Film Pendek ‘Bapak Ini Harus Remidi!’ Karya Mahasiswa UMY Raih Prestasi Nasional

Publish

13 September 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
770
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mengharumkan nama kampus melalui dunia perfilman. Karya film pendek berjudul “Bapak Ini Harus Remidi!” berhasil masuk 30 besar ajang KlikFilm Short Movie Competition 2025 by Jakarta World Cinema (JWC), sebuah kompetisi bergengsi yang mempertemukan sineas muda dari berbagai kampus di Indonesia.

Setia Wulan Asri selaku penulis naskah (script writer) menjelaskan bahwa film ini mengisahkan sosok Muslim, seorang pemuka agama berusia 44 tahun, yang terjebak dalam lingkaran waktu (time looping). Dalam setiap pengulangan, ia selalu gagal melakukan hal-hal sederhana yang berujung pada kegagalannya mengejar penerbangan ke bandara.

“Konflik yang dialami Muslim adalah keinginannya mengejar pesawat, tapi selalu terhambat oleh kesalahan kecil yang ia remehkan. Misalnya saat membuang kulit pisang sembarangan atau mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan. Dari situ ia sadar ada tanggung jawab yang belum diselesaikan dan berusaha memperbaikinya,” jelas Setia.

Inspirasi film ini datang dari fenomena sederhana yang dekat dengan masyarakat. Para mahasiswa ingin menekankan bahwa bahkan seseorang yang dihormati sekalipun tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

“Kami melihat figur yang diagungkan pun memiliki sisi rapuh. Sejak kecil kita diajarkan untuk menghargai orang lain dan memberi manfaat bagi lingkungan. Dari situlah lahir gagasan bahwa seorang ulama pun perlu belajar dari kesalahan. Mereka bukan makhluk sempurna,” lanjutnya.

Pemilihan judul “Bapak Ini Harus Remidi!” pun memiliki makna filosofis. Kata Bapak merepresentasikan sosok yang dihormati di masyarakat, sedangkan Remidi melambangkan proses belajar dari kesalahan.

“Seperti ketika sekolah, jika nilai belum memenuhi standar kita harus mengikuti remidi. Begitu juga seorang tokoh terhormat, ia tetap harus mau belajar dari kesalahan meskipun berada di posisi tinggi,” tambah Setia.

Film pendek ini diproduksi selama kurang lebih lima bulan. Tantangan terbesar dirasakan pada tahap penulisan dan riset cerita. Mengangkat tema time looping menuntut ketelitian agar alur tetap jelas dan tidak membingungkan penonton.

Meski begitu, Setia menekankan bahwa lebih dari sekadar prestasi, film ini membawa pesan moral yang relevan dengan kehidupan sosial.

“Pesan kami sederhana: ketika sudah berada di posisi tinggi, jangan lupa peduli dengan lingkungan sekitar. Kalau berbuat salah, jangan menutup mata, tapi bertanggung jawablah, karena kita tetap manusia biasa,” pungkasnya. (NF)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Muhammadiyah Al Firdaus Ngabeyan K....

Suara Muhammadiyah

14 December 2024

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - ​Tapak Suci Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tahfidzul Qur&rsqu....

Suara Muhammadiyah

29 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menginstruksik....

Suara Muhammadiyah

11 December 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah– Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Berita

PALOPO, Suara Muhammadiyah - Resepsi Milad 113 Muhammadiyah tingkat Sulawesi Selatan yang dipusatkan....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah