Dua Pesantren Muhammadiyah di Sulsel Raih Akreditasi Unggul

Publish

1 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
83
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Awal tahun 2026 menjadi penanda capaian penting bagi pendidikan pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.

Dua lembaga, Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara dan Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah, resmi meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LP2 PPM).

Hal itu disampaikan Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LP2 PWM) Sulsel, Dr Muhammad Ali Bakri, dalam keterangan tertulis, pada Kamis, 1 Januari 2026.

"Predikat tersebut menegaskan konsistensi kedua pesantren tersebut dalam mengelola pendidikan pesantren yang memadukan nilai keislaman, kemuhammadiyahan, dan pendekatan pendidikan modern," terang Ali Bakri. 

Capaian ini juga, lanjutnya, menempatkan kedua pesantren itu sebagai rujukan pengembangan mutu pesantren Muhammadiyah, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Ketua LP2 PPM Maskuri menyebut jumlah pesantren Muhammadiyah meningkat pesat dalam satu dekade terakhir, dari 127 pesantren pada 2015 menjadi 445 pesantren di 27 provinsi pada 2025. Namun, menurut dia, pertumbuhan kuantitas perlu diikuti penguatan kualitas.

Ia menilai akreditasi menjadi salah satu instrumen strategis untuk mendorong perbaikan yang terukur. Bahkan, akreditasi pesantren menjadi program strategis untuk meningkatkan kualitas lulusan, proses pembelajaran, kompetensi ustaz, serta tata kelola pesantren.

"Ini diperlukan sebagai evaluasi diri dan perbaikan berkelanjutan,” ujarnya dalam kegiatan kick-off akreditasi pesantren Muhammadiyah.

Serupa itu, Ketua Unit Penjaminan Mutu Pesantren Muhammadiyah Toni Toharudin menekankan bahwa penjaminan mutu tidak berhenti pada pemenuhan dokumen. Bagi dia, mutu adalah bagian dari transformasi pesantren sebagai pusat pembinaan karakter dan pemberdayaan umat.

"Di tengah perubahan sosial dan teknologi, ia menyebut standar yang jelas dan terukur kian dibutuhkan agar pesantren mampu tampil sebagai model pendidikan Islam yang unggul," ujarnya.

Di Pesantren Darul Arqam Gombara, predikat unggul ditopang oleh pengelolaan yang dinilai inovatif serta kurikulum yang integratif. Budaya mutu dibangun melalui kerja kolektif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, hingga evaluasi program.

Sejumlah kalangan pendidikan menyebut capaian Darul Arqam Gombara sebagai contoh bagaimana pesantren dapat beradaptasi tanpa kehilangan akar nilai. Penguatan tata kelola dan pembelajaran menjadi kata kunci agar lembaga pendidikan berbasis pesantren tetap relevan menghadapi tuntutan zaman.

Sementara itu, Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah dikenal kuat dalam pembinaan karakter serta penguatan kepemimpinan perempuan. Lingkungan belajar yang mendukung prestasi akademik dan pembentukan nilai membuat pesantren ini sering dijadikan rujukan dalam pendidikan pesantren putri.

Direktur Pondok Pesantren Ummul Mukminin Aisyiyah Sulsel Dra Masriwaty Malik, MThI menyampaikan kesyukuran atas capaian tersebut. "Syukur Alhamdulillah, proses akreditasi pesentren membuahkan hasil yang luar biasa, ini semua berkat pertolongan Allah SwT serta komitmen, kesungguhan, kesabaran, kerja profesional tim penjaminan mutu pesantren bersama seluruh civitas pesantren," tandasnya. 

Ia mengucapkan terima kasih atas bimbingan LP2 PWM Sulsel yang senantiasa mengarahkan dan memberi kepercayaan kepada Pesantren Ummul Mukminin untuk mengikuti seluruh rangkaian proses sampai menghasilkan yang terbaik.

Masriwaty melanjutkan, dukungan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan turut memperkuat ekosistem pendidikan di Ummul Mukminin. Dorongan tersebut diarahkan agar santriwati tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga siap mengambil peran di ruang-ruang sosial yang lebih luas.

Wakil Ketua PWM Sulsel KH Mawardi Pewangi menilai capaian dua pesantren itu menjadi momentum bagi pesantren Muhammadiyah lain di Sulawesi Selatan untuk terus berbenah, berinovasi, dan meningkatkan daya saing. 

“Pencapaian ini menegaskan peran strategis pesantren Muhammadiyah dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak. Kami bersyukur dan berharap langkah ini terus berlanjut demi pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Akreditasi unggul, pada akhirnya, bukan sekadar label. Ia menjadi penanda kerja panjang: membangun tata kelola yang rapi, pembelajaran yang hidup, pendidik yang kompeten, serta lingkungan yang menumbuhkan karakter. Dua pesantren di Sulsel itu memberi pesan sederhana, mutu bisa dicapai ketika pembenahan dilakukan dengan disiplin, konsisten, dan berkelanjutan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lebih dari empat puluh hari krisis kemanusiaan berlalu di Palestina. P....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - UMY Career Fair (UCF) 2025 yang akan digelar selama dua hari d....

Suara Muhammadiyah

16 June 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Herry Suhardiyanto....

Suara Muhammadiyah

16 May 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universita....

Suara Muhammadiyah

21 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Spanduk panjang terbentang, tertulis "Demi Masa Depan Berbangsa dan....

Suara Muhammadiyah

22 March 2025