Efisiensi Energi PKU Gamping, Jalan Sunyi Menjaga Bumi

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
109
Gedung RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai mitra 1000Cahaya dalam program efisiensi energi (22 April 2026). Foto Dok Cris/SM

Gedung RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai mitra 1000Cahaya dalam program efisiensi energi (22 April 2026). Foto Dok Cris/SM

Langit tampak terang benderang. Sorot suar begitu menyembilu. Meski begitu, tetap diiringi dengan desir angin berhembus dengan gontai. Burung-burung saling bersahut-sahutan silih berganti. Menciptakan suasana keheningan, keteduhan, dan keserasian. Di tengah denyut medis yang terus berdegup tiada henti melayani pasien yang datang silih berganti. Dari balita sampai senior care sekalipun. Memberikan pelayanan sepenuh hati tanpa balutan diskriminasi.

Setiap ruangan, aroma khas obat-obatan menyambut setiap derap langkah. Di balik dinding-dinding yang kokoh, tersimpan secercah harapan di tengah pergulatan begitu rupa melawan rasa sakit yang membelenggu. Pelan tapi pasti, harapan itu membuahkan hasil hatta konsistensi dari usaha dan keyakinan setiap diri bahwa segala penyakit niscaya ada penawarnya. 

Jelaslah kemudian, harapan itu kian tinggi seiring dengan senyum tulus setiap dokter yang hadir memberikan perawatan dan juga intermezo untuk memberikan gentusan kepada pasien agar terus berjuang bangkit dari sakit yang didera itu. Suasana ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan harmoni kelembutan kasih sayang dalam melayani sesama manusia sebagai pantulan dari relasi habl min al-nas yang sangat kaya pengajarannya di dalam agama Islam.

Itulah yang terlukiskan di Rumah Sakit Pembina Kesejahteraan Umat (PKU)—dulu PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem)—Muhammadiyah Gamping. Gedung kesehatan ini berdiri sejak 15 Februari 1923 oleh pemikiran genius dari Allahuyarham Kiai Haji Sudja’ yang didukung sepenuhnya oleh Allahuyarham Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Rumah sakit ini dari waktu ke waktu terus menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Makin modern dan semakin profesional dalam setiap lini layanannya. Transformasi fisik yang megah kini dibarengi dengan integrasi teknologi medis mutakhir, menjadikannya salah satu rujukan utama kesehatan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Di samping itu, yang paling substansial, telah berekspansi menjadi Green Hospital. “Sudah lama kita inisiasi sebenarnya,” beber Ahmad Faesol, Direktur Utama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Yang eksekusinya dengan membentuk tim eko-efisiensi. Tim ini menjadi memegang peranan amat vital di dalam menjalankan misinya untuk hemat energi. 

“Baik energi listrik maupun penggunaan air dan lain sebagainya,” imbuh Fesol, sebagai pengawal agenda Green Hospital tersebut, yakni best practice konsep rumah sakit yang mengintegrasikan praktik ramah lingkungan, efisiensi energi terhadap lingkungan. “Energi listrik harus mulai diefisiensikan. Dari sinilah kemudian, merupakan langkah awal penghematan. Dan ini perlu kita lakukan mulai hari ini,” tuturnya.

Tim eko-efisiensi itu mengejawantah dengan mengidentifikasi sekaligus menginventarisasi energi yang berdenyut di rumah sakit. Mulai dari pendar lampu di selasar koridor, sistem pendingin ruang yang menjaga suhu tetap stabil, hingga perangkat medis canggih yang bekerja nonstop demi nyawa pasien. Bertolak dari basis data inventarisasi yang solid tersebut, tim ini tidak berhenti pada angka-angka di atas kertas. Mereka melanjutkan langkah ke meja diskusi untuk mengkaji dan menganalisa setiap celah efisiensi yang memungkinkan. Mereka membedah pola konsumsi energi, mencari tahu di mana terjadi pemborosan, dan merumuskan strategi inovatif yang bisa dikerjakan.

