Efisiensi Energi, Dakwah Ramah Lingkungan yang Sesungguhnya

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
694
Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah (21/8).

Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah (21/8).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bangunan ternyata menjadi salah satu penyumbang terbesar konsumsi energi sehari-hari. Dari pencahayaan, pendingin ruangan, hingga perangkat elektronik, semua membutuhkan energi yang tidak sedikit. Hal ini diungkapkan oleh Rachmawan Budiarto, Dosen Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, dalam acara Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah, program kolaborasi antara 1000 Cahaya dengan LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah (20/8).

Rachmawan menjelaskan, sebagian besar bangunan masih bergantung pada energi listrik dari jaringan umum. Namun, beberapa institusi mulai melengkapi diri dengan sumber energi alternatif, seperti genset maupun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kehadiran sumber energi terbarukan ini bukan hanya mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal, tetapi juga membantu menekan emisi karbon.

Menurutnya, memahami konsumsi energi bukan hanya soal menghitung besar daya dalam satuan watt, tetapi juga melihat energi dalam jangka waktu tertentu—misalnya kilowatt-jam (kWh). “Perbedaan utama daya dan energi terletak pada waktu. Energi memperhitungkan durasi pemakaian,” jelasnya.

Pola konsumsi energi pun bersifat fluktuatif, bergantung pada waktu dan aktivitas. Sebagai contoh, ruang kelas akan menyerap energi lebih banyak saat jam kuliah berlangsung. Sedangkan di malam hari atau saat libur, pemakaian turun signifikan. Jika ditotal, konsumsi energi institusi merupakan akumulasi dari seluruh ruang dan fasilitas yang ada.

Dalam audit energi, tiga variabel penting biasanya menjadi tolok ukur. Pertama, intensitas konsumsi energi (jumlah energi per meter persegi bangunan per tahun). Kedua, biaya operasional (pengeluaran untuk listrik dan bahan bakar). Ketiga, intensitas emisi karbon (jumlah emisi gas rumah kaca per tahun). Semakin rendah angka-angka tersebut, semakin efisien dan ramah lingkungan operasional sebuah bangunan.

“Melalui pemahaman ini, kita bisa mengelola energi dengan lebih bijak, sekaligus mengintegrasikan semangat dakwah ramah lingkungan di Muhammadiyah,” tegas Rachmawan. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah di Sumatera Utara kembali menerima hibah tanah dari masyara....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan mengadakan kegiatan Perkemahan Hi....

Suara Muhammadiyah

9 December 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menerima kunjungan d....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Dalam memperingati HUT RI Ke 79, SMK SPP SNAKMA Muhammadiyah Tanjung Ano....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024

Berita

Melampaui Daging dan Tulang: Mengapa Kita Lebih dari Sekadar Materi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Faku....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah