PHNOM PENH, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali memperluas kontribusi akademiknya di kancah internasional. Melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat Internasional, tiga dosen UMY menggelar program pemberdayaan bertajuk "Meningkatkan Kemampuan Berwirausaha pada Siswa SMA Norol Iman di Phnom Penh, Cambodia".
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada 1 hingga 5 Juni lalu melalui Focus Group Discussion (FGD) ini diikuti dengan sangat antusias oleh para siswa di ibu kota Kamboja tersebut. Program ini dirancang untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak dini. Selain itu, para siswa juga dibekali keterampilan praktis dalam membangun usaha yang inovatif, kreatif, dan berkelanjutan.
Tim pengabdian internasional ini beranggotakan tiga dosen pakar dari UMY, yaitu Sutrisno Wibowo, S.E., M.M., Dr. Punang Amaripuja, S.E., S.T., M.I.T., dan Dr. Lalu Supardin, S.E., M.M. Secara bergantian, mereka membagikan strategi dan wawasan dunia bisnis yang relevan dengan tantangan global saat ini.
Pada sesi pertama, Sutrisno Wibowo, S.E., M.M. membedah materi Business Model Canvas (BMC). Perangkat strategis ini digunakan untuk membantu para siswa merancang dan mengembangkan model bisnis secara terstruktur.
Dalam pemaparannya, Sutrisno memperkenalkan sembilan elemen utama BMC. Elemen tersebut meliputi segmen pelanggan (customer segments), proposisi nilai (value propositions), saluran distribusi (channels), hingga struktur biaya (cost structure).
"Melalui metode Business Model Canvas, kami mengajak para siswa untuk berpikir secara sistematis. Sebuah ide bisnis yang cemerlang tidak akan berjalan optimal tanpa perencanaan model bisnis yang matang," ujar Sutrisno saat dihubungi pada Sabtu (4/7)
Sementara itu, Dr. Punang Amaripuja, S.E., S.T., M.I.T. mengulas materi penting mengenai The Entrepreneurial Spirit. Ia menekankan betapa pentingnya membangun karakter wirausaha yang berani mengambil peluang, kreatif, inovatif, serta tangguh menghadapi perubahan zaman.
Tidak hanya teori, Punang juga membekali peserta dengan panduan taktis memulai usaha (Starting a Business). Materi yang diberikan mencakup cara menggali ide, analisis peluang (opportunity screening), studi kelayakan (feasibility study), hingga penyusunan rencana bisnis (business plan).
"Menanamkan jiwa kewirausahaan pada generasi muda di Kamboja adalah langkah investasi jangka panjang. Kami ingin membentuk mentalitas mereka agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga jeli melihat peluang lokal dan menciptakan inovasi produk sendiri," tegas Punang.
Sepanjang kegiatan, antusiasme siswa SMA Norol Iman tergolong sangat tinggi. Banyak di antara mereka aktif mengajukan pertanyaan dan memaparkan ide bisnis yang potensial untuk dikembangkan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Kamboja.
Program pengabdian lintas negara ini menjadi bukti nyata komitmen UMY dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi di tingkat global. Melalui pemberdayaan generasi muda di Kamboja, UMY berharap dapat mencetak calon wirausahawan muda yang inovatif.
Lebih dari itu, sinergi ini diharapkan dapat mempererat hubungan kerja sama internasional antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan berbagai institusi pendidikan di Asia Tenggara.

