Eskalasi Kehidupan

Publish

11 April 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1193
sumber gambar: pixabay.com

sumber gambar: pixabay.com

Bulan Syawal tengah kita jalani. Apa maknanya? Bulan bukan sekadar bergembira karena bisa bersua keluarga maupun hari raya berbuka puasa, akan tetapi dominan dimaknai bulan peningkatan (eskalasi). Yaitu peningkatan kualitas kehidupan setelah tempaan laku spiritual selama bulan Ramadan. Hendaknya, momen ini dijadikan kesempatan untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia terbaik (khayra ummah).

Pertama, ibadah. Tengoklah selama bulan Ramadan kemarin. Betapa masifnya ibadah berikut amalan ditunaikan. Tarawih, tadarus Al-Qur'an, infak, sedekah, dan lainnya. Kini, Ramadan telah berlalu, apakah peribadatan itu dilanjutkan atau justru dihentikan?

Kita mesti melanjutkan apa yang telah ditunaikan selama bulan Ramadan kemarin. Ibadahnya mengalami peningkatan. Nyatalah ibadah sebagai jangkar kehidupan. Sekali bergeser, maka diri pun juga akan bergeser dari titik koordinat syariat agama. “Shalat (ibadah) itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar,” kata Allah di Qs al-Ankabut: 45.

Haedar Nashir (2013) mendudukan posisi sentral ibadah yang dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan, maka dengan sendirinya akan mencegah si pelaku dari perbuatan buruk. Artinya, jika ada upaya peningkatan kualitas ibadah, dipastikan akan meroket tinggi lakunya menjadi adiluhung dan terhindar dari pelbagai keburukan dalam kehidupan.

Kedua, komunikasi. Ini cenderung pada aspek relasi kepada sesama manusia (habl min al-nas). Praktiknya dengan menjalin silaturahmi. Dalam suasana masih Syawal ini, tepatlah kita rekatkan kembali silaturahmi sebagai ibadah sosial dan Ilahiyah. Dari situ, akan semakin erat hubungan persaudaraan. "Orang-orang mukmin itu bersaudara," ungkapnya-Nya di Qs al-Hujurat: 10.

Agaknya paradoks dengan redaksi surat tersebut. Bilamana ada yang sengaja memutus rantai persaudaraan, hanya soalan irasional, hatta Rahmat Allah tak tersemai dalam kehidupan. "Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang memutuskan tali silaturahmi," tegas Nabi di Riwayat Muslim.

Ketiga, takwa. Umat Islam sudah sering mendengar kata takwa. Substansinya sudah hafal diluar kepala. Tapi, apakah takwa sudah dipraktikkan secara nyata? Atau hanya terjebak pada romantisme retorika? "Sebaik-baik bekal adalah takwa," beber-Nya di pangkal Qs al-Baqarah: 197.

Di situlah relevansinya takwa. Dan upaya untuk mencapai takwa, telah kita lakukan saat Puasa kemarin. "Puasa adalah bantuan terbesar untuk meraih takwa," jelas Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Semoga saja kita menjadi manusia bertakwa, mengingat hal tersebut peranannya amat vital sekali. "Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di neraka dalam keadaan berlutut," bongkar-Nya di Qs Maryam: 72.

Karena itu, jangan terperosok ke ngarai kealpaan di tengah kesemarakan Syawalan yang tidak berbuah pada proses peningkatan. Berakhirnya Ramadan, mesti ada peningkatan dan perubahan dalam diri kita, pelan tapi pasti. Dengan penuh pengharapan terwujudnya manusia baru melalui pancaran kemuliaan laku yang mencerahkan semesta. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Inklusi Sosial untuk Mewujudkan Masyarakat Berkemajuan Oleh: Saherman Saya berkesempatan untuk ter....

Suara Muhammadiyah

27 February 2024

Wawasan

Akhir Amanah  Oleh: Muslim Fikri  Senja mulai tampak, pertanda malam segera bertugas, ru....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Wawasan

Takwa dan Keberkahan Negeri Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Takwa, dalam narasi k....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Wawasan

Dari Langit ke Layar: Isra Mikraj dan Kekerabatan di Era Notifikasi Oleh: Yulianti – Dosen &a....

Suara Muhammadiyah

15 January 2026

Wawasan

Sekularisasi: Ancaman Bagi Pendidikan Islam Kita Oleh: Arif Rahmatullah, M.Pd.Dosen Universitas Muh....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah