Fenomena Pemimpin Iran

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
184
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Fenomena Pemimpin Iran

Oleh: Dr Immawan Wahudi, MH, Pengajar pada Fakultas Hukum UAD, mantan Ketua Umum DPP(S) IMM 1985-1986

Tulisan sederhana ini mencoba melihat fenomena Iran dalam dua isu pertama masa lalu revolusinya yang mencengangkan dunia dan buah revolusi yang menghasilkan tradisi kepemimpinan yang real dalam konteks tata laksana pemerintahan dan kepemimpinan Kaum Mullah. Menurut hemat penulis dasar ideologis revolusi dan dasar ideologis kepemimpinan Iran sangat fundamental untuk dibahas.

Sebab itu penulis tidak memfokuskan pada konflik - peperangan Iran (yang diserang secara sepihak) oleh Amerika Serikat (USA) dan Israel. Sesungguhnya peperangan ini sendiri, merupakan berkah yang tersembunyi (the blessing in disguise) yang akhirnya bermuara pada gambaran real ”siapa sebenarnya” Republik Islam Iran.

 Perlu kiranya memulai pembicara tentang Iran dari efek revolusi Islam Iran 1979. Saat itu penulis masih mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga yang banyak berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi swasta maupun negeri. Sekurang-kurangnya dapat penulis gambarkan terdapat kecenderungan di kalangan anak-anak muda saat itu memasang poster besar Imam Khomeini di kamar kostnya. Beberapa tahun sesudah revolusi Islam Iran psycho politics masih dipenuhi dengan kecurigaan (boleh jadi ketakutan juga) sehingga muncul ”kampanye anti Iran.”

Hal itu misalnya, tergambarkan dalam tulisan Yusuf Abdullah Puar berjudul ”Revolusi Iran tidak cocok untuk Indonesia.” Buku saku kecil itu dicetak banyak. Penulis memperoleh buku itu saat mengikuti Penataran P-4 45 Jam. Mungkin tujuan diedarkannya buku itu sebagai upaya antisipasi menghadapi gelombang ekspor revolusi Islam Iran.

Kritik dan Dukungan 

Empat puluh tujuh tahun sesudah negara yang diblokade hampir oleh seluruh negara di dunia, kecuali oleh beberapa gelintir negara yang berafiliasi dengan perjuangan politik Iran –yang sifatnya parsial—seperti Lebanon dan Yaman, menunjukkan lompatan kemajuan sangat energi dan patriotik. Mengapa demikian lompatan besar terjadi? Penulis menemukan ungkapan dari seorang pakar Muslim yakni Chandra Muzaffar. Tulisannya berjudul Islamic Resurgence: A Global View diterbitkan dalam buku Perkembangan Modern Dalam Islam bersama dengan tulisan dari pakar lainnya disunting oleh Harun Nasution dan Azyumardi Azra. (YOI, Jakarta, 1985, hal. 70 – 117). Penulis merasa beruntung menemukan tulisan Chandra Muzaffar karena dalam tulisan itu digambarkan ”dua alam politik” yakni pada satu sisi mengkritik pada sisi lain secara jujur memuji tekad revolusi besar negara para Mullah itu. Agar tergambarkan secara otentik penulis kutip Pandangan Chandra Muzaffar sebagai berikut.

Sesudah menggambarkan factor-faktor yang mempengaruhi kebangkitan Islam dengan basis kemenangan Mesir atas Israel pada tahun 1973 sebagai babak yang sangat penting psycho politics di negara-negara Islam, Muzaffar menulis: “Namun yang lebih penting dari peristiwa tahun 1973 dalam kebangkitan Islam adalah Revolusi Islam Iran tahun 1979. Bahkan para pengkritik revolusi dan pendukung rezim Syah Iran mengakui bahwa revolusi tersebut telah meninggalkan bekas yang tak terhapuskan dalam benak Muslim.”

Sesudah mempertanyakan tindakan revolusi atas nama Islam, antara lain melaksanakan eksekusi atas para penentang revolusi, para pengguna obat bius dan kriminal berat tanpa mempertimangkan proses pengadilan adalah tindakan yang sangat menjijikkan. Demikian pula Muzaffar memertanyakan apakah ada sesuatu yang bercirikan Islam dalam suatu struktur kekuasaan absolut diberikan kepada seorang tokoh – Imam? Namun secara jujur Muzaffar juga menyatakan bahwa betapapun ironisnya revolusi ini negara-negara Islam mengakui bahwa ini adalah revolusi Islam. 

Pandangan yang sangat penting dari Muzaffar --yang kala itu Iran sedang sangat positif - popular dalam pandangan para pendukung dan sangat dibenci bagi negara-negara sekuler adalah analisisnya yang menyatakan bahwa revolusi Islam Iran itu disebut sebagai revolusi atas nama Islam berdasarkan tiga hal prinsipal. Pertama, sejak semula revolusi Iran menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan dalam memerangi imperialisme Amerika. Kedua, pada Iran terdapat suatu pendirian kuat yang sama untuk menjadi negara Islam yang independen dan otonom terlepas dari kendali negara adikuasa Amerika dan Soviet. Ketiga, terlepas dari semua kekacauan dan kerusuhan yang seringkali ditonjolkan pers Barat, Iran telah berhasil mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai suatu bangsa.

