TORONTO, Suara Muhammadiyah – Dr Rijal Ramdani, dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), melaksanakan rangkaian kegiatan pengabdian internasional di University of Toronto (UoT) Scarborough Campus pada periode April hingga Mei 2026.
Dalam program bernama “Climate Adaptation Knowledge Sharing: From Sumatran Peatlands to the Canadian Arctic”, Dr. Ramdani berbagi pengalaman lapangan meneliti kebakaran lahan gambut, konflik tata air, dan strategi adaptasi masyarakat di pesisir timur Sumatra, khususnya Provinsi Riau. Ia juga memperkenalkan pendekatan collaborative governance yang terbukti mampu mengubah konflik menjadi kerja sama produktif antara masyarakat lokal dan perusahaan kehutanan. “Saya senang bisa membawa pengalaman dari desa-desa gambut di Sumatra ke kampus ternama di Kanada. Ini bukan sekadar berbagi pengetahuan, tetapi membangun jembatan rasa saling percaya antara peneliti di Kanada dan Indonesia,” ujar Dr. Ramdani.
Kegiatan pengabdian ini juga menjadi ajang mutual learning yang intensif. Dr. Ramdani dan para peneliti UoT saling bertukar pengetahuan kearifan lokal dalam menghadapi kondisi iklim ekstrem. Para peneliti Kanada memperkenalkan tradisi masyarakat adat Inuit di Arktik yang memanfaatkan serat qiviut (wol muskox) untuk membuat pakaian tahan suhu dingin hingga -70°C, serta tantangan kepunahan muskox akibat pemanasan global. Sebaliknya, Dr. Ramdani menunjukkan bagaimana masyarakat desa di Riau membangun blok kanal (canal blocks) untuk membasahi kembali lahan gambut yang kering dan rawan terbakar. “Masyarakat adat Arktik dan masyarakat desa gambut di Sumatra sama-sama mengajarkan kita bahwa akar adaptasi adalah gotong royong dan harmoni dengan alam,” tambahnya.
Salah satu program pengabdian ini adalah GIS co creation. Dr. Ramdani membagikan data spasial yang selama ini sulit diakses oleh peneliti asing, seperti peta konsesi kehutanan, batas desa, jaringan hidrologi gambut, dan lokasi blok kanal – yang diperoleh secara sah dari lembaga pemerintah Indonesia. “Selama ini rekan-rekan peneliti di Kanada sangat bergantung pada data penginderaan jarak jauh yang tidak mampu menangkap detail adaptasi di tingkat desa. Setelah kegiatan ini, mereka bisa membuat peta risiko kebakaran lebih jelas,” jelas Dr. Ramdani.
Program pengabdian internasional yang berlangsung dua bulan ini mendapat sambutan hangat dari UoT dan para peneliti mitra. Kegiatan ini diharapkan menjadi model bagi kolaborasi Kanada dan Indonesia yang lebih setara, transparan, dan berorientasi pada aksi iklim nyata – sekaligus membawa nama baik UMY dan Persyarikatan Muhammadiyah di kancah global. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY sebagai wujud komitmen universitas dalam mendukung kolaborasi global yang berkeadilan dan berdampak nyata bagi masyarakat.

