Tiada Bahagia dengan Tipu Daya

Suara Muhammadiyah

14 July 2026

165
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tiada Bahagia dengan Tipu Daya

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Bagi orang-orang tertentu, tipu daya dapat mendatangkan kebahagiaan. Sesungguhnya, kalaupun mereka merasa bahagia, hanya sesaat. Mungkin ada yang berpendapat bahwa tipu daya dapat dipelihara dengan sistem dan pemelihara sistem itu adalah orang-orang yang "satu frekuensi" tentang pentingnya "melanggengkan" kekuasaan. Bagi mereka, kekuasaan adalah segala-galanya.

Menurut mereka, pemelihara sistem itu dapat berasal dari satu keluarga, organisasi, atau yang lain. Selama mereka dapat saling menguntungkan, selama itu pula sistem tipu daya dapat dijaga. Namun, mereka tidak berpikir bahwa jika ada di antara mereka yang merasa dirugikan, timbul masalah yang menyebabkan mereka saling membuka wajah aslinya masing-masing. 

Kasus aktual yang benar-benar membuat kita sesak dada misalnya adalah tipu daya pejabat yang mengurus Makan Bergizi Gratis (MBG). Cukup banyak pejabat yang ditangkap karena dugaan korupsi. Di antara mereka ada yang menggelembungkan anggaran. Penggelembungan anggaran hakikatnya merupakan tipu daya. 

Sesaat mereka tampak bahagia. Namun, di antara mereka ada yang langsung menderita karena harus meringkuk di dalam penjara. Tentu mereka sama sekali tidak bahagia. Memang ada yang lolos dari penjara dunia, tetapi di akhirat mereka pasti menderita selama-lamanya karena menerima azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Larangan Tipu Daya

Tipu daya dilarang di dalam Islam. Hal itu dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Di dalam Al-Qur’an surat an-Nahl (16): 94 Allah Subhanahu wa Ta’ ala berfirman,

وَلَا تَتَّخِذُوْٓا اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا  بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوْتِهَا وَتَذُوْقُوا السُّوْءَ بِمَا صَدَدْتُّمْ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

“Janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antara kamu, yang menyebabkan kakimu tergelincir setelah kukuh tegaknya dan kamu akan merasakan keburukan karena kamu mengalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagi kamu azab yang besar.”

Dalam menafsirkan ayat 94 tersebut, di dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menghubungkannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Sangat menarik tafsir atas ayat 92. Dijelaskannya bahwa orang yang telah mengikat janji harus berpegang teguh pada janji tersebut. Jika tidak, mereka diumpamakan perempuan yang mengorak tenunannya sendiri yang telah indah, kuat, dan selesai. Akibatnya, tenunan itu rusak dan tidak berguna sama sekali. 

Menurut beliau, orang yang mengingkari janji dalam konteks ini sama halnya dengan menjadikan sumpah sebagai tipu daya. Dapat terjadi pengingkaran terhadap sumpah itu dilakukannya karena mereka ingin memperoleh keuntungan dan menurut mereka keuntungan itu dapat diperoleh dengan mengikuti kelompok yang lebih banyak. Dengan pemikiran seperti itu, mereka sedikit pun tanpa merasa bersalah membuat janji baru dengan kelompok yang lebih besar, lebih kuat, lebih banyak orangnya, dan lebih kaya.

Menurut Hamka, tindakan yang demikian merupakan tindakan yang tidak memedulikan sopan santun. Tindakan tersebut merupakan perangai orang jahiliah yang tidak sepatutnya menjadi akhlak muslim.  

Larangan melakukan tipu daya terdapat juga di dalam surat al-Baqarah (2): 188

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Di dalam Tafsir at-Tanwir Jilid 2, kata batil di dalam ayat tersebut dijelaskan merupakan cara memperoleh harta orang lain yang tidak sesuai dengan aturan syariah. Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak berlebih-lebihan kiranya jika dikatakan bahwa tipu daya merupakan salah satu cara yang tidak sesuai dengan aturan syariah. Oleh karena itu, orang yang melakukannya pasti berdosa. 

Di dalam surat al-Nisa (4): 29 terdapat juga larangan memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ تَجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu, Janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Sementara itu, di dalam HR al-Bukhari dan HR Muslim dijelaskan,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ رَجُلاً، ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ ‏‏ إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لاَ خِلاَبَةَ ‏‏‏

“Telah menceritakan kepada kami Isma'il; telah menceritakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma; ada seorang laki-laki mengeluhkesahkan dirinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dirinya sering ditipu dalam jual beli, maka beliau bersabda, “Jika kamu jual-beli, katakan, ‘Namun, dengan syarat tak ada penipuan.” 

Dengan memperhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut semestinya muslim tidak melakukan tipu daya dalam hal apa pun. 

Demi Kue Kekuasaan

Tafsir Hamka atas ayat 92-94 surat an-Nahl kiranya sangat relevan dengan realitas politik di Indonesia saat ini. Pada pilihan presiden 2024 misalnya tafsirnya itu nyata sekali. Ada kelompok yang dengan mudah mengingkari perjanjian demi memperoleh keuntungan. Mereka membuat perjanjian baru dengan kelompok yang lebih besar, lebih kuat, lebih banyak orangnya, dan lebih kaya. 

Kelompok tersebut benar-benar melupakan perdebatan ide besar tentang penataan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Gagasan besar yang diperdebatkan ketika berkampanye dikubur dalam-dalam atau dibuang jauh-jauh. Demikian pula rasa malu. Yang tinggal di kepala hanya nafsu memperoleh “jatah kue kekuasaan” sebanyak-banyaknya.  

Sikap menentang kelompok lain pada waktu berkampanye berubah drastis menjadi sikap memuji-muji. Ide mengurus kesehatan anak-anak melalui MBG yang menurut para akademisi (yang berintegritas tinggi) berpotensi menjadi ladang korupsi dan "melanggar" konstitusi, pun dipuji. Alasan memujinya adalah demi kepentingan yang jauh lebih besar! 

Mereka tampak bahagia. Sesungguhnya, kebahagiaan yang diperoleh dengan tipu daya hanya sesaat.

Di dalam surat al-Hadid (52): 20 Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” 

Hal yang sangat memprihatinkan adalah ada orang yang menyamakan pemilihan anggota legislatif dan esksekutif dengan perang. Dengan serta merta mereka merujuk kepada sabda Rsulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR al-Bukhari,

  حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بُورُ بْنُ أَصْرَمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَرْبَ خَدْعَةً

“Telah bercerita kepada kami (Abu Bakar Buur bin Ashrom) telah mengabarkan kepada kami (Abdullah) telah mengabarkan kepada kami (Ma‘mar) dari (Hammam bin Munabbih) dari Abu Hurairah radiallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan perang adalah tipu daya.”

Pemahaman terhadap hadis tersebut tanpa memperhatikan konteksnya secara utuh melahirkan buzzer politik. Mereka dibayar untuk menyebarkan narasi fitnah dan hoax. Akibatnya, masyarakat awam tidak tecerdaskan. Pihak yang makin pintar adalah buzzer politik!

Na'uzubillah!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menjenguk Tetangga Yang Sakit Oleh: Mohammad Fakhrudin Topik kajian ini merupakan lanjutan pengemb....

Suara Muhammadiyah

18 July 2025

Wawasan

Oleh: Hening Parlan Di antara denting lonceng gereja pada Minggu pagi, lantunan doa di wihara saat ....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Wawasan

Menjadi Muslim Berkemajuan di Era Serba Instan Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Sy....

Suara Muhammadiyah

24 June 2026

Wawasan

Oleh: Agus setiyono, Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah dan pegiat dahwah online, Jambi “Nega....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025

Wawasan

Di Antara Kita Ketika Ada Bencana Oleh: Mohammad Fakhrudin Peristiwa gunung meletus, gempa bumi, b....

Suara Muhammadiyah

12 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah