YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Nilai gotong royong dinilai tidak hanya relevan dalam konteks sosial Indonesia, tetapi juga memiliki peran strategis dalam pengembangan teknologi dan bisnis berkelanjutan di kawasan ASEAN. Hal tersebut mengemuka dalam seminar kolaborasi yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui American Corner bersama Kedutaan Besar Amerika Serikat, Selasa petang (10/2).
Mengusung tema “Advancing Technology Innovation, Sustainable Business, and Digitalization in the ASEAN Region: Gotong Royong from the U.S. Perspective”, seminar yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut menjadi ruang dialog internasional yang membahas tantangan serta peluang transformasi digital dan pengembangan ekonomi berkelanjutan di Asia Tenggara.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen UMY dalam memperkuat kerja sama global yang relevan dengan kebutuhan kawasan, khususnya dalam mendorong inovasi teknologi yang berpijak pada nilai kolaborasi dan keberlanjutan.
Sebagai pembicara, Regional Public Engagement Specialist Kedutaan Besar Amerika Serikat, Anup Mahajan, menyoroti posisi strategis ASEAN dalam peta ekonomi global, terutama dalam pengembangan inovasi berbasis teknologi. Menurutnya, percepatan digitalisasi harus diiringi dengan model bisnis yang berkelanjutan dan inklusif.
“ASEAN merupakan salah satu kawasan paling dinamis di dunia. Inovasi teknologi dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan jika didukung oleh kolaborasi dan nilai berbagi,” ujar Anup.
Ia menambahkan bahwa konsep gotong royong sejalan dengan pendekatan kolaboratif yang semakin dibutuhkan dalam ekosistem inovasi global. Kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi digital yang berdampak luas.

