Gerakan Bersepeda di tengah Krisis Energi: Antara Anomali dan Revolusi Paradigma
Oleh: Miqdam A. Hashri, Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah, Pegiat Sepeda
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah saat ini belum menunjukkan adanya gejala mereda. Kondisi tersebut berimbas pada pasokan minyak sehingga berakibat pada lonjakan harga minyak dunia. Beberapa negara telah merespons dengan cara membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Di tingkat lokal, antrean SPBU mengular disebabkan kepanikan terbatasnya stok BBM. Fenomena ini muncul dari situasi global yang akhirnya berdampak pada lingkup lokal.
Kenaikan harga minyak dunia berimbas hingga tingkat rumah tangga. Paradigma mobilitas yang saat ini masih berorientasi pada kendaraan berbahan bakar fosil, tentu akan terdampak. Beberapa negara merespon dengan penggunaan sepeda untuk beraktivitas harian. Dalam konteks lokal, beberapa kepala daerah di Indonesia juga melakukan imbauan bahkan memberikan contoh kepada ASN dan masyarakat untuk bersepeda ke kantor.
Meskipun demikian, aktivitas bersepeda sebetulnya telah digalakkan oleh sebagian masyarakat melalui komunitas-komunitas sepeda, yang aktif mengampanyekan budaya bersepeda sekaligus mengadvokasi kebijakan untuk hak-hak pesepeda di jalan raya. Semua itu merupakan bagian dari upaya untuk menguatkan budaya bersepeda di tengah masyarakat.
Fenomena ini bisa dibaca menggunakan pendekatan pergeseran paradigma yang dipopulerkan oleh Thomas Kuhn. Paradigma mobilitas yang berorientasi bahan bakar fosil diasumsikan sebagai normal science yang kemudian mengalami anomali melalui fenomena kelangkaan minyak dunia. Namun, setiap anomali tidak selalu berujung pada revolusi dan pergeseran paradigma jika tidak dikelola dengan baik.
Terbatasnya pasokan minyak dunia akibat ditutupnya Selat Hormuz merupakan suatu anomali, yaitu sebuah fakta yang tidak bisa lagi dijelaskan oleh tatanan lama. Sistem mobilitas yang selama puluhan tahun berjalan di atas asumsi bahwa bahan bakar selalu tersedia dan dapat dijangkau, kini berhadapan dengan kenyataan yang berbeda. Menurut sumber berita, beberapa negara di ASEAN meminta pegawai pemerintah beralih ke sistem kerja jarak jauh, termasuk mendorong penggunaan bahan bakar nabati, dan bahkan mengurangi hari sekolah menjadi tiga hari seminggu. Fenomena itu adalah sebagian dari bukti bahwa normal science mulai goyah. Namun anomali belum dengan sendirinya dapat melahirkan revolusi paradigma. Dibutuhkan komunitas masyarakat yang cukup tangguh untuk mendorong pergeseran itu menjadi nyata.
Dalam situasi semacam ini, perlu pembacaan momentum yang lebih cermat. Sejumlah kepala daerah di Indonesia serempak mengampanyekan gerakan bersepeda ke kantor, bukan sekadar rutinitas olahraga, melainkan pesan kuat mengenai efisiensi energi dan transisi gaya hidup. Namun pergeseran paradigma tidak datang dari tekanan eksternal semata. Ia membutuhkan komunitas yang secara sadar memilih paradigma baru dan mempraktikkannya secara konsisten, termasuk ketika tekanan itu mereda.
Ada tiga lapisan yang perlu didorong secara bersamaan. Pertama, pada level makro melalui advokasi kebijakan yang lebih intensif. Beberapa pemerintah daerah telah menerbitkan surat edaran resmi yang mengatur kewajiban bersepeda bagi ASN berdasarkan jarak tempuh ke kantor. Komunitas sepeda memiliki pengetahuan lapangan yang tidak dimiliki birokrat. Mereka paham di mana ruas jalan yang berbahaya, di mana ruang parkir sepeda yang tidak memadai, dan bagaimana sistem mobilitas aktif bisa diintegrasikan ke dalam tata kota. Dialog antara komunitas dengan pejabat yang berwenang harus berproses untuk mengkonstruksi paradigma baru dalam menguatkan budaya bersepeda. Pemerintah daerah perlu membuka ruang dialog dan mau mendengar hak-hak pesepeda, bukan hanya menerima masukan secara prosedural.
Kedua, pada level meso melalui organisasi pengelola zakat (OPZ) memiliki peluang strategis yang belum banyak dibicarakan. Kelompok mustahik yang menggantungkan penghidupan pada sepeda, seperti tukang jamu keliling, pedagang sayur, montir bengkel sepeda; merupakan pihak yang paling rentan terdampak sekaligus paling organik dalam ekosistem budaya bersepeda. Prioritas penyaluran zakat produktif kepada mereka sejalan dengan konsep green zakat, yaitu pendekatan pengelolaan zakat yang mempertimbangkan dampak ekologis dari ekosistem zakat itu sendiri. Ketika mustahik yang bersepeda diperkuat, roda ekonomi sepeda berputar dari lapisan yang paling bawah dan paling autentik.
Ketiga, pada level mikro melalui perubahan perilaku yang tidak bisa hanya mengandalkan instruksi kebijakan. Keteladanan seorang pemimpin yang mengayuh sepeda menuju kantor menegaskan bahwa kebijakan tidak cukup disampaikan, melainkan harus dimulai dari contoh nyata. Logika keteladanan ini adalah inti dari pendekatan dakwah. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, pendekatan dakwah komunitas yang inklusif memiliki daya jangkau yang luar biasa. Ketika para dai dan tokoh agama tidak hanya berbicara tentang menjaga bumi sebagai amanah dari atas mimbar, tetapi juga menunjukkannya dengan teladan di atas sadel, pesan tersebut akan lebih mengena bagi jamaah. Krisis energi dan krisis iklim adalah dua sisi dari satu persoalan yang sama, dan agama memiliki bahasa moral yang paling kuat untuk menggerakkan perubahan perilaku kolektif.
Namun sejarah juga mencatat bahwa tidak semua anomali berakhir dengan revolusi paradigma. Pandemi Covid-19 pernah memaksa dunia menurunkan emisi karbon dan booming orang bersepeda. Ketika tekanan itu berlalu, kendaraan bermotor kembali mendominasi seperti sediakala. Pola yang sama bisa terulang jika krisis energi akibat perang saat ini, hanya direspon sebagai gangguan teknis, bukan sebagai momentum serius untuk berpindah ke gaya hidup yang sungguh-sungguh berubah.
Apakah fenomena ini akan berkembang menjadi pergeseran paradigma mobilitas, atau hanya menjadi respons sementara yang akan dilupakan seperti saat pandemi Covid-19. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana momentum ini dikelola. Perlu menjadi perhatian yang serius bagi pemangku kebijakan, para pemerhati lingkungan dan budaya, pegiat sepeda, penggerak dakwah, sekaligus dan organisasi pengelola zakat; karena pergeseran paradigma tidak lahir dari krisis semata, melainkan dari kesadaran kolektif yang terus dirawat jauh setelah krisis itu sendiri berlalu; dalam rangka menjaga kelestarian alam sebagai amanah dari Allah SWT.
Wallahua'lam
