Eskalasi Kehidupan

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

1274
sumber gambar: pixabay.com

sumber gambar: pixabay.com

Bulan Syawal tengah kita jalani. Apa maknanya? Bulan bukan sekadar bergembira karena bisa bersua keluarga maupun hari raya berbuka puasa, akan tetapi dominan dimaknai bulan peningkatan (eskalasi). Yaitu peningkatan kualitas kehidupan setelah tempaan laku spiritual selama bulan Ramadan. Hendaknya, momen ini dijadikan kesempatan untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia terbaik (khayra ummah).

Pertama, ibadah. Tengoklah selama bulan Ramadan kemarin. Betapa masifnya ibadah berikut amalan ditunaikan. Tarawih, tadarus Al-Qur'an, infak, sedekah, dan lainnya. Kini, Ramadan telah berlalu, apakah peribadatan itu dilanjutkan atau justru dihentikan?

Kita mesti melanjutkan apa yang telah ditunaikan selama bulan Ramadan kemarin. Ibadahnya mengalami peningkatan. Nyatalah ibadah sebagai jangkar kehidupan. Sekali bergeser, maka diri pun juga akan bergeser dari titik koordinat syariat agama. “Shalat (ibadah) itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar,” kata Allah di Qs al-Ankabut: 45.

Haedar Nashir (2013) mendudukan posisi sentral ibadah yang dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan, maka dengan sendirinya akan mencegah si pelaku dari perbuatan buruk. Artinya, jika ada upaya peningkatan kualitas ibadah, dipastikan akan meroket tinggi lakunya menjadi adiluhung dan terhindar dari pelbagai keburukan dalam kehidupan.

Kedua, komunikasi. Ini cenderung pada aspek relasi kepada sesama manusia (habl min al-nas). Praktiknya dengan menjalin silaturahmi. Dalam suasana masih Syawal ini, tepatlah kita rekatkan kembali silaturahmi sebagai ibadah sosial dan Ilahiyah. Dari situ, akan semakin erat hubungan persaudaraan. "Orang-orang mukmin itu bersaudara," ungkapnya-Nya di Qs al-Hujurat: 10.

Agaknya paradoks dengan redaksi surat tersebut. Bilamana ada yang sengaja memutus rantai persaudaraan, hanya soalan irasional, hatta Rahmat Allah tak tersemai dalam kehidupan. "Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang memutuskan tali silaturahmi," tegas Nabi di Riwayat Muslim.

Ketiga, takwa. Umat Islam sudah sering mendengar kata takwa. Substansinya sudah hafal diluar kepala. Tapi, apakah takwa sudah dipraktikkan secara nyata? Atau hanya terjebak pada romantisme retorika? "Sebaik-baik bekal adalah takwa," beber-Nya di pangkal Qs al-Baqarah: 197.

Di situlah relevansinya takwa. Dan upaya untuk mencapai takwa, telah kita lakukan saat Puasa kemarin. "Puasa adalah bantuan terbesar untuk meraih takwa," jelas Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Semoga saja kita menjadi manusia bertakwa, mengingat hal tersebut peranannya amat vital sekali. "Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di neraka dalam keadaan berlutut," bongkar-Nya di Qs Maryam: 72.

Karena itu, jangan terperosok ke ngarai kealpaan di tengah kesemarakan Syawalan yang tidak berbuah pada proses peningkatan. Berakhirnya Ramadan, mesti ada peningkatan dan perubahan dalam diri kita, pelan tapi pasti. Dengan penuh pengharapan terwujudnya manusia baru melalui pancaran kemuliaan laku yang mencerahkan semesta. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

RendangMu Model Ekonomi Daging KurbanMu Oleh: Amidi, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Palembang, ....

Suara Muhammadiyah

19 May 2026

Wawasan

Menjaga Kesadaran dalam Berkomunikasi Oleh: Afita Nur Hayati, Bekerja di UIN Sultan Aji Muhammad Id....

Suara Muhammadiyah

29 April 2024

Wawasan

Sisi Lain Surah As-Saff Ayat 6: Dari Makna Linguistik hingga Klaim Mirza Ghulam Ahmad Penulis Donny....

Suara Muhammadiyah

3 July 2026

Wawasan

Oleh: Afghan Azka Falah, Mahasiswa Magister Bioetika UGM Bioetika adalah disiplin ilmu yang mengkaj....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Wawasan

SINERGITAS GERAKAN EKONOMI: Dari Debat Milik Siapa ke Gerakan Ekonomi Jamaah Oleh: Suwatno Ibnu Sud....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah