan tetap beraktifitas memberi manfaat, wadah aktualisasi diri menjadi salah satu motif banyak lansia intens menggunakan media sosial disamping tetap aktif kajian ilmu mimbar ke mimbar.

Beberapa lansia binaan Majelis Kesejahteraan Sosial PWA Kalbar saat penulis wawancarai disela-sela kegiatan Tadabur Alam dan Madrasah Digital Lansia program dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan 'Aisyiyah PWA Kalbar beberapa waktu lalu, mengakui hal yang kurang lebih senada,  bahwa media sosial seperti Facebook, Instagram merupakan beberapa  platform yang sering diakses untuk mencari kesibukan. Sebagian yang lain mengatakan mengisi kesepian karena sudah ditinggal anak menikah atau suami yang lebih dulu berpulang. 

Keadaan terakhir (pasangan meninggal lebih dulu) merupakan satu kondisi emosional yang sesungguhnya juga memerlukan perhatian orang terdekat. Mereka akan menghadapi perubahan dan adaptasi hidup instan baik fisik, emosional dan sosial. Banyak lansia yang kehilangan semangat hidup,  merasa berbeda saat ditinggal mati pasangan. Menurut Elizabeth Kübler-Ross, individu akan melewati lima tahap ketika mengalami kehilangan atau duka cita yaitu penyangkalan dan isolasi, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Jika adaptasi tidak sukses dilakukan maka, secara perlahan lansia tadi akan melakukan isolasi sosial, mengalami gangguan kognitif seperti demensia.

Lansia dan Keamanan Berselancar di dunia Digital 

Seperti kelompok usia lainnya yang rentan akan kecemasan depresi, perundungan siber atau cyberbullying, lansia pun demikian bahkan terkategori riskan dan membutuhkan perhatian orang terdekat seperti anak atau saudara. Keterbatasan mobilitas sangat memungkinkan lansia mengalami perundungan saat intens menggunakan gawai salah satunya karena minimnya literasi digital. 

Berikut bentuk perundungan yang sering dialami oleh lansia saat berselancar di dunia maya. Pertama, Penipuan. Kecanggihan teknologi dengan berbagai aplikasi gambar, suara banyak membuat warga dunia maya tertipu secara sadar dalam hubungan romantis palsu (romance scam). Korban yang biasanya kesepian dan membutuhkan perhatian (kasih sayang) akan terbawa emosi, kerentanan situasi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan penipuan misalnya meminta uang. 

Kedua, pelecehan emosional seperti rekayasa sosial yakni sikap destruktif yang secara sadar merendahkan, memanipulasi bahkan mengendalikan seseorang lewat status,  komentar, panggilan di media sosial. Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa lansia masih dalam kegiatan Madrasah Digital Lansia, beberapa lansia bertanya bagaimana menghadapi jika ada chat atau telepon dari pihak layanan resmi bank dengan meminta data pribadi atau uang. Rayuan lewat kata-kata menurut salah satu lansia hampir membuat ia mentransfer sejumlah uang dan memberikan identitas diri lewat foto. 

Ketiga, Penyebaran Informasi Salah. Pada banyak kasus, lansia menjadi korban atau bahkan pelaku penyebaran hoaks karena minimnya pengetahuan untuk melakukan verifikasi. Misalnya pada saat musim kampanye, banyak Lansia secara sadar meneruskan pesan atau informasi yang didapat di grup atau komunitas ke grup lainnya, tanpa mengetahui apakah informasi tersebut valid atau terpercaya. 

Beberapa bentuk perundungan diatas walau terkesan sepele tidak dapat dianggap remeh. Karena lansia melek digital juga akan berkontribusi pada ketahanan keluarga, sosial dan negara. Maka pendampingan lewat pelatihan digital antara lain cara mengidentifikasi sumber, verifikasi fakta, dan cara mengenali judul provokatif penting diberikan kepada lansia secara kontinu. 

Lansia juga perlu dimotivasi agar memiliki kebiasaan berpikir logis dan kritis, dengan menggunakan gawai sesuai kebutuhan. Keberadaan organisasi seperti 'Aisyiyah melalui pendampingan lewat madrasah digital lansia yang diusung oleh LPPA PPA bersinergi dengan LPPA PWA dan PCA nyata berkontribusi mengedukasi para lansia agar dapat terus berdaya, menebar manfaat bagi diri dan orang lain.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Buya Hamka dan Pancasila Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja, Associate Professor, Universitas Al Azhar ....

Suara Muhammadiyah

2 June 2024

Wawasan

Kedewasaan Berpolitik Di Era Demokrasi Digital:Menyikapi Hasil Pemilu 2024 Oleh: Saifullah Bonto, S....

Suara Muhammadiyah

22 February 2024

Wawasan

Pokok Pikiran Agraria DPD IMM DIY Oleh: Syauqi Khaikal Zulkarnain, Ketua Bidang Agraria DPD IMM DIY....

Suara Muhammadiyah

25 February 2024

Wawasan

Oleh: Rusydi Umar, Dosen S3 Informatika UAD, Anggota MPI PP Muhammadiyah 2015-2022 Beberapa waktu l....

Suara Muhammadiyah

30 June 2025

Wawasan

Teknologi untuk Masjid (Bagian 1) Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas....

Suara Muhammadiyah

25 October 2025