Haedar Nashir: Banyak Orang Berebut Menjadi Penentu Kehidupan, Bukan Pemersatu Kehidupan

Suara Muhammadiyah

11 July 2025

1281
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan beberapa hal yang harus hidup dan kita hidupkan dalam membangun Indonesia ke depan.

Pertama, Komitmen, integritas dan penghidmatan yang tinggi yang telah ditunjukkan oleh para pejuang bangsa baik dalam perang kemerdekaan maupun perjuangan di berbagai bidang sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Haedar menyinggung figur Panglima Besar Jenderal Soedirman, tokoh yang berasal dari kalangan Muhammadiyah, sebagai teladan pengabdian dan komitmen luhur.

“Jenderal Soedirman menjadi contoh ideal yang membumi tentang integritas dan pengabdian. Dalam usia muda, beliau menunjukkan kepemimpinan luar biasa dalam Perang Gerilya. Itulah teladan untuk generasi muda hari ini,” jelasnya saat menerima penghargaan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) pada Kamis (10/7) di Jakarta.

Yang kedua, bagaimana kita sekarang menanamkan dan menjadikan nilai-nilai keindonesiaan tetap hidup dalam mengurus negara dan berbangsa bernegara.

Haedar menyatakan bahwa pewarisan nilai-nilai Pancasila tidak boleh sekadar simbolik, tetapi harus terwujud nyata dalam tindakan.

“Warisan nilai itu mahal. Kita harus hidupkan dalam praksis sehari-hari, dipadukan dengan nilai agama dan budaya luhur bangsa,” tambahnya.

Ketiga, Haedar menyerukan agar masa depan Indonesia dirancang dengan menggabungkan kemajuan intelektual dan teknologi (IPTEK) dengan kekayaan nilai-nilai luhur. Menurutnya, bangsa Indonesia harus menghindari dua ekstrem: kehilangan nilai karena mengejar kemajuan, atau stagnan karena hanya menjaga tradisi.

“Perpaduan antara kemajuan dan nilai adalah kepentingan bersama agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain,” tuturnya.

Haedar juga menuturkan, karena lemahnya penghayatan akan nilai kejuangan maka tidak sedikit genarasi elit bangsa saat ini saling berebut pengaruh dan kuasa.

Kekuasaan, lanjut Haedar, berlebih minim penghayatan nilai Pancasila, agama, dan kebudayaan bangsa. Kehidupan pun sering retak karena politik saling rebut kuasa itu. Masyarakat menjadi pecah karena politik.

“Jadi, tidak heran bila sekarang ada gejala, banyak orang berebut menjadi penentu kehidupan, tidak banyak berebut menjadi pemersatu kehidupan,” tutup Haedar.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Tim Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dan Promosi Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

26 May 2025

Berita

Purwokerto, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) AK Anshori P....

Suara Muhammadiyah

6 October 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pelatihan Tim Medis Kedaruratan dan Bencana Internasional (Emergenc....

Suara Muhammadiyah

30 September 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Datuk Ts. Mustapha Sakmud, m....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui pendidikan dan dakwa....

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah