Generasi Emas Perlu Ditopang dengan Akhlak dan Ekonomi yang Kuat

Publish

29 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1162
Agus Taufiqurrahman

Agus Taufiqurrahman

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Generasi Emas telah menjadi diskursus dalam beberapa tahun terakhir. Generasi ini dikategorisasikan sebagai generasi masa depan penentu peradaban.

"Orang menyebut generasi emas, sejarah emas, periode emas, adalah periode terbaik dari fese kehidupan. Generasi emas Indonesia ingin membentuk periode terbaiknya Indonesia," kata Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat Kajian Itikaf Angkatan Muda Muhammadiyah Piyungan, Jumat (29/3) di Masjid Al-Istighfar Mendungan, Srimartani, Piyungan, Bantul.

Agus mengatakan bahwa generasi emas adalah hasil dari perjuangan umat Islam dalam membentuk masa depan yang lebih baik. "Kalau istilah zaman dulu masa kejayaan," ucapnya.

Jika dilongok hari ini, generasi emas umat Islam, belum menunjukkan tanda-tanda menuju ke arah tersebut. Agus melihat ada kecenderungan generasi menjauh dari radar Islam, terutama pada dimensi akhlak (budi pekerti).

"Islam yang ajarannya luhur tidak diikuti oleh pengikutnya yang mengaku Islam. Bahkan cara hidupnya sering jauh dari Islam. Kecermelangan Islam tertupi oleh perilaku umat Islam yang jauh dari agama Islam," tegasnya.

Salah satu hal krusial dalam Islam adalah menerapkan kebersihan. Namun, belum banyak umat Islam yang mengaplikasikan dimensi tersebut ke dalam kehidupan. Padahal, dimensi ini sangat ditekankan, yang menjadi karakteristik orang beriman.

"Islam itu mengajarkan dan menjaga kebersihan jiwa maupun fisik. Itu ciri khasnya orang beriman. Tapi kenapa banyak umat Islam banyak yang kumuh?", bebernya.

Selain faktor tersebut, hal yang paling mendasar umat Islam belum dapat disebut generasi emas, karena, sambung Agus, belum kuat secara perekonomian. Menukil pandangan Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12, menyebut bahwa dari 100 orang kaya atau pengusaha sukses di Indonesia, mayoritas adalah mereka adalah non-muslim, yang beragama Islam tidak lebih dari 10 orang.

Sebaliknya, jika dikumpulkan 100 orang miskin, maka yang 90 adalah orang muslim, dan selebihnya adalah dari yang lain. Di sini terjadi kesalahpahaman dalam memaknai agama Islam secara komprehensif.

"Kalau Islamnya yang benar, harusnya etos kerjanya hebat, semangatnya kerjanya bagus, ghirah mencari rezeki baik, sadar mencari rezeki itu ibadah, maka harusnya umat Islam maju tidak tertinggal. Inilah kondisi yang saya sebut awal tadi, masa kejayaannya belum kita raih," ungkapnya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAUMERE, Suara Muhammadiyah - Prestasi gemilang kembali mengharumkan nama Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

24 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kegiatan dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)....

Suara Muhammadiyah

17 February 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Ratusan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung men....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah  — Dalam rangka memperkuat pembinaan keislaman dan menumb....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mela....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah