Film Pendek ‘Bapak Ini Harus Remidi!’ Karya Mahasiswa UMY Raih Prestasi Nasional

Suara Muhammadiyah

13 September 2025

869
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mengharumkan nama kampus melalui dunia perfilman. Karya film pendek berjudul “Bapak Ini Harus Remidi!” berhasil masuk 30 besar ajang KlikFilm Short Movie Competition 2025 by Jakarta World Cinema (JWC), sebuah kompetisi bergengsi yang mempertemukan sineas muda dari berbagai kampus di Indonesia.

Setia Wulan Asri selaku penulis naskah (script writer) menjelaskan bahwa film ini mengisahkan sosok Muslim, seorang pemuka agama berusia 44 tahun, yang terjebak dalam lingkaran waktu (time looping). Dalam setiap pengulangan, ia selalu gagal melakukan hal-hal sederhana yang berujung pada kegagalannya mengejar penerbangan ke bandara.

“Konflik yang dialami Muslim adalah keinginannya mengejar pesawat, tapi selalu terhambat oleh kesalahan kecil yang ia remehkan. Misalnya saat membuang kulit pisang sembarangan atau mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan. Dari situ ia sadar ada tanggung jawab yang belum diselesaikan dan berusaha memperbaikinya,” jelas Setia.

Inspirasi film ini datang dari fenomena sederhana yang dekat dengan masyarakat. Para mahasiswa ingin menekankan bahwa bahkan seseorang yang dihormati sekalipun tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

“Kami melihat figur yang diagungkan pun memiliki sisi rapuh. Sejak kecil kita diajarkan untuk menghargai orang lain dan memberi manfaat bagi lingkungan. Dari situlah lahir gagasan bahwa seorang ulama pun perlu belajar dari kesalahan. Mereka bukan makhluk sempurna,” lanjutnya.

Pemilihan judul “Bapak Ini Harus Remidi!” pun memiliki makna filosofis. Kata Bapak merepresentasikan sosok yang dihormati di masyarakat, sedangkan Remidi melambangkan proses belajar dari kesalahan.

“Seperti ketika sekolah, jika nilai belum memenuhi standar kita harus mengikuti remidi. Begitu juga seorang tokoh terhormat, ia tetap harus mau belajar dari kesalahan meskipun berada di posisi tinggi,” tambah Setia.

Film pendek ini diproduksi selama kurang lebih lima bulan. Tantangan terbesar dirasakan pada tahap penulisan dan riset cerita. Mengangkat tema time looping menuntut ketelitian agar alur tetap jelas dan tidak membingungkan penonton.

Meski begitu, Setia menekankan bahwa lebih dari sekadar prestasi, film ini membawa pesan moral yang relevan dengan kehidupan sosial.

“Pesan kami sederhana: ketika sudah berada di posisi tinggi, jangan lupa peduli dengan lingkungan sekitar. Kalau berbuat salah, jangan menutup mata, tapi bertanggung jawablah, karena kita tetap manusia biasa,” pungkasnya. (NF)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengawali proses pen....

Suara Muhammadiyah

25 October 2023

Berita

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah Daerah Istimewa....

Suara Muhammadiyah

18 September 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai upaya menghidupkan bulan Ramadhan, Suara Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

7 March 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) resmi melepas 108 mahasisw....

Suara Muhammadiyah

12 January 2026

Berita

LEBAK, Suara Muhammadiyah – Edu Forest Berkemajuan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhamamdiyah be....

Suara Muhammadiyah

25 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah