YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Selepas Sholat Magrib dan dilanjutkan dengan Sholat Gerhana Bulan, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sayuti, mengajak umat Islam untuk memperkuat rasa syukur dan membangun peradaban maju dalam khutbahnya di Masjid Islamic Center UAD, Selasa malam, 3 Maret 2026. Menyambut fenomena alam tersebut, Sayuti menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan momentum refleksi spiritual dan intelektual umat.
Mengawali khutbahnya, Sayuti menekankan pentingnya rasa syukur sebagai fondasi kehidupan beragama. Ia mengutip pesan Ilahi bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan yang kufur terhadap nikmat akan menghadapi siksa yang pedih. Menurutnya, syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, melainkan diwujudkan dalam kerja-kerja nyata membangun kemajuan.
“Malam hari ini istimewa. Karena malam ini ada gerhana bulan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa gerhana bulan selalu terjadi pada malam hari dan merupakan fenomena alam yang dapat dihitung secara ilmiah. Ia juga menyinggung gerhana matahari terakhir yang terjadi pada 2017 dan diperkirakan akan kembali terjadi pada 2042 mendatang. Kepastian ilmiah tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan berkembang pesat dan mampu memprediksi peristiwa kosmik secara presisi.
Dalam konteks itu, Sayuti menyoroti ironi yang masih terjadi di tengah umat Islam, khususnya terkait perdebatan penentuan awal bulan, terutama Ramadan dan Syawal. Ia menilai, perbedaan yang berulang setiap tahun menunjukkan bahwa umat masih tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan sistem kalender yang terintegrasi.
Sebagai solusi, Muhammadiyah menghadirkan Muhammadiyah melalui gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Ikhtiar ini, kata Sayuti, bertujuan menghadirkan sistem penanggalan Islam yang bersifat tunggal dan berlaku secara global, sehingga umat tidak lagi terpecah dalam menentukan hari-hari besar keagamaan.
Ia menekankan bahwa penerbitan KHGT bukanlah upaya instan, melainkan hasil pemikiran panjang yang memerlukan dukungan luas dari berbagai kalangan. “Ini membutuhkan dukungan yang luar biasa dari semua pihak,” tegasnya.
Dengan adanya sistem penanggalan global yang terintegrasi, diharapkan umat Islam dapat melampaui sekat-sekat geografis dan mazhab dalam persoalan waktu ibadah.
Sayuti kemudian mengajak jamaah menengok perkembangan dunia. Ia mencontohkan bangsa-bangsa maju yang telah mampu menembus batas angkasa. Negara-negara Eropa telah mengirim manusia ke bulan, China membangun panel surya di bulan. Perkembangan itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan kekuatan ekonomi menjadi kunci kemajuan peradaban.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua sistem penanggalan dari sekian banyak penanggalan yang ada di seluruh dunia,” jelasnya. Karena itu, fenomena gerhana seharusnya tidak berhenti pada kekaguman sesaat, melainkan mendorong lahirnya kesadaran baru: bagaimana umat mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Menurut Sayuti, jalan untuk keluar dari keterbelakangan adalah dengan terus belajar. Umat Islam, katanya, harus memperkuat literasi sains dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual. Tradisi ijtihad dan pembaruan yang selama ini diwariskan harus terus dihidupkan agar Islam tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Selain aspek ilmu pengetahuan, ia juga menyoroti pentingnya pembangunan kekuatan ekonomi umat secara progresif. Tanpa kemandirian ekonomi, sulit bagi umat untuk bersaing dalam percaturan global. Oleh karena itu, gerhana bulan malam itu menjadi pengingat bahwa kebesaran Allah di langit harus diiringi dengan kesungguhan kerja di bumi.
Menutup khutbahnya, Sayuti mengajak umat Islam menjadikan gerhana sebagai momentum muhasabah sekaligus motivasi. Bersyukur, belajar, dan bersatu dalam sistem yang kokoh, serta membangun ekonomi yang kuat. Agar umat ini mampu bangkit dan berkontribusi bagi peradaban. (diko)

