Kelola Negosiasi Bisnis dengan Efektif Menerapkan Bahasa Indonesia
Penulis: Abdul Latif, Dosen UHAMKA
Konsep Negosiasi dan Peran Bahasa Indonesia dalam Bisnis
Negosiasi merupakan satu aktivitas komunikasi strategis yang tidak terpisah dari dunia bisnis memiliki tujuan mencapai kesepakatan bersama antara dua pihak atau lebih. Dapat dikatakan negosiasi melibatkan paling sedikit dua belah pihak yang memiliki pemikiran, kebutuhan serta harapan yang berbeda kemudian kedua belah pihak memilih untuk menyelaraskan hal tersebut agar menjadi satu tujuan yang disepakati demi menggapai tujuan bersama (Sumartik dkk, 2022). Pada praktiknya, pada negosiasi memuat penawaran yang berbeda namun tetap dengan tujuan yang sama (McCormark, 1995).
Proses negosiasi melibatkan kemampuan komunikasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Pada konteks Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam menentukan efektivitas proses negosiasi bisnis. Lebih lanjut, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang berfungsi sebagai alat pemersatu dalam interaksi bisnis yang melibatkan pelaku dari latar belakang budaya, daerah, dan sosial yang beragam.
Penggunaan bahasa Indonesia memungkinkan mendukung kesamaan pemahaman sehingga meminimalisir kesalahpahaman dalam proses negosiasi. Kejelasan bahasa menjadi faktor utama dalam menyampaikan penawaran, persyaratan serta batasan yang disepakati bersama. Sebagaimana hasil penelitian (Azizah dkk, 2025) yang menyatakan bahwa penggunaan bahasa formal yang baik dan tepat sangat krusial dalam membangun hubungan bisnis yang kuat dan mencapai hasil negosiasi yang optimal.
Strategi Komunikasi dan Konteks Budaya dalam Negosiasi Bisnis
Penggunaan bahasa Indonesia formal yang baik dan tepat menjadi aspek penting dalam membangun hubungan bisnis yang kuat. Dalam negosiasi, bahasa yang dipakai harus menciptakan suasana saling percaya dan menghargai antara kedua belah pihak. Selanjutnya, strategi komunikasi yang efektif dalam negosiasi bisnis bertujuan mencapai kesepatan yang diinginkan. Beberapa srategi yang dapat dilakukan, seperti mendengar dengan aktif, penggunaan bahasa yang sederhana, dan kemampuan untuk berempati, dapat meningkatkan peluang untuk mencapai kesepakatan.
Mendengar aktif memungkinkan negosiator menangkap nuansa dan kebutuhan yang mungkin tidak diungkapkan secara eksplisit. Dengan menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap pandangan tersebut, negosiator dapat menciptakan suasana yang positif dan produktif. Tangtangan yang biasa muncul yaitu penggunaan istilah teknis dan jargon yang tidak dipahami oleh semua pihak. Hal tersebut dapat menghambat proses negosiasi maka dari itu pemahaman untuk mendalami konteks dan audiens sangat penting.
Fleksibiltas berbahasa pun dibutuhkan sesuai situasi dan kondisi agar membantu negosiator siap menghadapi keragaman yang ada. Mengelola negosiasi dalam hal ini merujuk kepada bagaimana cara mengelola negosiasi antar budaya. Negosiator dapat menentukan tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam bekerjasama melalui peranan budaya
Selain aspek kebahasaan, pemahaman dalam penggunaan bahasa Indonesia semakin lengkap jika negosiator memperhatikan konteks budaya. Hal tersebut perlu diperhatikan agar penyesuaian bahasa dapat diterapkan untuk menghargai perbedaan budaya sehingga proses komunikasi berjalan efektif. Misalnya, ada beberapa budaya yang membutuhkan penggunaan bahasa yang formal dan sopan, sementara beberapa budaya lainnya membutuhkan pendekatan lebih santai agar dapat diterima.
Budaya menjadi satu faktor penting bagi keberhasilan negosiasi bisnis (Brett, 2000). Pemahaman terhadap nilai-nilai budaya mitra bisnis tidak hanya membantu mencapai kesepakatan jangka pendek, tetapi berkontribusi terhadap keberlanjutan hubungan bisnis jangka panjang. Oleh karena itu, persiapan yang matang sebelum negosiasi dari aspek bahasa dan budaya menjadi hal yang mutlak diperhatikan.
Memahami karakter dari aspek bahasa dan budaya masing-masing dapat memaksimalkan hasil dari negosiasi. Karena dengan saling memahami itu sangat mempengaruhi faktor keberhasilan suatu proses negosiasi yang akan dijalankan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Oleh karena itu, sebelum melakukan sesuatu terutama dalam dunia bisnis, harus dipersiapkan segala apa yang diperlukan. Karena dunia bisnis itu sangat luas cakupannya, dan semua orang bisa melakukannya sehingga persaingan bisnis semakin pesat. Kalau tidak dipersiapkan secara matang maka tidak akan menemui yang namanya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama (Ghauri, 1996).
Jenis dan Pengelolaan Negosiasi Bisnis
Pada praktik negosiasi bisnis dikenal beberapa jenis negosiasi, antara lain Distribution Negotiation (Negosiasi distributif) dan Integrative Negotiation (Negosiasi integratif). Negosiasi distributive merupakan negosiasi yang terjadi apabila keedua belah pihak dengan tujuan yang berlawanan bersaing atas sekelelompok nilai. Misalnya dalam dunia pasaran atau dunia jual beli. Tujuan pembeli membeli dagangan dengan mendapatkan harga yang murah dari harga asli barang yang dijual untuk mendapatkan nilai yang lebih atas uangnya. Sedangkan penjual dengan menjual dagangan adalah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk memkasimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian. Negosiasi integrative merupakan negosiasi yang melibatkan kerjasama antara dua orang atau lebih untuk menyatukan pemikiran, menciptakan nilai serta berinvestasi pada kesepakatan bersama.
Pengelolaan negosiasi bisnis yang efektif menuntut persiapan yang sistematis, termasuk kesiapan dokumen, data pendukung, serta perencanaan strategis komunikasi. Secara idealis, proses negosiasi berlangsung dua arah dengan memberi ruang seimbang bagi setiap pihak untuk menyampaikan pandangan dan kepentingannya. Dominasi satu pihak berpotensi memicu konflik dan merusak hubungan kerjasama.
Dengan demikian, pengelolaan negosiasi bisnis sangat membutuhkan penerapan bahasa Indonesia yang efektif sebagai fondasi penting membangun hubungan bisnis yang profesional, etis dan berkelanjutan. Ditambah tentang pemahaman kontek budaya yang akan menghantarkan negosiator dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan situasi dan kondisi untuk mencapai kesepakatan bersama.