“Misalnya kita membuat rambu-rambu, hemat listrik, matikan lampu dan AC, kemudian kalau di air ya kran dimatikan. Jadi membuat signage-signage gitu ya,” ucap Faesol lagi. Analisis ini bukan bertujuan untuk memangkas kualitas pelayanan, lebih tepatnya adalah untuk memastikan bahwa setiap watt listrik dan setiap tetes energi yang digunakan benar-benar memberikan manfaat maksimal. “Setelah mengidentifikasi energi yang bisa diefisienkan, kita membuat program-program yang arahnya untuk efisiensi energi,” tambahnya.

Sebuah Best Practice

Jejak langkah eko-efisiensi di RS PKU Muhammadiyah Gamping sebenarnya bukanlah hal baru. Ingatan kolektif rumah sakit ini sempat mencatat sebuah tonggak penting beberapa tahun silam, saat kolaborasi lintas negara dijalin bersama Green Solution (GSI) dari Malaysia. Kerja sama ini menjadi titik tolak transformasi besar dalam manajemenisasi energi, khususnya pada penggunaan pendingin ruangan (AC).

Kala itu, tim GSI melakukan audit energi yang mendalam. Mereka menginventarisasi setiap unit AC yang tersebar di berbagai sudut rumah sakit, menghitung dengan cermat berapa daya yang tersedot sebelum intervensi dilakukan. Angkanya cukup mencengangkan: dengan pengeluaran listrik untuk AC mencapai sekitar Rp280 juta per bulan.

“Awal-awal melaksanakan program, tagihan yang biasanya hampir 300 juta turun ke angka 260-an juta tiap bulan,” bongkar Faesol. Tapi dalam perjalanannya, hal itu diikutsertakan dengan adanya penambahan daya. “Sehingga baseline lama tidak relevan lagi karena sekarang tagihan listrik kita sudah di angka 300 jutaan sebulan,” jelasnya.

Di situlah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping melakukan migrasi besar-besaran. Dalam konteks ini, lebih fokus ke aspek penerangan. “Yang diintervensi itu penerangan lampu, diganti dengan LED yang hemat energi,” ujarnya. Yang mewujud pada replacement lampu penerangan dengan LED > 90% lampu terpasang di Gedung, Penghematan energi LED kurang lebih 40 sd 50 % dibandingkan lampu Konvensional.

Ruang tunggu RS PKU Muhammadiyah Gamping yang asri dengan pencahayaan langsung dari matahari. Foto Dok Cris/SM

Lebih jauh lagi, desain bangunannya pun, dikonstruksi sedemikian rupa. Variabel untuk mendukung ini, berpokok pangkal dari sisi pencahayaan. Pencahayaan di lorong, tangga, dan area umum sangat minimalis tidak menggunakan lampu yang berjangkar pada basis penggunaan listrik yang terlampau tinggi.

“Desain bangunannya luas sehingga cahaya masuk, dan ventilasinya juga kita cukup adaptif. Sehingga ruangan kita tidak panas,” beber Faesol lagi, yang juga Anggota Majelis Pembinaan Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Visi besar rumah sakit PKU Muhammadiyah Gamping kini tertuju pada satu titik yang lebih krusial: efisiensi energi secara berkelanjutan. Tak hanya bertopang pada teknologi pendingin ruangan atau pendar lampu di setiap koridor, perhatian Faesol kini mulai melirik komponen lain yang sering terlupakan namun menyedot daya luar biasa: lift.

“Targetnya jelas, kita ingin mendapatkan efisiensi energi yang semaksimal mungkin, baik dari penggunaan AC, pencahayaan, maupun yang lainnya. Terutama lift, ternyata dayanya lumayan besar, apalagi mobilitas kita tinggi,” tuturnya.

Menariknya, kebijakan ini tidak melulu soal menekan tombol "off". Ada pendekatan humanis yang disisipkan di sana. Faesol menghimbau kepada seluruh civitas hospitalia untuk kembali bergerak serempak dengan menggabungkan efisiensi listrik dengan kesehatan raga. Baginya, peranti lift hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mendesak, seperti mobilisasi pasien atau kondisi darurat lainnya.

“Saya memberi contoh, saya jarang sekali menggunakan lift. Saya gembar-gemborkan ke karyawan untuk olahraga ringan naik tangga,” ujarnya.