Kepemimpinan Real Para Mullah

Pada bagian ini penulis mencoba mengungkapkan realitas kepemimpinan Para Mullah. Sumber dari bagian ini disamping informasi dari teman-teman keluarga Persyarikatan juga dari para warga RI yang kuliah di Iran, yang mengunggah dialognya di media sosial. Tentu juga dari bacaan dengan basis internet. Sebenarnya kehebatan perjuangan berat Iran dalam menghadapi setan besar AS dan setan kecil Israel saat ini adalah pada teknologi persenjataannya yang sangat mencengangkan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang mengalami lompatan besar. Penulis merasa tidak cukup memiliki informasi tentang dua hal itu. 

 Penulis fokus pada fenomena integritas moral pemimpin Iran. Kepemimpinan itu bermakna amat sangat besar bagi suatu bangsa. Ia ibarat dua kekuatan dahsyat. Satu sisi di dalamnya ada energi, idealisme, ada kekuatan serta wibawa, dan pada sisi lain terdapat energi untuk mengomando bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan termasuk perang. Kepemimpinan menjadi ukuran real yang nyaris tak terbantahkan bagaimana ”gambar aslinya” suatu bangsa hidup dan upayanya mencapai cita-cita hidup mereka terdapat dalam gambar asli kepemimpinan. Pada bagian ini penulis mencoba menekankan pada aspek kesederhanaan dan kedekatan pemimpin Iran dengan rakyat. Kepemimpinan bagi masyarakat Muslim dengan madzhab Sy’iah pada umumnya sangat efektif untuk memandu hidup dan kehidupan masyarakat karena basisnya adalah keteladanan.

Tradisi Kepemimpinan Ulama

Setelah Revolusi 1979, Iran beralih dari sistem monarki Pahlavi yang mewah ke Republik Islam yang dipimpin ulama Syiah lewat sistem Wilayat al-Faqih. Karena para pemimpinnya berlatar pendidikan pesantren, maka citra yang ditampilkan memang "sederhana, religius, jauh dari simbol kemewahan kerajaan". Ini kontras dengan Dinasti Pahlavi yang dikenal gaya hidup mereka mewah sebagaimana masyarakat Barat.

Ayatollah Ali Khamenei, misalnya merupakan Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Hal yang sering disorot dari figur sentral ini adalah kesederhanaannya. Banyak narasi menyebut beliau memilih pakaian yang sederhana, makanan yang sejajar dengan apa dikonsumsi oleh rakyat. Ulama ini juga tidak segan untuk memperbaiki barang-barang miliknya yang rusak ketimbang menggantinya dengan yang baru. Ada laporan "37 tahun jadi Pemimpin Tertinggi tapi tidak punya rumah pribadi, termasuk 4 orang putranya masih tinggal di rumah sewa".

Ayatollah Ali Khamenei sering menekankan nasihat kepada para pejabat dengan pernyataan: "Teruslah berjalan di tengah-tengah rakyat dan jangan terjebak rumor". "Pemerintahan yang merakyat tidak hanya berarti berada di tengah rakyat, tapi punya perencanaan matang dan memberikan peluang partisipasi masyarakat". Beliau termasuk sebagai simbol personal. Ada video ketika beliau jalan pagi kehujanan yang diangkat sebagai simbol kerendahan hati, disiplin, keteguhan adalah pada saat ada orang yang meminta jubahnya, beliau menjawab dengan tersenyum: "Bagaimana saya pulang tanpa jubah? Baiklah, saya kasih... tidak apa-apa".

 Imam Ali Khamenei juga memberikan nasihat moral kepada para pejabat Anggota Kabinet, dengan menekankan empat hal: bersyukur, niat ikhlas tanpa pencitraan, menepati janji, dan "pengabdian tanpa pamrih kepada masyarakat sebagai anugerah Ilahi". Dalam konteks moral kebangsaan beliau juga memberikan nasehat dengan pernyataan; "Dalam mengabdi, semua rakyat harus diperlakukan sama, jangan ada diskriminasi".

Figur lain, Ebrahim Raisi - Presiden 2021-2024 yang wafat pada Mei 2024 dalam kecelakaan helikopter –yang diduga adanya sabotase. Citra kepemimpinan Raisi antara lain rekam jejak "anti-korupsi.” Pada saat dilantik, ia bersumpah "menjaga konstitusi & melayani rakyat". Di pertemuan kabinet, ia menegaskan yang pada intinya bahwa komitmen terhadap idealisme Imam Khomeini adalah dengan memberi perhatian kepada rakyat, berdasarkan nilai-nilai Ilahi, menegakkan keadilan dan melawan diskriminasi dan korupsi".

Buah dari revolusi Islam Iran adalah sistem pemerintahan Republik Islam Iran yang terus menekankan pada kehidupan penuh kesederhanaan, menjaga kedekatan dengan rakyat yang merupakan basis pembeda dengan era monarki Reza Pahlevi yang penuh kemewahan.* 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

KH Amal Fathullah Zarkasyi dan Ilmu Kalam Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Alumni Fakultas Ushuluddin U....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Wawasan

Akuntabilitas Manajemen Koperasi Syariah Oleh: Pepi Januar Pelita, Dosen FKIP Universitas Muhammady....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Wawasan

Begadang Melemahkan Otak dan Tidur Sehat Menurut Islam Oleh: Tutut Indria Permana, M.Pd., Mahasiswa....

Suara Muhammadiyah

19 November 2025

Wawasan

Diskursus Komunikasi Politik dalam Ijtihad Menentukan Awal Ramadhan dan Idul Fitri Oleh : Haidir Fi....

Suara Muhammadiyah

22 March 2026

Wawasan

Ketika Rasa Sakit Menjadi Guru Oleh: Ratna Arunika, Anggota PWA Jatim Tidak ada manusia yang kebal....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah