MUNTILAN, Suara Muhammadiyah – Ekonomi kreatif, menjadi pompa semangat untuk menggerakkan perekonomian di akar rumput. Bagi Deni Asy’ari, titik dasarnya terletak pada kemampuan mengeintegrasikan gagasan yang kreatif dan inovatif melalui perubahan atau perkembangan media digital.
“Ada added value, nilai tambah dari produknya, nilai tambah dari karyanya, nilai tambah dari gagasannya,” tuturnya.
Dalam ruang lingkup Muhammadiyah, konsepsi ekonomi kreatif sedang dibutuhkan. Yang ini kemudian menjadi landasan elementer untuk menggerakkan denyut ekonomi di akar rumput.
“Kondisi kita sekarang memang yang dibutuhkan di lingkungan Persyarikatan, memperbanyak kelompok-kelompok yang mengelola ekonomi kreatif (creativepreneurship),” tegas Deni.
Di situ, tidak dapat dinafikan kolaboratif menjadi niscaya. Sebab, tanpa begitu, lebih-lebih, melakukan monopoli, sudah dipastikan di era digital ini, ekonomi kreatif tidak akan tumbuh berkembang.
“Aspek ekonomi kreatif ini butuh yang pertama itu aspek kolaboratif, aspek bekerja sama, aspek bersinergi,” ujarnya, saat Seminar Ekonomi di Muhammadiyah Muntilan Expo (MME) 2026, Jumat (6/2) di SMK Muhammadiyah 2 Muntilan.

Apalagi, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah menyebut, kepelikan masalah yang menggelayuti berada dalam kungkungan era disrupsi. “Era yang merusak,” ucapnya, singkat. Dan, apa yang dirusak itu? Tersebut, “Sistem ekonomi yang mapan, sistem ekonomi yang mainstream,” sambung Deni.
Mengambil sampel permisalan, dalam dunia industri musik, katakanlah ingin tampil mentereng menjadi penyanyi. Jika dulu harus datang ke dapur rekaman, namun sekarang (era digital), sudah tidak berlaku lagi. "Sekarang namanya dapur rekaman nggak laku,” bebernya.
Buntutnya, tidak dijumpai toko yang menjualbelikan hasil rekaman tersebut. “Hari ini, era disrupsi mendistrak itu, merusak itu,” imbuh Deni lagi. Meski demikian, tetap ada celah dan kans untuk masuk berkompetisi di era disrupsi ini.
“Era disrupsi, sekarang orang kampung bisa jadi artis. Orang nggak tahu apa-apa bisa kaya raya sekarang,” tuturnya. Maka, optimisme Deni sangat tinggi di sini terhadap era disrupsi. “Tidak ada lagi ketakutan, kekhawatiran,” tekannya. Tinggal kemudian bergerak melakukan ekspansi kreativitas dan inovasi untuk mengisi ruang baru dengan kemasan usaha dan bisnis yang kian lebih menarik.
“Tanpa begitu, maka dipastikan bisnisnya tidak akan jalan,” tegasnya sekali lagi, menititekankan pentingnya dua variabel tersebut di atas: kolaboratif dan berkompetisi untuk mencapai titik tuju yang didambakan: bisnis yang tidak sekadar melahirkan profit, tapi juga melahirkan kemaslahatan untuk umat secara komprehensif. (Cris)