Demi menggentus kepada seluruh sivitas hospitalia staf agar mau menanggalkan lift. Dengan argumen logis dan sangat rasional, meniscayakan impak positif pada keberlangsungan kesehatan di kemudian hari. 

“Satu anak tangga bisa mengurangi 0,3 kalori atau lemak, saya bilang begitu supaya mereka tertarik,” tambahnya sembari tersenyum. Baginya, setiap langkah kaki di tangga adalah sebuah investasi jangka panjang: penghematan energi bagi rumah sakit sekaligus di saat yang sama juga melatih kebugaran bagi raga para pelayan umat.

Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping Ahmad Faesol menuruni tangga sebagai contoh penghematan penggunaan lift. Foto Dok Cris/SM

Di lain sisi, Direktur Umum dan Keuangan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Indria Nehriasari mengungkapkan rumah sakit tidak bisa lepas dari suplai energi dalam memasok kebutuhan sehari-hari. “Full energi. Kita itu tidak boleh berhenti sedikit pun untuk suplai energi, karena berhubungan dengan nyawa,” ujarnya.

Indria mempertanyakan, apakah ada strategi agar suplai energi terus berjalan, namun efisien. “Karena berbiaya tinggi. Mekanismenya seperti apa?” tanyanya. Di sinilah Indria sangat senang dengan kehadiran tim audit energi 1000Cahaya. Yang merupakan program dari Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah. “Bisa menyosialisasikan menjadikan rumah sakit ini di audit kebutuhan energinya, kemudian diberikan rekomendasi efisien yang seperti apa. Bahkan, dari rekomendasi itu sampai ke solusinya,” ucapnya, yang mengharapkan bisa merealisasikannya. “Ini bisa menjadi pilot project, karena baru ini (rumah sakit Muhammadiyah) yang di audit,” tambahnya. 

Antusiasme terhadap upaya efisiensi energi di lingkungan rumah sakit Muhammadiyah tampak begitu besar. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Direktur Program 1000Cahaya, Sudarto M. Abu Kasim, yang melihat respons cepat dari berbagai rumah sakit sejak rencana audit energi pertama kali diperkenalkan di PKU Gamping pada akhir 2025. Bahkan, sebelum program berjalan jauh, sejumlah rumah sakit lain sudah lebih dulu menyatakan minat untuk ikut serta.

Bagi Sudarto, audit energi adalah langkah strategis untuk memahami secara utuh pola konsumsi energi di setiap institusi. Dengan mengetahui besaran penggunaan listrik, rumah sakit dapat mengidentifikasi potensi pemborosan yang selama ini kerap luput dari perhatian. Ia menekankan bahwa listrik adalah kebutuhan jangka Panjang digunakan terus-menerus sepanjang operasional berlangsung sehingga tanpa pengelolaan yang tepat, biaya yang timbul bisa membengkak secara signifikan.

Dari sinilah urgensi efisiensi menjadi semakin nyata. Sudarto menyoroti bahwa ketersediaan energi listrik seharusnya tidak membuat pengelola abai terhadap cara penggunaannya. Justru, pengelolaan yang cermat menjadi kunci agar energi yang tersedia tidak terbuang sia-sia dan tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Dorongan untuk melakukan audit energi pun kini mulai diperluas ke berbagai Amal Usaha Muhammadiyah. Tidak hanya menyasar institusi besar dengan tagihan listrik hingga ratusan juta rupiah per bulan, tetapi juga unit-unit dengan konsumsi energi yang relatif kecil. Langkah ini menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan soal skala, melainkan kesadaran kolektif untuk mengelola sumber daya secara bijak dan bertanggung jawab. (*)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah -Ketua Pimpinan Cabang. Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Jeruklegi, periode 20....

Suara Muhammadiyah

4 November 2024

Berita

KUALA KAPUAS, Suara Muhammadiyah — Rombongan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kapuas menempuh perj....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) DPD Kab Sleman  hari&nb....

Suara Muhammadiyah

24 September 2023

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menunjukkan komit....

Suara Muhammadiyah

15 April 2025

Berita

BENGKULU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menutup pendaftaran mahasiswa....

Suara Muhammadiyah

2 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah